Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 200


__ADS_3

Suka action romance? baca karya saya Difficult Love. Klik profil saya, terima kasih.


Tidak menghiraukan rintihan dalam rasa sakit, Pieter dan Viena tetap dingin melanjutkan apa yang diinginkan Tuan masih menekan telapak kaki di atas mulut seorang dibawahnya. Kedua orang menyaksikan tersebut, menelan kasar saliva mereka. Terlebih teman Viena yang belum pernah melihat kekejaman perempuan cantik itu, meski telah berteman semenjak di bangku SD.


"Kalian bukan manusia" ucap Brandon menggelengkan kepala menqtap kedua orang masih berjongkok dengan senyum tipis mereka.


Tetap dalam gaya santai seorang Tuan muda, Brandon melangkah pergi usai keduanya melakukan pekerjaan. Pieter dan Viena mengikuti dari belakang setelah menyumpal mulut pria sekarat itu dengan kedua matanya sendiri.


"Kalian ingin di bakar?!" tegas Pieter menoleh pada dua orang masih menatap membulat ke arah pria terkapar di tanah.


"Ini mimpi, ini mimpi" gumam lirih teman Viena menepuk berulang kedua sisi wajahnya, seraya bergidik.


Kedua orang masih terbengong itu, perlahan memutar tubuh dengan wajah tetap menatap ke belakang. Teriakan Pieter memanggil, membuat dua orang berjalan lambat tersebut langsung berlari keluar.


"Saya akan menemui Ibu saya dan Dio dulu Tuan muda" ijin Viena di angguki oleh Tuannya.


"Biarkan dia ikut denganmu" ucap Pieter mengisyaratkan kepala pada pengawal yang bertugas di rumah Olivia.


"Sa, sa, saya?!" ucap pengawal itu menunjuk wajahnya sendiri, di lirik dingin oleh Brandon.


"Baik!" sigap pengawal tersebut ketakutan akan lirikan Brandon.


Pengawal yang tidak pernah ikut dalam perkelahian itu hanya mendengar saja selama ini kekejaman ketiganya, namun kini ia bisa melihatnya sendiri dan merasa takut. Ia pun memasuki mobil dengan Viena naik motor di depan setelah berpamitan, dan memastikan mobil dikendarai Tuannya sudah pergi.


"Pantas saja dia belum menikah, siapa yang berani menikahinya? wajahnya sangat cantik, tubuhnya juga bagus, tapi dia sangat mengerikan ketika berkelahi" gumam pengawal Brandon di balik kemudi mengamati Viena sudah duduk di atas motor.


Teman Viena lebih dulu berangkat untuk menunjukkan jalan, Viena perlahan melajukan kendaraan dan melemparkan korek ke arah bangunan rumah tua sembari berlalu. Pengawal di belakang cepat melajukan mobil melalui motor Viena ketika bara api terlihat.

__ADS_1


"Langsung ke rumah sakit" ucap Brandon dalam perjalanan, cepat Pieter menoleh.


"Apa dada mu masih sakit?" khawatir Pieter menatap.


"Entahlah aku bingung menjelaskannya, tapi saat aku dekat dengan Angel seperti sesuatu sangat menyakitkan di dada" tidak mengerti Brandon untuk menjabarkan, di balas senyum tipis oleh Pieter.


"Oh, artinya kau butuh istri baru" santai Pieter menjawab.


"Mungkin, aku akan menikah lagi dibelakang Angel agar rasa sakit ini hilang" santai Brandon tanpa ekspresi menujukan pandangan kedepan, dengan tangan memegang ponsel.


"Sepertinya aku juga butuh menikah lagi, Alexa selalu saja cerewet setiap hari rasanya kepalaku ingin pecah" ucap Pieter, membuat Brandon tersenyum mengatupkan bibir.


"Kau menikah saja dengan Viena, dia cantik dan tubuhnya seksi" sahut Brandon.


"Ide bagus, kau lebih baik menikah dengan Clara. Dia tinggi, cantik, dan terpenting dadanya besar. Lagipula Angel tidak akan tahu hal itu" senyum Pieter mengatakan.


Brandon tersenyum dengan ucapan sahabatnya, menundukkan kepala sebentar lalu menoleh ke arah luar jendela dengan tetap mengukir senyum. Keduanya melaju ke rumah sakit untuk memeriksakan dada Brandon, pada Dokter pribadinya. Sengaja ia tak meminta Dokter kerumah, agar Angel tidak khawatir.


Walaupun tidak bisa dibilang baru menikah, tapi selalu saja Brandon merasakan getaran getaran menyeramkan ketika bersama dengan Angel. Saat tangan ataupun bibir istrinya menyentuh, perasaan gila akan dirasakannya. Terkadang hal itu membuatnya aneh, namun tetap menikmati setiap getaran yang tak pernah dikatakan pada istrinya.


***


Dua jam memeriksakan diri, Brandon dan Pieter sudah kembali ke rumah Olivia. Dilihatnya Alexa dan Angel tengah asik di teras rumah menggelar tikar, menikmati banyak makanan di tengah mereka. Sebelum menemani cucunya dikamar, Olivia sengaja membuatkan keduanya rujak buah kesukaan Angel dan meletakkan banyak camilan di karpet bulu pink muda tersebut.


"Kalian berdua memakan semua ini?!" tanya Brandon sudah menghampiri dan berdiri menatap makanan di atas karpet.


"Mm..." seru Alexa dan Angel mengangguk bersamaan.

__ADS_1


"Jangan makan lagi!" tegas lelaki tengah menahan tangan istrinya untuk memasukkan coklat ke dalam mulut.


"Kakak jahat sekali, lihatlah mulut kak Angel sudah terbuka" ucap Alexa memukul lirih kaki lelaki tengah membungkuk kesal tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Pieter baru menyusul, langsung menggelengkan kepala melihat banyak makanan di hadapan adik juga istrinya.


"Kak, ambilkan coklatku darinya" memelas Angel menggigit jari.


"Angel, tubuhmu sudah besar jangan makan lagi ya. Kamu juga berhentilah makan atau tubuhmu akan seperti kerbau" ucap Pieter menatap Angel dan berganti pada Alexa.


"Hanya makanan, kenapa kalian berdua sangat ribut?! jika tidak suka kami gendut, yasudah sana pergi menikah lagi!" kesal Alexa memajukan bibir.


"Itu sudah kami rencanakan!" keceplosan Pieter akan candaan bersama Brandon tadi di jalan, cepat di tatap oleh ketiga orang di teras tersebut.


"Ah bukan, maksudku.. mm, itu..." kebingan Pieter menjelaskan.


"Oh jadi Kamu mau menikah lagi?! oke!" kesal Angel berusaha untuk berdiri, langsung di bantu oleh suaminya.


"Jangan menyentuhku!" tegas Angel menghempaskan tangan suaminya.


"Angel, ini bukan..." coba Brandon menjelaskan, terpotong cepat istrinya.


"Diam, aku sedang hamil dan tubuhku gemuk lalu kamu mau menikah lagi?! apa yang bukan?!" tegas Angel membulatkan mata Brandon menelan kasar dan susah salivanya.


"Diam! jangan menjelaskan apapun! aku akan pergi bersama Quen!" tunjuk Alexa ketika Pieter hendak menjelaskan, dan menuntun kakak iparnya masuk ke dalam rumah meninggalkan kedua lelaki terbengong di depan.


"Angel...." seru Brandon melangkah lebar menyusul.

__ADS_1


"Alexa.... " seru Pieter beriringan dengan suara Brandon dan melangkah cepat bersama.


Keduanya kalang kabut sendiri melihat istri mereka kesal. Kedua perempuan sudah duduk di sofa panjang menyalakan televisi tersebut, dihampiri dan langsung duduk merangkul istri masing masing. Mata dua sahabat itu saling bermain meminta untuk menjelaskan lebih dulu, namun sama sama menggelengkan kepala tidak mau. Sikap sadis, kejam dan selalu ditakuti, seolah tidak berlaku ketika bersama istri mereka. Sama sama kebingungan ketika istri mereka diam dan marah.


__ADS_2