
Kalau mengharapkan yang bucin romance, Anda salah baca novel. Ini novel ACTION ROMANCE ya... please be smart reader, BUKAN KONFLIK tapi GENRE ACTION. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
"Kita kembali ke bawah, aku takut mereka menangis nanti" ucap Angel menghentikan suaminya.
"Sekali saja" memelas Brandon dalam wajah memohon.
"Saat seperti ini bagaimana bisa kamu memikirkan hal itu? benar benar sulit dipercaya" sahut Angel menggelengkan kepala.
"Ya karena aku normal! apa kamu lebih suka aku tidak normal?! jelas saja aku menginginkannya setelah mencium mu!" kesal Brandon mengernyitkan dahi.
"Kamu sendiri yang menciumiku, sudah aku mau melihat anak anak dulu" sahut Angel beranjak untuk meninggalkan suaminya.
Menarik secepat mungkin istri hendak pergi meninggalkan dirinya, Brandon membawa Angel kedalam kamar mandi yang tak memiliki jendela dan di rasa aman. Menyalurkan apa yang diinginkan walau dalam suasana tegang, Brandon tak bisa mengendalikan hasratnya.
Dalam waktu yang sama, Pieter yang tengah kesusahan memberi penjelasan pada Alexa juga melakukan hal sama. Kedua sahabat yang tak bisa mengendalikan diri di dekat istrinya, sama sama menyalurkan keinginan di tempat berbeda.
Sebuah ruangan khusus memliki ranjang juga tatanan buku sebagai pintu, menjadi saksi antara Alexa dan Pieter menikmati kehangatan bersama dalam kemelut yang masih menghantui.
Beberapa waktu berlalu dan hanya melakukan sekali saja, Brandon sudah keluar bersama Angel dengan rambut basah karena langsung menyegarkan diri bersama.
Tampak kikuk dengan rambut panjangnya yang basah, Angel menundukkan wajah malu di hadapan Olivia yang malah menyeringai mengerti. Tanpa perlu dijelaskan, Olivia tahu apa yang telah terjadi di antar kedua orang yang langsung duduk menunggu Pieter dan Alexa keluar.
"Antarkan Maya beristirahat di ruangan ku!" perintah Brandon pada pengawalnya.
"Baik, Tuan" sahut tegas pria tinggi tegap di balik tempat Brandon duduk.
"Saya permisi dulu" pamit Olivia, mencium putri dan menantunya bergantian.
"Iya Maya, jangan matikan ponsel dan tetap letakkan di dekatmu" sahut Brandon, dijawab anggukan kepala juga senyum mertuanya.
Menggendong Dio yang sudah tertidur pulas di pangkuannya tadi, Olivia memasuki sebuah ruangan tampak seperti dinding biasa. Terpukau melihat isi ruangan besar nan mewah di dalam, Olivia hampir tak mengedipkan mata.
Terdapat sebuah meja kerja di dalam, lengkap dengan ranjang besar cukup untuk dirinya dan kedua anak yang ikut bersamanya. Bahkan masih cukup luas untuk Angel nanti.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika banyak sekali ruang rahasia di rumah ini" batin Olivia, mengamati setiap sudut ruangan amat luas berwarna putih.
Sengaja membangun rumah dengan banyak tempat rahasia, Brandon berharap jika sesuatu terjadi akan bisa menyembunyikan kedua anak juga istrinya demi keselamatan mereka.
Duduk bersama menunggu hingga Pieter dan Alexa keluar, Brandon mengambil putranya untuk di gendong. Mengamati wajah lelap bayi mungil begitu dicintai, Brandon tak bisa membayangkan jika tadi terjadi sesuatu pada mereka ataupun istrinya.
"Diam terus? masih kurang? mau lagi?" tanya Brandon beruntun melirik ke arah perempuan terus diam duduk di sampingnya.
"Jangan bicara lagi, aku sangat kesal sekarang!" jengkel Angel, malah dibalas senyum laki laki dengan rambut basah terarah ke belakang.
Sedikit memaksa melakukan hubungan di dalam kamar mandi dalam kondisi cemas istrinya, Brandon malah tersenyum mengingat. Terasa lucu ketika istrinya menikmati sembari mengumpat pada dirinya tadi.
Tidak lama Peter keluar bersama Alexa dengan kondisi sama seperti dirinya juga Angel. Tersenyum mengerti akan apa yang telah terjadi, Brandon semakin lebar mengembangkan senyumnya.
"Kau menjelaskan apa membunuh adikku sampai basah seperti itu?" goda Brandon pada lelaki tengah menggandeng istrinya untuk duduk.
"Menjelaskan dengan jantan" tersenyum Pieter memainkan alis naik turun.
"Dasar gila" sahut Brandon menggelengkan kepala.
"Baik, Tuan" sahut keduanya bersamaan.
Sudah memerintahkan orang untuk memindahkan boks bayi kedalam ruangan sama dengan Olivia beserta barang barang putranya, Brandon ingin kedua anaknya merasa nyaman.
Dering ponsel pada saku celana Pieter, segera ia angkat. Panggilan dari Darrell yang kini tengah memantau Jackson bersama Viena juga beberapa anak buah Brandon lainnya, mengabarkan jika Jackson hendak pergi menggunakan jet pribadi malam ini.
"Tahan dia! apapun yang terjadi jangan sampai dia lolos kali ini!" sahut Brandon sudah meraih ponsel yang segera di berikan oleh Pieter padanya.
"Baik, Tuan. Kami sedang mengikuti di belakang" sahut Darell.
"Kami segera ke sana, kirim lokasimu sekarang!" perintah Brandon tegas.
"Baik, Tuan" sahut kembali Darell.
__ADS_1
Meminta Viena yang duduk di sampingnya untuk mengirimkan lokasi, darell tetap menujukan pandangan pada mobil sedan hitam tengah membawa Jackson, Sonya dan Kenan di dalam.
Pengawalan sangat ketat mengiringi mobil, bukan pengaruh besar untuk Darell yang mengikuti tanpa menyalakan lampu kendaraan. Meski harus memasang mata lebar lebar, Darell harus mencari posisi aman untuk mengikuti tanpa ketahuan bersama Viena.
"Hubungi Yudha untuk mengurus masalah disini!", perintah Brandon pada Pieter dan segera dilaksanakan.
"Kenapa harus pergi lagi?" sendu Angel bertanya, memegang paha suami duduk di samping dirinya.
"Kalau ini tidak aku habisi sampai akarnya, maka akan terus tumbuh dan mengganggu. Doakan saja agar aku bisa terus mendampingi dirimu juga anak anak" jawab Brandon, memegang tangan istrinya.
"Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka mendengarnya! kalau sesuatu terjadi padamu maka aku akan langsung pergi dan menikah dengan pria lain!" kesal Angel menjawab, menyeringai Brandon mendengar.
"Apa ada laki laki yang bisa memuaskan mu selain aku?", bisik Brandon menggoda.
"Aku sangat membencimu" sahut Angel memeluk suaminya.
"Jangan berpelukan dulu, tunggu suamiku selesai menelpon baru berpelukan!" protes Alexa, mendapat telapak tangan kakaknya langsung di wajah.
"Sudah berulang kali, masih saja kurang" sahut Brandon mendorong wajah Alexa menjauh dari balik tubuh istri masih dipeluknya.
"Sayang, aku mau dibunuh olehnya", mengadu Alexa manja pada lelaki sudah selesai menelpon dan berjalan ke arahnya.
"Aku tidak berani melawannya, jadi serahkan saja nyawamu percuma" sahut Pieter menggoda, duduk di samping istrinya.
"Menjengkelkan!" protes Alexa, melebarkan senyum Pieter langsung memeluknya.
Saling memeluk istri masing masing sebelum kembali menyerang, Brandon dan Pieter memberikan candaan pada istri mereka agar tak terlalu cemas.
Diam diam memerintahkan keamanan lebih di perketat pada rumahnya, Brandon harus pergi bersama Pieter saat ini juga.
Sniper yang tadi sempat ingin melenyapkan Angel atas perintah Sonya, sudah berhasil dibekuk. Memberikan informasi ketika memprediksi jarak tembak, Brandon memerintahkan anak buahnya segera menyergap.
Keakuratan Brandon dalam memprediksi jarak tembak, memang lebih dari sekedar kemampuan. Mempelajari segalanya lebih dalam, Brandon menguasai betul akan dunia senjata juga kekerasan yang bertahun tahun menghiasi hidupnya.
__ADS_1
JANGAN ASAL PERGI, LIKE DULU "GRATIS". Kalau bisa sih vote juga biar sekali kali masuk 10 besar gitu ya 😂😂😂