
LIKE aja susah banget, ngerasa kaya gak di hargai aku. Apalagi di mintain tolong buat vote, malah di maki kali..
***
Kegelisahan yang mendera batin Angel, membuatnya semakin tak tenang. Takut jika sesuatu buruk akan kembali pada suaminya. Bayangan akan lelaki yang dicintai terbaring tak berdaya, semakin membuatnya tak bisa berpikir positif dan menenangkan diri.
"Alexa, aku akan pergi. Tolong sampaikan pada mama nanti" ucap Angel berbisik pada adik ipar yang kini duduk di sampingnya.
"Tidak kak Angel, kita tidak boleh meninggalkan rumah. Akan sangat berbahaya kalau kakak keluar" mencegah pergelangan tangan kakak ipar hendak beranjak, Alexa berucap.
"Tapi aku tidak bisa tenang disini, aku takut sesuatu yang buruk terjadi" ucap Angel gelisah, masih tetap berbisik.
"Aku tahu kak, aku juga merasa tidak tenang sama sekali. Tapi lebih baik kita tetap di rumah menunggu kabar" ucap Alexa.
Membuang napas kasar dan memainkan jari jari seperti ketika ia tak bisa tenang, Angel memikirkan apa kata adik iparnya. Memang benar jika sampai ia keluar maka akan menjadikan keadaan semakin buruk, namun menunggu saat mengetahui apa yang terjadi juga sama buruknya.
__ADS_1
Sniper dari tim Jackson mampu melihat bagaimana keadaan rumah Brandon, segala penjagaan ketat dimana beberapa orang terus memriksa sekeliling tanpa terlewat. Alat alat canggih yang dimiliki tim Jackson, mampu memantau keadaan walau dalam jarak sangat jauh.
Sementara perkelahian sengit masih saja terjadi dari Brandon dan Jackson, beserta anak buah Jackson yang dilawan oleh ketiga orang terbaik milik Brandon. Suara tembakan mulai terdengar menggema, menewaskan satu persatu kawanan Jackson juga Kenan.
Menggunakan senjata yang diperbolehkan walau bukan dalam keadaan mendesak, dilakukan sniper andalan Brandon dari luar tempat mereka berada. Membantu dari kejauhan seperti rencana tersusun, tim Brandon begitu sigap menembuskan proyektil tepat pada jantung lawan.
"BRANDON AWAS!" teriak Pieter melemparkan pisau tepat pada orang di samping Brandon yang ingin menghujamnya dengan senjata.
Seketika memundurkan dada ketika pisau melintas tepat di depannya, Brandon yang tengah melawan anak buah Jackson menatap ke arah Pieter. Beberapa anak buah Jackson memang ikut melawan Brandon demi melindungi nyawa dari pemimpin mereka.
Pieter hanya tersenyum menaikkan kedua pundak, walau tengah menghadapi lawan. Ketiganya masih mencoba melindungi nyawa Tuan muda mereka, meskipun sam sama menghadapi lawan.
Viena tidak menyukai menggunakan pistol, ia lebih menyukai pisau menemani aksinya. Ia menikam lawan tepat pada jantungnya, tanpa langsung menarik. Lebih dulu memutar pisau sudah menembus jantung hingga lawan berteriak histeris, Viena semakin menyukai penyiksaan yang ia berikan.
Menikan satu lawan, tanpa membiarkan lawan lain menyentuh dirinya, Viena tetap menggunakan kaki jenjang nan indah miliknya untuk menendang siapapun mencoba menerkam dirinya. Darella yang sesekali mengamati aksi kekasihnya hanya tersenyum tanpa sedikitpun ngeri.
__ADS_1
Satu persatu lawan tumbang di tangan keempat orang berekspresi tenang tersebut. Tidak terhitung berapa orang yang mereka hadapi kini, yang jelas hanya menginginkan kematian semua orang tanpa ada satupun terluka.
Darell dengan bengisnya mematahkan leher musuh tanpa sebuah kesulitan, kedua tangan saling beradu melawan dua orang sekaligus membuat keduanya tewas bersamaan. Seakan tak ada habisnya anggota dari Jackson juga Kenan yang terus datang untuk mencoba melumpuhkan keempatnya.
Membaca ketenangan dari Brandon yang mematikan, Jackson memilih kabur dari tempat sudah berubah menjadi gedung berdarah. Kenan yang lebih dulu kabur dengan penjagaan ketat bersama Sonya melalui gedung lantai dua, mengirimkan lokasi persembunyian pada Jackson yang mengemudi seorang diri.
Brandon yang berlari mengejar, terjebak akan hadangan banyak anggota Jackson. Ia harus menghadapi mereka sebelum benar benar bisa keluar mengejar. Tidak ada kelelahan untuk saling melawan, semua dalam gedung bertingkat tersebut takkan pernah ada yang menyerah sampai ada yang menjadi mayat dengan keadaan mengerikan.
"Kejar Jackson!" perintah Brandon pada seseorang terhubung pada earphone ditelinganya.
"Baik, Tuan" sahut tegas anak buah Brandon, sigap melaksanakan perintah.
Menghadapi siapaun yang menghalangi hanya dengan tangan kosong, Brandon menghantam, menendang, mematahkan tanpa sekalipun mengubah ekspresi tenang wajahnya. Memasukkan jari pada mata, seperti seseorang mencongkel kotoran dalam lubang.
Tangan berlumur darah tak diperdulikan olehnya, sama seperti ketiga kawanannya. Pieter sendiri sangat mudah menghadapi dengan kesadisan setara dengan Brandon juga Viena dan Darell. Mereka telah terlatih menjadi seseorang yang tak memiliki rasa kasihan pada setiap lawan, menghabisi tanpa ampun hingga tumbang dengan penyiksaan sadis yang di berikan sebelum lawannya mati dengan sendirinya.
__ADS_1
Memang tak pernah langsung membuat mati, Brandon dan ketiganya lebih menyukai dan akan merasa puas jika musuh merasakan penderitaan berlebih akan siksaan yang mereka berikan, di detik detik menjemput ajal. Melempar begitu saja setiap musuh sudah dilawan, memangsa kembali musuh lain untuk mendapat giliran siksaan. Untuk itulah Brandon, Viena, Pieter dan Darell akan sangat ditakuti oleh siapapun yang mendengar nama mereka.