
Sementara Pieter sudah pergi dari rumah Brandon pagi pagi untuk mengambil ponsel miliknya serta beberapa berkas di ruang kerjanya. Laki laki yang ingin kembali membujuk sahabatnya itu, langsung memutuskan kerumah Olivia dan berharap bisa mengubah keputusan sahabatnya untuk pindah dari rumah.
Sampainya di rumah Olivia, Pieter tak mampu menemukan sahabat juga Adiknya dan memilih mengetuk pintu kamar Olivia, dimana Mamanya tengah membersihkan sendiri kamar.
" Ma, apa Angel dan Brandon sudah pergi? " tanya Pieter begitu diijinkan masuk oleh Mamanya.
" Sudah Nak, pagi ini mereka berdua memutuskan untuk pindah tapi tak satupun memberitahu dimana pastinya " sendu Olivia juga sengaja tak di beritahu oleh Tuan muda yang mengharapkan ketenangan tersebut.
Merasa tak memiliki harapan untuk bisa membuat Brandon berubah, Pieter melemah dan menghempaskan diri duduk di ranjang dalam ketidak berdayaan. Olivia mencoba mengusap lembut punggung putranya agar tak terlalu bersedih akan keputusan Tuan mudanya berpindah tanpa ingin siapapun mengetahui.
" Kenapa semua begitu hancur sekarang Ma? kalau saja Aku tak mencegah Alexa pergi mungkin semua takkan terjadi " pilu Pieter sudah merebahkan kepala pada pangkuan Olivia.
" Nak, jangan menyesali apa yang terjadi. Bagaimanapun juga Alexa sudah menjadi pilihanmu dan tanggung jawabmu sekarang" sahut wanita masih dalam daster rumah yang Ia kenakan usai membersihkan diri pagi tadi.
__ADS_1
" Tidak Ma, andai saja Aku bisa mengulang semuanya pasti Aku akan melepaskannya pergi. Mungkin ini bukan cinta tapi sebuah rasa tak tega karena Dia telah tulus mencintaiku selama beberapa tahun. Dan Aku merasa kehilangan ketika Dia akan pergi, merasa takkan ada lagi yang bisa mengharapkan ku melebihi dirinya " jelas Pieter panjang lebar berpikir semalaman dan tak menemukan satupun perasaan yang mampu menggetarkan dirinya dari diri Alexa.
" Kalau saja Aku bisa mengendalikan emosi mungkin Aku takkan menyentuhnya sama sekali. Dia terus mendorongku kedalam sebuah hubungan itu, sampai Aku harus lepas kendali dan tergoda melakukannya " tambah kembali Pieter masih merasakan penyesalan akan sebuah hubungan yang tak seharusnya.
" Nak, apapun itu pasti sudah menjadi jalan dalam hidupmu. Sekarang jangan pernah menyesali semua itu, Kamu harus tetap bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah Kamu lakukan walaupun itu dalam keadaan emosi " jelas wanita cantik dengan membelai lembut rambut putra yang menatap kosong kedepan.
" Aku lelah Ma, Dia hanya ingin memilikiku dan itu bukanlah cinta tapi seperti sebuah obsesi. Aku ingin mundur dari semua ini tapi tak bisa, namun melanjutkannya juga tak mampu. Mama tahu Aku tidak menyukai perempuan agresif dan pecemburu, untuk itu Aku sangat menyukai Viena. Tapi sekarang Aku malah terjebak pada gadis yang selalu Aku hindari karena sikapnya. Sekarang Aku baru menyadari ini benar benar bukan cinta Ma, dan itu sudah terlambat " kembali laki laki dengan tatapan kosong itu menjelaskan.
" Seiring berjalannya waktu, Mama yakin Kamu pasti akan mencintainya Nak. Kamu baru menikah kemarin dan tidak seharusnya berkata seperti ini, juga Kamu sudah pernah memintanya untuk menikah dulu " coba Olivia menasehati putra angkatnya.
Tak mau lagi mempermasalahkan segala kebiasaan Alexa, Pieter hanya tak menyukai sikap agresif dalam hubungan tubuh dan kecemburuan serta kecurigaan yang membuatnya tak nyaman. Walau bibirnya terus berucap cinta, namun tak dengan hatinya lagi. Karena baru disadarinya jika semua bukanlah cinta hanya sebuah rasa iba ketika Alexa hendak pergi.
Perkataan begitu menyayat dari Alexa membuatnya terbawa arus. Dan Ia hanyalah seorang laki laki normal, yang juga tergoda dengan tubuh Alexa. Dimana selalu saja dibiarkan terbuka hingga tangannya tak bisa dikendalikan untuk menyentuh sebagai seorang lelaki normal. Siapapun pasti akan melakukan hal sama jika dihadapkan pada gadis dengan pakaian selalu terbuka, terlebih Ia tahu jika Alexa memang mencintainya.
__ADS_1
Sebuah perasaan kecewa yang pernah diutarakan usai penolakan Alexa, kembali Ia pikirkan semalam dan baru disadari jika itu bukanlah kekecewaan namun karena sebuah rasa sakit yang bahkan tak pernah didapatkan sebelumnya.
Segala ucapan cinta tanpa rasa yang diutarakan pada Alexa juga pengakuan pada Angel terus membuatnya tersadar, jika memang tak ada cinta yang Ia rasakan selama ini. Hanya sebuah rasa takut kehilangan seseorang yang mau mencintainya saja.
Mungkin terdengar seperti seorang pengecut dan brengsek jika Ia harus mengutarakan segalanya dalam sadar kini, namun hubungan yang terjadi antara dirinya dan Alexa hanya akan membawa kehancuran. Dimana tak ada lagi rasa nyaman dan ketenangan dalam menjalani kehidupan usai sebuah emosi tanpa kesadaran membawanya dalam pusaran arus terlalu kuat, hingga tak bisa lagi melepaskan diri.
Kejadian semalam benar benar membuka lebar mata hati yang begitu nyaman dalam pangkuan Mamanya itu, untuk menyadari segalanya. Seperti semuanya hanya sebuah perintah dari Nona muda yang harus Ia jalani tanpa penolakan.
Mencoba mencari sendiri ketenangan dirinya yang dulu, Pieter tak ingin kembali ke rumah yang telah ditinggalkan Tuannya itu dan memilih menginap di rumah Olivia hingga Ia kembali kerumahnya sendiri esok. Karena tak mempunyai kekuatan untuk berpisah, Ia hanya mencoba untuk menenangkan sejenak dirinya tanpa ingin kembali menemui Alexa.
Olivia sangat ingin menolak karena tak mau membuat kecewa Alexa, terlebih jika sampai dirinya tahu Pieter menginap dirumahnya dan akan menimbulkan kesalahpahaman lagi. Namun melihat raut wajah sedih penuh putus asa, tak sampai hati Olivia menolak putranya untuk tinggal.
Sementara di rumah, Alexa baru terbangun dari tidur dan tak mendapati adanya Pieter dirumah. Tanpa ingin mencari, Ia memilih menghubungi timnya mencari jadwal dimana Dia ingin kembali beraktifitas seperti biasa dalam dunia yang sempat ingin ditinggalkan. Membiarkan semua berjalan seperti seharusnya tanpa ingin lagi memaksakan sesuatu, karena dirinya menyadari jika memang sikapnya terlalu buruk hingga membuatnya malu bertatap muka dengan Kakak, Kakak ipar juga suaminya.
__ADS_1
Pernikahan baru berjalan semalam harus rela hancur karena sebuah kecemburuan. Rasa tak ingin kehilangan suaminya, malah membuat suaminya pergi menjauh dari dirinya. Pemikiran keras juga sudah dilakukan Alexa semalam, dimana dirinya memiliki rasa bersalah terlalu besar akan sebuah kecurigaan tanpa bukti. Walau pernah dikatakan lelaki yang kini menjadi suaminya, jika tak ada lagi yang bisa dilanjutkan usai pertengkaran akan sebuah kecurigaan padanya dan Kakak iparnya, namun Alexa tetap ingin mengikat lelaki yang Ia cintai dan takkan pernah ingin melepas ataupun kehilangannya. Walau egois namun Ia tak mau lagi merasakan mencintai tanpa memiliki.