
Kemarin kemarin yang minta Pieter dibikin bucin sebucin bucinnya siapa? udah lunas ya dibuat bucin sekarang. Hehehe
Oh ya, ini ada satu karya teman author yang berharap dukungan dari semua readers yang baik hati ini untuk memberikan krisan. Judul : Demi Nama Cinta ( author : **Maricha **).
Terimakasih banyak buat dukungan kalian di novel ini dan novel Suamiku seorang duda dan Sweet marriage selama ini.
_______________________
Dikamar, Angel telah membulatkan tekadnya dari semalam untuk menyusul suaminya di Singapore. Perasaannya terlalu kuat meyakini jika lelaki yang dicintainya, kini tengah dalam masalah. Perempuan sudah mengemas barang barangnya itu sudah memesan tiket untuknya juga Yudha. Awalnya Angel ingin meminta Viena menemani, namun karena adanya Dio membuatnya tak bisa menjadi egois.
Sengaja Angel meminta Yudha menemani, mengingat sopir yang telah menjaganya dulu itu sudah lama ikut suaminya, dan mengetahui pasti segala bisnis suaminya. Ia juga sudah menghubungi Olivia meminta ijin, walau berat hati Olivia tetap mengijinkan karena sudah kewajiban putrinya mendampingi di setiap keadaan suaminya.
Sekitar pukul 15.20, Yudha sudah tiba di kediaman Olivia dan meminta seorang asisten rumah tangga menyampaikan kedatangannya pada Nyonya yang sudah menunggu dengan gelisah sedari tadi. Koper berwarna merah dibawa oleh pelayan, dengan Angel berjalan di depan menghampiri Yudha.
"Selamat siang Nyonya, apa anda sudah siap?" tanya Yudha begiti perempuan dengan dress berwarna coklat muda sampai lutut itu menghampiri.
"Sudah Pak, kita berangkat sekarang ya" lembut Angel menjawab.
"Baik Nyonya, silahkan" sopan Yudha meraih koper di tangan dan membawanya ke mobil.
"Bi, tolong jaga Mama dan ingatkan untuk meminum obatnya setiap hari. Saya berangkat dulu" lembut Angel berpesan pada wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya.
"Baik Nyonya muda, hati hati" sopan asisten rumah tangga itu menunduk dengan kedua tangan berada di depan perut.
Membalas dengan senyuman sebelum berangkat, Angel melangkah ke arah mobil dimana Yudha dan satu pengawal menunggu. Dengan bantuan Yudha, perempuan yang membalut tubuh atas dengan jaket jeans tersebut masuk kedalam mobil.
Angel menutup wajahnya dengan masker dan kacamata coklat gelap. Dalam perjalanan batinnya tidak berhenti berdoa dan berharap jika semua kekhawatirannya hanya karena kerinduan, bukan karena suaminya benar dalam masalah saat ini.
Tangan di atas pangkuannya tidak berhenti dimainkan karena kegelisahannya. Matanya memandang kearah luar jendela, menatap kosong pada kendaraan berlalu lalang. Hatinya serasa kosong dan hanya dipenuhi oleh kecemasan juga rasa ingin cepat menemui suaminya, memeluk dan tak lagi melepas lagi.
__ADS_1
****
Pukul 20.45, Angel baru tiba di hotel tempat suaminya tinggal. Pengawal yang berjaga di depan hotel juga depan kamar suaminya cukup mengenal Yudha dengan baik, mereka pun mengetahui siapa perempuan dengan rambut ikat ekor kuda yang berjalan bersama Yudha.
Pintu terbuka tepat dihadapannya, hatinya mulai bergetar dengan detak jantung tidak menentu. Langkahnya ragu untuk masuk ketika menatap adanya Dokter juga beberapa perawat di sofa ketika pintu terbuka lebar. Napas panjang dihembuskan perlahan, mengatur perasaannya sendiri.
"Nyonya?" terkejut seorang laki laki tinggi dengan pakaian kerja sama seperti kemarin, begitu melihat istri Tuannya berdiri di depan pintu.
"A,a,ada apa ini?" terbata Angel bertanya dengan kebingungan juga kecemasan menjadi.
"Silahkan masuk Nyonya, Tuan ada di dalam" ucap Darell.
Terasa berat kaki melangkah, hatinya bercampur tak karuan akan kecemasan serta rasa takut. Terlebih ketika Darell mengatakan jika Tuannya di dalam, namun lelaki yang selalu cepat menghampiri ketika dirinya ada itu tak terlihat menghampiri. Benaknya mulai tumbuh beberapa pertanyaan akan apa yang terjadi.
Menguatkan hati dan melangkah masuk kedalam. Beberapa langkah saja, matanya sudah tak kuasa menahan air mata yang mengalir begitu saja. Seakan melemah tak sanggup berdiri lagi dan siap untuk tumbang saat itu, untungnya Darell lekas menahan tubuh Nyonya nya walau harus meminta maaf.
Kedua tangan menutup mulutnya sendiri dan perlahan menghampiri ranjang yang lebih mirip ranjang pasien dengan banyaknya alat serta seseorang terbaring tertutup selimut sampai perut. Tangisnya pecah beriringan tangan kanannya gemetar ketika hendak menyentuh lelaki terpejam dengan oksigen menutup sebagian wajah tampannya.
"Kenapa kamu mengingkari semua ucapanmu sendiri? kenapa kamu berbohong untuk selalu selamat? aku membencimu, aku membenci semua kebohonganmu, aku membenci dirimu seperti ini, bangunlah aku mohon" kembali Angel mengatakan dalam tangis yang menjadi.
Wajah cantik basah karena air mata, diletakkan mendekat pada sisi wajah suaminya, mengurai semua air mata dengan satu telapak tangan memegang sisi wajah kiri suaminya. Tak ada satupun yang berani mendekat walau untuk menenangkan, semua dalam ruangan tersebut hanya membiarkan Angel meluapka segala kegelisahan hatinya.
Seolah merasakan kehadiran istrinya, detak jantung yang tadinya lemah berubah cepat. Dokter yang mendengar suara monitor, langsung menghampiri dan memeriksa dengan tetap membiarka Nyonya muda tersebut tetap ada. Senyum mengembang di wajah laki laki berjas putih tersebut, seolah suatu harapan hidup ada pada jantung dengan detak kembali normal tersebut.
Dari semalam semua menunggu hingga detak jantung itu stabil dengan kecemasan menghinggapi semua yang terjaga menjaga.Mereka takut akan sesuatu buruk terjadi saat denyut jantung semakin lemah dan lemah, dan membuat Dokter juga perawat yang menangani Brandon ketakutan jika sampai hal buruk terjadi.
Darell yang tak beranjak dari duduk di samping ranjang menjaga Tuannya sampai saat Angel datang itu, merasa lega ketika denyut jantung orang yang di hormati itu berubah kembali normal. Batinnya berucap rasa terima kasih pada Tuhan akan keajaiban yang terjadi.
Berjam jam berlalu, Dokter masih terus memantau denyut jantung Brandon. Namun detak itu tak sekalipun melemah dan tetap pada denyut normal dan mulai memejamkan mata lega walau belum bisa dipastikan jika Tuan muda tersebut telah lepas dari masa kritis.
__ADS_1
"Maafkan saya Nyonya telah lalai dalam menjaga Tuan muda" sendu Darell berdiri di samping Nyonya yang terus menggenggam tangan dengan selang darah.
"Tidak Darell, ini semua bukan salahmu. Aku tahu kamu sudah menjaganya dengan baik dan aku sangat berterimakasih untuk hal itu" tulus Angel berucap tanpa melepas pandangan pada wajah suaminya.
"Darell, lebih baik kamu beristirahat dan biarkan aku menjaganya di sini, kamu terlihat lelah" tambah kembali Angel melihat ke arah Darell.
"Tidak Nyonya, saya akan berjaga di sini. Saya tidak bisa meninggalkan Tuan muda" jawab Darell, mengukir senyum di wajah Angel.
"Terima kasih, rebahkan dirimu di sofa dan istirahatlah sejenak. Kalau kamu sakit maka Tuan muda tidak akan ada yang menjaga nanti" senyum Angel berucap.
"Baik Nyonya" sahut Darell tidak berani melawan.
Meski tak tertidur, Darell tetap pergi ke sofa dan duduk di sana menjaga Nyonya juga Tuan nya. Ketika tengah duduk dengan Dokter juga perawat yang tetap memantau, Pieter tiba tiba datang dan menarik kerah kemeja Darell memukulnya keras berulang kali.
Pieter yang baru membuka pesan dan memaki orang suruhannya melalui telpon karena mengabari terlambat kondisi Brandon, langsung berangkat ke Singapore beberapa jam setelah Angel berangkat. Ia pergi menggunakan jet pribadi Brandon tanpa pikir panjang.
Dokter, perawat juga Angel serta Darell sangat terkejut akan apa yang dilakukan Pieter. Ia datang dan langsung menghujani darell dengan pukulan serta makian karena Darell tak menghubungi dirinya mengenai penyerangan yang dialami Brandon.
"Apa Kau hanya duduk diam seperti ini?! apa gunanya kau berada di sisinya kalau hanya untuk membuatnya kehilangan nyawa?! kau benar benar tidak berguna!" maki Pieter menahan suara ke arah Darell.
"Lalu bagaimana denganmu yang bahkan hanya mengurus istri juga anakmu saja selama ini?! apa yang kau lakukan sampai membuat keadaan menjadi buruk?!" balas Darell seraya membalas setiap pukulan yang diterima.
"Paling tidak saat dia bersamaku, dia tidak pernah terluka!" kesal Pieter.
"Cukup! tidak bisakah kalian lihat suamiku membutuhkan istirahat?!" tegas Angel ke arah keduanya.
"Angel?kenapa kamu disini?" terkejut Pieter melihat Adiknya.
"Darell tidak bersalah!tidak bisakah kau lihat lubang dalam kaca itu?! Darell sudah menjaga suamiku dengan baik, sedangkan kau, untuk membantuku menghubungi saja tidak mau! pantas kau menyalahkan dan memukul orang lain dalam keadaan saat ini?!" ucap Angel tegas meluapkan kekecewaannya, mengejutkan Pieter akan nada bicara Adiknya.
__ADS_1
"Mungkin aku terdengar seperti orang yang tidak tahu terimakasih, tapi aku mohon pergilah jangan membuat keributan di sini, suamiku butuh istirahat" tambah Angel melipat kedua tangan memohon ke arah Pieter.