
"Ada apa?!" membulat mata Pieter langsung membantu memegang adiknya.
"Alexa minta orang menyiapkan mobil" ucap Olivia berjongkok melihat cairan yang keluar di kaki putrinya.
"Ini ketuban, kita harus ke rumah sakit sekarang" tambah Olivia beranjak dari posisi jongkoknya.
"Ha?!" seru Brandon dan Pieter sama sama tidak mengerti.
Tidak ingin terjadi hal buruk kembali dengan istri juga anak anaknya, Brandon tidak mencari tahu lebih dulu apa itu ketuban. Ia langsung mengangkat tubuh istri tengah memercing kesakitan di sampingnya.
"Ya Tuhan, Angel tubuhmu berat sekali" ucap Brandon mengangkat tubuh istrinya dan cepat keluar kamar.
Olivia bersama Pieter lebih dulu berlari di depan Brandon. Terus ia melihat wajah istrinya dan memori ketika istrinya keguguran beberapa tahun kembali melintas. Rasa takut juga kecemasan yang sama ia rasakan kuat. Angel terus merintih, membuat kecemasan itu makin menjadi dan melangkah lebih cepat keluar.
Begitu sampai di luar, Olivia sudah masuk dan membantu menantunya memasukkan tubuh putrinya di jok baris ke dua. Setelah Brandon masuk, Pieter langsung masuk dan duduk di balik kemudi, sudah ada Alexa di sampingnya. Kecepatan penuh langsung dipergunakan Pieter, tidak ingin apa yang telah menimpa adiknya dulu kembali terulang.
"Sakit" rintih Angel terus terusan dari tadi.
"Sabar sayang, atur napas kamu ya" lembut Olivia mengusap perut putri di sampingnya.
"Buruan!" tegas Alexa karena khawatir pada suaminya.
"Kenapa kamu di sini?! dimana Quen?!" lirik Pieter bertanya dalan kekalutan.
"Aku lupa!" teringat Alexa akan putrinya yang ditinggalkan bersama pelayan tadi.
__ADS_1
"Alexa..." seru Pieter tetap menekan pedal gas dalam.
"Jangan bertengkar! kepalaku sudah hampir lepas!" teriak Brandon dijambak kuat oleh istrinya sampai kepalanya miring ke depan perut besar Angel.
"Yang kuat kak Angel, ingat dia ingin menikah lagi" ucap Alexa menoleh ke belakang, di dorong lengannya oleh Brandon.
"Aduh, aduh sakit" mengeluh Brandon ketika Angel semakin kuat menjambak rambutnya.
Sampai mereka tiba di rumah sakit, Angel tetap menjambak rambut suaminya. Dokter sudah di hubungi Alexa sudah menyambut di depan bersama perawat dan juga brankar dorong. Brandon langsung mengangkat tubuh istrinya keluar mobil dan meletakan pada brankar dorong, lalu ikut mendorongnya masuk.
"Lakukan pekerjaanmu, aku akan tetap disini!" tegas Tuan muda melipat tangan di depan dada dalam ruang operasi sudah di persiapkan.
"Keluar kau! ganti perempuan semua!" tegas Brandon menatap tajam pada seorang laki laki yang hendak ikut membantu.
"Ba, ba, baik Tuan" takut perawat laki laki itu membungkuk dan cepat pergi.
Menjaga di dalam ruang operasi, untuk memastikan istrinya tidak terjamah oleh tangan laki laki lain ataupun tersentuh bagian lain yang tidak perlu. Tatapannya terus tertuju pada istrinya juga Dokter serta perawat yang menangani istrinya. Memeriksa sejenak, Dokter langsung melakukan operasi untuk membantu mengeluarkan dua janin kembar Tuan muda yang tak mau keluar tersebut.
Di luar, Olivia duduk cemas bersama Alexa juga Pieter menunggu proses operasi. Terlihat jelas wajah ketiganya amat cemas, mengingat Angel seharusnya baru satu bulan setengah lagi melahirkan. Berulang kali berdiri, mondar mandir dan duduk kembali, Pieter sangat tidak tenang. Kejadian di puncak juga membayanginya sama seperti Brandon.
****
Berjam jam berlalu, setelah melahirkan dua bayi kembar laki laki yang sehat, Angel sudah dipindahkan di ruang rawat usai pemulihan dan IMD pada kedua anaknya. Brandon menempatkan penjagaan ketat di ruang bayi yang dimintanya khusus untuk kedua anaknya. Rumah sakit tersebut sudah banyak lelaki tinggi kekar dengan pakaian hitam menjaga, membuat setiap orang yang melihat ketakutan sendiri akan tubuh juga wajah sangar pengawal Tuan muda yang ingin keselamatan anak anaknya.
Pieter, Alexa dan Olivia kembali pulang lebih dulu untuk mengambil beberapa keperluan Brandon juga Angel serta kedua anggota baru keluarga mereka. Alexa juga ingin melihat putrinya yang ia tinggalkan begitu saja tadi sewaktu gugup dan tergesa pergi. Sedangkan Brandon tetap tinggal di dalam kamar rawat istrinya, dengan penjagaan ketat di luar ruangan.
__ADS_1
"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu" lirih Angel membuang muka dari suami yang menjaganya dengan duduk di samping ranjang.
"Angel?" seru Brandon tidak percaya, dan terasa menyakitkan ucapan perempuan dari tadi bersikap dingin dan acuh padanya.
"Bawalah satu dari mereka dan menikah lagi, tinggalkan aku sendiri. Sekarang tidak ada penghalang untukmu menceraikan ku, atau biarkan mereka bersamaku" lirih kembali Angel tak ingin menatap wajah suaminya.
"Berapa kali aku harus menjelaskan? semua itu bercanda antara aku dan kakakmu, tidak ada yang serius. Jangan mengatakan cerai ataupun perpisahan, itu menyakitkan"sendu Brandon mencoba menjelaskan kembali.
"Angel, kita akan merawat anak kita bersama. Aku tidak bisa tanpamu, aku sangat mencintaimu dan juga membutuhkanmu Angel. Aku harus menjelaskan seperti apa lagi agar kamu mengerti?" tambah kembali lelaki sudah beranjak dan memegang tangan istrinya walau terhempas cepat.
"Tidak ada yang harus kamu jelaskan, semua sudah jelas dan aku mendengarnya sendiri. Bahkan kamu juga sudah tidak pernah ingin menyentuhku kan? lalu untuk apa pernikahan ini kalau kamu sudah tidak menginginkanku, dan memiliki niat menikah diam diam dengan wanita yang lebih segalanya" panjang lebar perempuan masih tetap menghadap ke arah lain tersebut, membuat Brandon memejamkan mata kilas dan membuang napas panjang.
"Aku memiliki alasan tidak menyentuhmu, tidak ada orang lain" tulus laki laki seakan putus asa menjelaskan, kembali terhempas tangannya saat mencoba menggenggam.
"Dadaku sakit Angel! setiap kali dekat denganmu jantungku sangat sakit, dan tidak bisa untuk aku tahan! saat jantung ini berdetak sangat cepat, aku merasakan sakit yang tidak bisa aku tahan! untuk itu aku tidak pernah bisa menyentuhmu! apa kamu pikir aku tidak tersiksa?! aku sangat tersiksa tidak bisa denganmu seperti dulu!" teriak Brandon mengejutkan Angel langsung menatapnya.
"Aku sakit Angel, mengertilah hal itu" tambah kembali Brandon mengatakan sejujurnya.
"A, a, apa maksudmu?" terbata Angel menata suaminya.
"Ada masalah di jantungku setelah penembakan itu, saat terpacu cepat maka aku akan sangat kesakitan" jelas lelaki menangkupkan tangan pada sisi wajah istrinya dan menatap matanya dalam.
"Bukankah Dokter bilang kamu sudah baik saja saat kita kembali? kenapa kamu tidak pernah mengatakan hal ini?" air mata Angel menetes begitu saja dengan memegang pergelangan tangan masih di samping wajahnya.
"Aku tidak tahu Angel, aku sedang menunggu hasil pemeriksaan. Aku tidak bilang karena aku tidak mau kamu sampai khawatir saat sedang hamil dan membahayakan nyawamu dan anak anak kita" tulus kembali Brandon, langsung di raih tengkuknya oleh perempuan dengan air mata tersebut untuk di peluk.
__ADS_1
"Lebih baik aku kehilanganmu karena wanita lain bukan kehilanganmu karena maut, aku tidak akan bisa menanggungnya" sendu dalam air mata Angel berucap.
(tolonglah kalau udah baca tinggalkan ** like dan komentar ** itu gratis kok. Biar aku nya semangat gitu ya, hargailah author sedikit aja yang udah nulis sampai ribuan kata buat kalian. Sedih gitu lihat yang like sama komentar engga semangat, jadinya aku juga engga semangat nulis. Terima kasih banyak).