Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
Bab 242


__ADS_3

Brandon sudah masuk kedalam rumah, dilihatnya Angel bersama dengan baby twins juga Adiyaksa. Menggendong putranya, Angel tak memperdulikan suami sudah membuatnya jengkel tadi.


Tapi Brandon malah duduk disamping istrinya, mencubit gemas pipi chubby putra mereka seraya melirik ke arah perempuan memasang wajah cuek. Sesekali ia membuang napas kasar mengetahui kemarahan sang istri, mencoba mencuri kesempatan menggelitik pinggang dihadapan Adiyaksa.


"Anakmu bisa jatuh," kata Adiyaksa melihat tubuh menantunya menggeliat.


Brandon memundurkan posisi duduk, memberikan sebuah isyarat pada Daddy nya jika sang istri tengah marah saat ini.


"Mandikan anak kalian dulu," kata Adiyaksa memberikan Nicko pada putra tersenyum ke arahnya.


"Kami permisi dulu, Daddy." Angel berpamitan sopan.


Berdiri dengan tetap menggendong tubuh Nathan, Ibu dua anak itu mendahului suaminya. Menapaki setiap anak tangga menuju kamar, Angel tidak ingin kesempatan merawat anak anaknya terenggut dengan meminta bantuan pelayan.


Ingin membuka pintu kamar begitu tiba di depan, Brandon melangkah cepat dan membukakan pintu untuk istrinya. Senyum lebar dipasang dalam wajah dibuatnya imut, dilirik sekilas oleh perempuan langsung masuk ke dalam.


"Kenapa buka baju!" tanya Angel pada suami sudah meletakkan tubuh putra mereka di atas ranjang.


"Aku ingin mandi bersama mereka," sahut Brandon melebarkan senyum, meletakkan sweater di atas ranjang.


"Mereka masih bayi, tidak mungkin berendam bersamamu. Biar aku yang memandikan mereka, kamu bantu saja menyiapkan pakaian." Angel menghentikan suami hendak mengangkat tubuh putra mereka.


"Berhentilah marah, kenapa kamu marah seperti ini?" memasang wajah melas, Brandon memajukan bibir.


"Tunggu mereka disini, aku akan siapkan perlengkapan mandinya!" tegas perempuan dengan rambut terikat kebelakang penuh itu.


Langsung saja berjalan menuju ke arah kamar mandi, rambutnya indah bergoyang mengikuti irama. Dibelakang, Brandon menggerakkan bibir seolah mengikuti kecerewetan sang istri dari belakang.


"Kalian dengar kan? Daddy selalu saja dimarahi," mengadu lelaki tanpa balutan apapun pada tubuh atasnya, berdiri dekat ranjang menghadap dua bayi menendang nendang.


"Kalian berdua ini sekutu Mommy atau Daddy sebenarnya? kenapa tidak membela? malah main bola sendiri," tambah kembali Brandon.


"Kenapa kamu melampiaskan marahmu pada mereka?!" terdengar suara tegas dari belakang, mengejutkan Brandon menoleh seraya mengusap dada bidang miliknya.

__ADS_1


"Dia benar benar ingin membunuhku," batin Brandon masih berdegup kencang jantungnya karena terkejut.


Angel berjalan dan menggulung rambutnya tinggi, duduk di tepi ranjang membuka pakaian membalut tubuh Nathan seraya menggoda dengan senyumnya. Mengajak berbicara bayi mungil belum mengerti apapun sudah menjadi kebiasaan dari perempuan bersifat keibuan tersebut.


"Setelah mereka, giliran aku ya?" wajah Brandon terpasang sebuah permohonan.


"Tidak mau! mandi saja sendiri, memangnya kamu bayi?!" sahut tegas Angel, dipeluk mesra tubuh membungkuknya cepat.


"Sayang, maaf. Jangan marah lagi," kata Brandon, menciumi leher istrinya.


"Aku tidak marah, pergilah atau Nathan akan masuk angin nanti!" ketus Angel.


Brandon membalik tubuh istrinya hingga saling berhadapan, menatap lekat dua mata indah menunduk tanpa mau melihat saking kesalnya. Dagu di angkat Brandon, tapi mata masih saja menunduk. Ia pun mengintip kebawah, membungkukkan tubuh dengan kepala terarah pada wajah sang istri.


"Jelek!" kata Angel, merasa geli pada wajah sok imut mengintip dari bawah.


"Senyummu duniaku, cemberutmu nerakaku. Jadi tersenyumlah terus," kata Brandon.


"Berlebihan! gunakan bahasa biasa saja," protes Angel, melebarkan senyum suami sengaja berkata demikian.


Sejenak saling memeluk dan memberikan ciuman pada bibir, Brandon mengangkat tubuh putranya untuk dimandikan bersama demi menyingkat waktu agar mereka bisa berduaan kembali.


Sangat telaten bis besar itu memperlakukan putranya, kasih sayang terlihat jelas dalam setiap sentuhan dimana ia memandikan tubuh sang putra selalu memberikan senyum padanya.


"Hot Daddy," kata Angel melirik suaminya.


"Hot husband," sahut Brandon membenarkan, keduanya mengukir senyum bersama.


Tidak bisa untuk terus jengkel pada suami pengertian juga pandai merayu seperti suaminya, Angel luluh begitu saja melihat sikap lembut ditunjukkan. Ia tak pernah menuntut suaminya untuk bisa merawat anak mereka, tapi dengan sendirinya Brandon berusaha belajar karena tak mau membebankan urusan anak hanya pada sang istri.


Brandon tahu betul jika pengasuh yang ia bayar tidak pernah merawat total anaknya, karena terus diambil alih sendiri oleh Angel. Lelaki bertubuh kekar itupun memahami jika sang istri tidak mau kehilangan momen berharga bersama buah hati mereka, untuk itulah ia bertekad untuk bisa membantu sebisa mungkin.


"Seperti ini baru benar, jangan menangis saja. Atau kalian akan Daddy tembak bersama," kata Brandon seraya membilas tubuh putranya.

__ADS_1


"Sebelum kamu menembak putraku, aku akan mati lebih dulu untuk mereka!" jawab Angel tegas.


"Dan aku akan mati lebih dulu sebelum kamu mati," santai Brandon.


"Jangan berbicara seperti itu! aku tidak suka!" sangat tegas Angel memperingatkan, dibalas senyum tipis suaminya.


"Aku tidak mau kamu mengatakan hal itu, semua itu membuatku takut. Kenapa kamu selalu ingin meninggalkan kami?" sendu Angel tiba tiba berkaca kaca kedua mata cantiknya.


"He sayang, jangan seperti itu. Maaf aku hanya asal bicara tanpa niat apapun, jangan bersedih." Sesak Brandon, menatap wajah istrinya.


Terlalu takut membayangkan kehilangan seorang suami yang begitu dicintai, Angel tak pernah mampu menahan kesedihan. Semua itu mengingatkan dirinya dimana dirinya harus menunggu suami tengah berjuang antara hidup dan mati dulu.


Apapun akan dilakukan asal dapat memberikan kebahagiaan pada suami juga anak anaknya, bahkan Angel kerap berdoa untuk memberikan sisa umurnya pada suami juga kedua anaknya.


Luka akan kehilangan anak untuk selamanya belum kering benar, dan harus melihat suami terbujur tak berdaya. Hal itu membuatnya hampir gila ketika memikirkan, karena bisa saja semua akan pergi meninggalkan dirinya di dunia ini.


Mereka pun menyudahi acara mandi baby twins, membawa mereka kembali ke ranjang untuk dikenakan pakaian. Brandon mencuri pandang ke arah istri membungkuk disampingnya, mendaratkan sebuah ciuman pada sisi wajah.


"Mommy bau keringat," goda Brandon.


"Daddy juga, tapi Mommy suka." Senyum manja Angel, membuat suaminya gemas.


"Sayang, bagaimana kalau kita berkencan? aku ingin menikmati pacaran denganmu," ucap Brandon.


"Boleh, tapi berkencan di taman depan bersama anak anak." Angel menjawab dalam nada tenang.


"Oke!" sahut lelaki tersenyum sangat lebar.


"Love you," tulus Angel memberikan ciuman pada bibir suami menatap kearahnya.


"I hate you too," sahut lelaki kini membasahi bibir dan menggigit bibir bawah.


Ekspresi menunjukkan sikap gemas ditunjukkan Brandon pada istrinya. Entah mengapa ia tak pernah bosan melihat wajah cantik itu, walaupun tengah mengomel. Menarik saja baginya segala mimik wajah dimiliki sang istri.

__ADS_1


Mungkin itulah yang di anggap bucin, tapi semua tidak diperdulikan oleh lelaki sangat ingin dapat menghujani istrinya dengan cinta setiap waktu.


__ADS_2