Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 112


__ADS_3

Pagi hari Alexa sudah jogging bersama Adiyaksa dan Brandon untuk berkeliling di sekitar villa, karena tak ingin terlalu jauh berlari.


" Apa Daddy berkencan dengan mertua ku? " tanya Brandon di sela lari pagi mereka bersama, sontak mengejutkan pria dalam balutan celana pendek nike abu muda di samping nya.


" Apa Kamu sudah tidak waras Brandon? "tanya kembali Adiyaksa tanpa menghentikan lari nya.


" Daddy, Aku akan laporkan Daddy pada Mommy biar Daddy di cincang oleh Mommy " sahut gadis dalam setelan leging sampai betis dan bomber hitam senada.


" Kalian benar benar anak konyol " jawab Adiyaksa tersenyum berlari meninggalkan kedua anaknya di belakang.


Gadis yang hanya menutup resleting bomber sampai bawah dada memperlihatkan sport bra hitam putih berlambang nike tersebut, saling tatap dengan Kakaknya melihat Daddy mereka berlalu meninggalkan senyum.


Kedua orang yang masih penuh tanya akan senyuman Daddy mereka itu, mengikuti arah lelaki di depan yang menuju kembali ke villa karena sudah satu jam lebih mereka berolah raga.


" Apa mereka sedang bertanding atau berkencan? " tanya Alexa pada laki laki dengan celana lari pendek reebok dan sweter hitam di sampingnya.


" Kencan " singkat Brandon melihat ke arah Pieter dan Viena yang asik bermain basket berdua di lapangan basket samping taman.


" Ayo Kita tanding bersama " tambah Brandon berjalan ke arah Pieter dan Viena bersama Alexa dengan tatapan tak suka.


" Daddy, Kita main basket dulu " pamit Alexa berteriak pada pria yang sudah duduk di samping menantunya meminum segelas air.


Pieter dan Viena menghentikan acara main basket mereka begitu melihat kehadiran Brandon dengan Alexa di lapangan basket. Dengan sigap, Viena menyapa kedua nya penuh sopan seraya membungkukkan tubuh nya sedikit.


" Dua lawan dua " ucap Brandon pada Pieter yang di suguhi senyuman tampan.


" Oke, Aku dengan Viena " sahut Pieter tanpa sekalipin melihat ke arah Alexa.


Alexa melepas bomber yang Ia kenakan dan menghempaskan nya di kursi panjang dekat lapangan, meninggalkan sport bra membalut tubuhnya dan berjalan kembali menuju lapangan diiringi lirikan Pieter. Ia mengikat tinggi rambut pendeknya agar tak mengganggu permainan basketnya, hingga menunjukkan leher putih yang sudah berkeringat.

__ADS_1


" Kakak, Kita kalahkan mereka! " tegas Alexa menunjuk ke arah Pieter juga Viena.


" Oke " singkat Brandon melepas sweter dan hanya mengenakan kaos dalam berwarna hitam agar bisa lebih leluasa.


Pieter menyunggingkan senyum tipis dan mulai membuka kaos oblong dengan meninggalkan kaos dalam berwarna putih membalut tubuh kekar nya dengan sengaja.


" Apa Dia sengaja memamerkan tubuh di depan Viena? Kita lihat saja " batin Alexa.


Adiyaksa yang duduk bersama Angel menyaksikan dari jauh keempat orang yang sudah memulai pertandingan mereka. Senyum mengembang pria dengan gelas di tangan itu melukiskan rasa bahagia melihat kedua anaknya kini bisa berkumpul bersama, setelah terpisah beberapa tahun.


" Angel, terimakasih sudah merubah Brandon menjadi lebih baik " ucap Adiyaksa pada menantunya.


" Tidak Daddy, Aku tidak melakukan apapun jadi jangan berterimakasih " sahut Angel sopan menoleh ke arah Adiyaksa yang duduk di sampingnya.


" Kamu mungkin tidak menyadari hal itu nak, tapi Kamu sudah merubah Brandon juga Pieter menjadi begitu berbeda. Namun Daddy amat suka dengan pribadi baru mereka sekarang " ucap Adiyaksa kembali mengingat bagaimana sikap kedua sahabat yang tak pernah tersenyum dan hobi berkelahi.


" Kakak juga suamiku orang yang baik Daddy sama seperti Daddy juga Alexa. Oh ya, apa Aku boleh bertanya sesuatu pada Daddy? " ucap Angel.


" Apa Daddy akan merestui jika Alexa dan kaka Pieter bersama? " tanya Angel ragu ragu.


" Daddy menganggap Pieter sebagai anak kandung Daddy, jika iti bisa merubahnya menjadi menantu akan lebih baik. Tapi keputusan tetap ada pada Brandon, karena tanggung jawab Alexa sudah Ia ambil dari dulu " jelas Adiyaksa panjang lebar meaki merasa aneh akan pertanyaan menantu kesayangan nya.


" Apa kira kira Dia akan merestuinya Daddy? " tanya Angel masih penasaran.


" Daddy rasa tidak nak, karena Brandon tak suka jika Alexa mendekati Pieter karena Ia menganggap jika Pieter sudah melukai Alexa. Meskipun Ia pernah meminta Pieter untuk memberi kesempatan pada Alexa, Daddy rasa itu hanya karena Ia khawatir akan kondisi Adiknya bukan karena ingin menyatukan mereka, tapi Daddy juga tidak tahu lagi " jelas Adiyaksa hanya di angguki oleh Angel berulang sembari memikirkan cara untuk membantu Kakak juga Adik iparnya.


Sementara Brandon sudah begitu bangga dengan Alexa karena bisa memimpin skor dalam peetandingan basket yang masih berlangsung. Sesekali tangan Pieter sengaja mengusap lembut perut rata Alexa tanpa di ketahui oleh Bradon, hingga membuatnya tersenyum puas ketika melihat ekspresi bengong Alexa.


" Apa Kakak tidak takut Viena cemburu? " lirih Alexa dengan mendribel bola di hadapan Pieter saling membungkuk.

__ADS_1


" Kenapa? apa Kamu takut membuat Darell cemburu? " sahut Pieter mengembangkan senyum sinis.


" Tentu " sengaja Alexa lalu melempar bola ke arah Brandon dengan sedikit melompat yang kembali membuat Pieter melingkarkan tangannya kilas pada perut putih Alexa yang memutar tubuh untuk melempar bola.


" Cukup! Aku lelah " seru Brandon terengah dengan banyak keringat di tubuhnya.


Alexa memeluk Brandon dengan kemenangan mereka sambil mengembangkan tawa lebar. Bergegas Brandon berlari menuju Angel dan membawanya ke kamar agar istrinya bisa mencium keringat bercampur parfum miliknya dengan leluasa.


Sementara Viena pamit undur diri meninggalkan Alexa juga Pieter duduk bersama di kursi panjang pinggir lapangan basket tanpa satupun melihat mereka, kardna Adiyaksa sudah lebih dulu masuk sebelum permainan usai.


Dengan sama sama duduk melebarkan kaki seraya membungkuk meletakkan siku di lutut, Alexa ataupun Pieter tak membuka suara sedikit pun hanya menatap lurus ke arah lapangan basket.


" Apa Kakak tidak mengejar Viena? " tanya Alexa memecahkan keheningan dengan terus berusaha mengatur napas tanpa melihat ke arah Pieter.


" Apa harus? " singkat lelaki dengan tatapan lurus ke depan itu.


" Silahkan, tidak ada yang melarang " seru Alexa santai.


" Apa Kamu ingin menghubungi pacarmu, sampai mengusir ku pergi? " tanya Pieter masih kesal dan cemburu.


" Aku bisa menghubungi nya di depanmu sekarang " santai Alexa meraih ponsel dalam saku jaket nya.


" Silahkan " singkat Pieter santai meski merasa kembali sesak akan rasa cemburu ketika Alexa sudah menghubungkan panggilan pada Darell.


Telinga seakan terbakar begitu mendengar Alexa berbicara begitu lembut dalam bahasa inggris pada Darell di ujung telpon. Dengan cepat, Pieter meraih ponsel yang masih di letakkan pada telinga Alexa, lalu mematikan sambungan telpon tersebut paksa.


" Lakukan lagi, jika Kamu ingin tahu kemarahanku " ancam Pieter meletakkan ponsel pada telapak tangan Alexa dan berlalu pergi.


" Cemburu itu menyakitkan Kak " gumam lirih Alexa mengembangkan senyum bahagia melihat Pieter terlihat jengkel karena rasa cemburu.

__ADS_1


Masih dengan senyum nya, Alexa meraih jaket milik nya juga sweater Brandon yang masih tertinggal lalu berjalan ke arah villa, menyusul lainnya yang sudah lebih dulu masuk.


__ADS_2