
Menyadari langkah suaminya di belakang, Angel mempercepat langkah menuju anak tangga dan diikuti Brandon yang juga melebarkan langkahnya. Begitu Brandon menapaki satu anak tangga, Angel melangkah ke samping kanan dan memutar tubuh berlari ke arah kamar tamu untuk menggunakan kamar mandi di sana.
Sempat terkejut melihat istrinya sangat cepat memutar badan dan berlari, Brandon meneriaki istrinya keras dan terdengar sampai seluruh rumah lantai tiga tersebut. Bergumam kesal dan menyusul ke arah kamar tamu, mencoba membuka pintu yang terkunci, Brandon menendang berulang pintu sudah terkunci rapat dari dalam.
"BUKA!" teriak Brandon terus menendang dan menekan gagang pintu berulang.
"Aku hitung sampai tiga, kalau sampai belum kamu buka maka aku hancurkan pintu ini!" ancam Brandon sangat kesal karena di kelabui istrinya.
Darell dan Pieter yang baru saja mempersiapkan alat untuk latihan, langsung berlari menghampiri usai mendengar teriakan Tuan muda mereka. Bahkan seluruh penghuni rumah pun terkejut dengan suara menggelegar Brandon, dan ingin menghampiri namun terhenti ketika Yulia memperingatkan agar tak ikut campur urusan pribadi Tuan mereka.
"Ada apa?! siapa yang masuk?! apa penyusup?!" tanya Pieter di balik tubuh laki laki masih terus mengumpat di depan pintu tertutup.
"Apa lagi?! adikmu yang gila itu kembali berulah!" kesal Brandon setengah berteriak.
"Dia mengunci pintu? biarkan saja, Alexa juga mengunci pintu untukku" santai Pieter di tatap Darell yang terkejut, dan di pelototi oleh Pieter agar tak bertanya.
"Itu karena kau pantas mendapatkannya! istri mana yang tidak terluka kalau suaminya bertanya seperti itu pada wanita lain! dasar bodoh!" jawab Brandon masih dengan nada kesal.
"Ada, Angel tidak terluka dan dia baik baik saja" santai kembali Pieter langsung ditatap terkejut tak percaya Brandon.
"Dia mengatakan itu?" bertanya dengan ekspresi tidak yakin, di balas anggukan Pieter.
"Hm, dia bilang buat apa aku cemburu dan sakit hati, biarkan saja dia mau menyukai siapapun" cerita Pieter berbohong untuk menggoda sahabatnya.
"Benarkah?" kembali Brandon berekspresi tidak yakin.
"Iya, sudahlah Angel memang tidak pernah mencintaimu. Dia hanya membalas hutang budi atas nyawa mama yang pernah kau selamatkan, jangan terlalu berharap karena dia masih membencimu karena malam itu" jelas Pieter tetap berbohong, menimbulkan pertanyaan di kepala Darell yang tak mengerti apapun.
__ADS_1
"Ah, aku benar benar seperti laki laki yang di campakkan sekarang. Setelah keperjakaanku kuberikan padanya, dan dia hanya membenciku" lemas Brandon menyandarkan punggung pada pintu.
Mendengar ucapan laki laki garang itu, Pieter menahan tawanya yang sangat ingin meledak. Sengaja ia mengatakan kebohongan karena tahu jika Brandon selalu kesal istrinya tak pernah cemburu, ataupun menunjukkan rasa takut kehilangan di hadapannya. Padahal tanpa Brandon tahu, Angel selalu memiliki rasa takut untuk kehilangan suaminya, dan selalu ingin memastikan jika suaminya selalu bernyawa. Darell terheran mendengar ucapan Tuannya, dan semakin mengembangkan banyak pertanyaan di kepala.
"Apa benar Tuan masih perjaka saat bersama Nyonya? dia tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya? dia benar benar luar biasa" batin Darell mengamati Tuannya yang berdiri bersandar tidak berdaya mendengar istrinya tak pernah mencintai dirinya dan hanya balas budi.
Tanpa malu menunjukkan ekspresi, Brandon lemas berjalan ke arah ruang tengah dan menghempaskan tubuh di sofa panjang. Pieter tersenyum memperhatikan, sedangkan Darell melirik ke arah Pieter curiga. Keduanya duduk di hadapan Brandon, menatap lelaki tampak murung dengan merebahkan diri di sofa. Tidak lama terbuka pintu kamar tamu dan hanya kepala Angel yang keluar untuk mengintip.
"Kenapa Angel? kamu cari siapa?" tegur Pieter pada Adiknya tengah mengintip.
"Brandon? dia tidak ada di sini" kembali Pieter berucap pada adiknya, di tatap malas oleh sahabatnya masih dengan Darell memperhatikan berekspresi tanya.
Angel menyeringai, lalu keluar dan menutup pintu perlahan. Ia pun berjalan melewati ruang tengah dan meminta dua pengasuh untuk membawa anak anak telah di mandikan itu ke dalam kamar tamu untuk memberikan ASI. Namun saat kembali, ia melihat suaminya merebahkan diri di sofa dan berteriak terkejut ditertawakan kakaknya.
"Dia kira aku hantu?!" kesal Brandon bergumam di sela tawa Pieter yang tak bisa di hentikan.
Tidak menjawab, laki laki tengah sakit hati karena ucapan sahabatnya itu memunggungi istrinya, dan menghadapkan wajah pada sandaran punggung sofa. Darell tidak berani tertawa melihat tingkah mengejutkan Tuan mudanya seperti anak kecil, sedangkan Pieter malah tidak bisa menghentikan tawanya sama sekali sampai keluar air mata.
"Aku sepertinya sedang bermimpi" batin Darell tidak mampu mempercayai apa yang telah ia lihat hari ini.
"Kakak, berhentilah tertawa atau Alexa akan memarahi mu lagi" ucap Angel ke arah laki laki terbahak sampai wajahnya berada di sandaran tangan sofa.
"Dasar gila!" gumam Brandon mendengar tawa sahabatnya.
"Hei, ada apa denganmu?" tegur Angel mencolek pundak suaminya, dan di hempaskan.
"Jangan menyentuhku!" tegas Brandon melepaskan kembali tawa Pieter berhasil mengerjai, dan di pukul lengannya oleh Darell.
__ADS_1
"Obatmu habis?!" tanya Darell ke arah Pieter terheran.
"Kau pikir aku gila?!" protes Pieter menghentikan tawa seketika.
"Siapa suruh kau tertawa seperti itu? bukan seperti dirimu" sahut Darell.
"Sudahlah, aku pergi dulu" pamit Angel, di toleh cepat Brandon memajukan bibir kesal.
"Berhenti tertawa! berlatih sekarang!' tegas Brandon melempar bantal sofa ke arah sahabatnya.
"Ada apa sebenarnya? mengapa mereka berdua terlihat aneh saat di rumah? aku hampir gila. Oh, sadarlah Darell ini hanya mimpi" batin Darell memejamkan mata dan menggelengkan kepala berulang kali, mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
Tidak pernah melihat Pieter dan Brandon seperti itu, Darell masih belum mampu mempercayai mata juga telinganya. Dengan wajah bodoh, ia keluar mengikuti Brandon untuk berlatih bersama. Pieter pun ikut di belakang Darell dengan perutnya yang kaku.
Keempat wanita yang harus menjaga kedua putra kesayangan Tuan mereka itupun ikut keluar berlatih. Tentunya setelah Ria dan Via memberikan kedua bayi mungil itu pada Nyonya mereka.
Diluar, Brandon melepas kaosnya bersama Pieter dan mulai pemanasan. Keempat wanita itu pun meletakkan pistol di paha mereka pada sebuah laci meja taman, dan ikut bergabung. Melepas kaos yang membalut, keempatnya hanya mengenakan tanktop dan celana pendek seperti biasa mereka latihan.
"Kenapa?" tegur Darell pada Pieter yang batuk batuk melihat keempat tubuh seksi mendekat.
"Aku benar benar akan mati di bunuh Alexa hari ini" batin Pieter menelan kasar salivanya.
"Kemarilah!" perintah Brandon mengayunkan jari telunjuk ke arah empat wanita berjalan ke arahnya.
"Lakukan pemanasan, dan berlatih denganku. Kalian bisa memukul bagian manapun selain wajah dan alat vital!" terang Brandon tegas.
"Apa dia sudah gila? aku berharap Angel dan Alexa tidak melihat ini" batin Pieter menoleh gelisah ke arah balkon dan berganti mengintip ke arah teras rumah.
__ADS_1