Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 146


__ADS_3

Merasakan gerakan mendadak dari atas ranjang, Alexa langsung membuka mata dan melihat Pieter sudah siap dengan celana panjang juga kemeja berlengan pendek.


" Kak Pieter mau kemana? " tanya gadis dengan memegang selimut menutupi dada mencoba untuk duduk.


" Aku harus pergi, Kakakmu membutuhkanku sekarang " sahut Pieter mengambil kunci mobil dan berjalan ke samping ranjang mencium kening istrinya.


" Bukankah sudah ada Darell? dan Kak Brandon sudah memberimu cuti, lagipula Kita baru menikah kenapa Kamu harus pergi? " tanya Alexa bertubi tak ingin ditinggalkan suaminya walau sesaat.


" Alexa, Brandon dalam masalah dan Aku harus datang secepatnya " jelas lembut Pieter mencoba membuat istri yang menahan tangannya agar mengerti.


" Tidak Kak, Aku akan menghubungi Kak Brandon agar Dia membiarkanmu tetap cuti " ucap Alexa meraih ponsel di meja samping tempat tidur.


" Cukup Alexa! Aku bukan barang yang bisa terus Kamu simpan di dalam kamar! Aku memiliki tanggung jawab dalam pekerjaanku! Alexa dengar ! Aku tidak mempermasalahkan sikap manja mu, tapi Aku minta Kamu hentikan sikap kekanakan dan tunjukkan jika Kamu benar benar sudah dewasa seperti yang Kamu katakan! " tegas Pieter sedikit berteriak sudah tak sanggup lagi tetap diam, hingga tak tahu apapun yang terjadi dan membuat sahabatnya dalam kondisi saat ini.


Tangan dihempaskan laki laki penuh emosi juga kekhawatiran itu. Ia berjalan ke arah pintu dan dikejar cepat oleh Alexa, memeluknya dari belakang masih dalam keadaan tanpa mengenakan apapun.


" Tidak, jangan marah padaku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu setelah Kita menikah. Aku istrimu, jadi wajar jika Aku ingin terus bersamamu. Jangan pergi, Aku tidak mengijinkannya " seru Alexa mengeratkan pelukan pada perut suaminya.


" Berdebatlah dengan dirimu sendiri! " geram Pieter melepas kasar pelukan Alexa.


Cepat Ia berlari keluar karena tak ingin menunggu lebih lama hingga sesuatu buruk terjadi pada bos juga sahabatnya.


" Ah lift mati kenapa di pasang! " geram Pieter karena lift rumah yang dulu sengaja di pasang ketika Angel hamil, sudah tak lagi difungsikan semestinya karena Angel tak suka.


Pieter berlari kembali dengan menuruni beberapa anak tangga langsung, dan bergegas ke arah mobil di parkiran tanpa lebih dulu memanasi mesinnya. Pedal terus Ia injak kencang menyusuri halaman luas rumah sahabatnya dengan penuh kekhawatiran. Pieter tahu takkan ada yang bisa menghentikan sahabatnya ketika marah, namun Ia tak ingin sesuatu tak diinginkan terjadi.

__ADS_1


Di rumah Kenan, Tuan muda dengan amarah membumbung itu sudah berdiri di depan pagar dan dihadang oleh pengawal, tak ingin membukakan pagar.


" Apa kalian bosan hidup?! BUKA! " tegas Brandon berteriak dengan sorot mata marah, berulang kali menendang pagar.


Seorang pengawal sudah menghubungi pengawal di dalam dan secepatnya melapor pada Kenan, akan kehadiran Brandon dengan amarah. Seakan terbiasa menghadapi kemarahan musuh, Kenan membiarkan Brandon untuk masuk dan menunggu Tuan muda tersebut di dalam.


Pagar sudah terbuka langsung membuat laki laki sakit hati akan apa yang menimpa istrinya itu, langsung memberikan pelajaran pada empat orang pengawal yang coba untuk menghadangnya. Hanya satu lawan empat, namun keempatnya memiliki nasib sama takkan bisa makan esok hari, karena telah menggunakan tangan mereka untuk menghadang.


Amarah memuncak mengiringi langkahnya masuk ke dalam rumah dan siap memberikan pelajaran pada semua pengawal Kenan. Beberapa pengawal yang melihat teman mereka tersungkur kesakitan, mencoba menghalangi Brandon mendekat pada Tuan mereka. Namun nasib seperti keempat sebelumnya juga diterima semua yang coba mencegah dirinya menemui orang yang sudah melecehkan sitrinya.


" KENAN!! KELUAR!! " teriakan menggelegar dengan langkah kaki cepat, memancing laki laki yang baru selesai berenang tersebut menghampiri.


" Apa begini cara Tuan muda bertamu? " santai Kenan menyunggingkan senyum seperti gayanya.


" Apa Kau sudah gila?! " tak terima Kenan sudah tersungkur di lantai karena tenaga kuat Brandon, melebihi sahabatnya Pieter.


Tanpa ada perkataan, tak henti Ia menghajar laki laki sudah tersungkur tersebut hingga darah keluar dari ujung bibir dan hidung mancung laki laki berambut basah tersebut.


Dua orang pengawal mencoba menghentikan emosi Brandon, namun kekuatan tenaganya ketika emosi mampu mengangkat tubuh kedua pengawal tersebut hingga memutar dan tersungkur di lantai.


Tak ada yang mampu menghentikan amarah dari seorang suami yang tak terima istrinya sudah diperlakukan tak baik. Kembali Ia menghajar Kenan yang sudah tak berdaya untuk melawan. Kenan memang tak memiliki keahlian bela diri sama seperti Brandon ataupun Pieter. Ia hanya mengandalkan pengawal dan bela diri yang Ia kuasai selama ini. Sedangkan Brandon dan Pieter selalu mengasah kemampuan mereka dalam perkelahian, yang bahkan takkan ada yang bisa mengalahkan keduanya ataupun menggores sedikit saja luka pada wajah ataupun tubuh mereka.


" Brandon hentikan! " teriak Pieter berlari cepat dan menahan kedua tangan sahabatnya dari belakang.


" Aaarggh lepaskan Aku ! " teriak Brandon mencoba meronta dan segera di kunci Pieter kedua tangannya dibelakang, meletakkan tubuh depan Tuan muda tersebut di dinding.

__ADS_1


Kedua kaki Brandon sudah dilumpuhkan dengan kedua lutut Pieter yang mencoba sekuat tenaga menahan amarah sahabatnya, tanpa Ia tahu apa yang terjadi.


" Panggil Dokter untuknya " perintah Pieter pada pengawal Brandon yang ikut masuk, karena Kenan sudah tak sadarkan diri dengan banyak luka pada wajahnya.


Pieter menarik kuat tubuh sahabat yang masih Ia pegang kedua tangan dibelakang itu keluar dan pergi menggunakan satu mobil, dan meminta salah satu dari enam pengawal yang tadi Ia hubungi, untuk membawa mobilnya kembali ke rumah Brandon.


" Bereskan mereka! " perintah Pieter pada pengawal Brandon agar mengurus semua pengawal dengan tangan patah yang masih tersungkur.


Mobil dilajukan dengan kecepatan penuh menuju rumah pribadinya, demi menenangkan emosi laki laki yang masih terlihat marah dengan sesekali berteriak meluapkan.


" Kenapa Kau mencegahku?! " teriak Brandon begitu mereka sudah sampai dirumah Pieter.


" Kau bisa membunuhnya jika Aku tak menghentikanmu! kenapa Kau jadi seperti ini?! apa yang terjadi?! " panjang lebar Pieter dihadapan sahabatnya.


" Dia sudah melecehkan Angel! dan Dia pantas untuk mati! " geram Brandon menyentak Pieter terkejut.


" Apa maksudmu?! " tegas Pieter terkejut.


" Angel sudah dilecehkan Kenan di sekolah! " tegas kembali Brandon geram dan menghempaskan tubuh ke sofa dengan kuat.


" Dasar Brengsek! " geram Pieter menyesal.


Andai saja Dia tahu mungkin Dia akan membiarkan sahabatnya menghabisi Kenan, dan akan ikut terlibat di dalamnya. Keduanya hanya mengurut kening kasar di sofa dan berencana kembali membuat perhitungan pada Kenan jika laki laki tersebut telah tersadar.


Ketika emosi sudah sedikit bisa mereka kendalikan, seorang Kakak dengan perasaan gagal tersebut meminta maaf karena tak bisa menjaga dan melindungi Angel. Padahal sudah sempat mereka perhitungkan jika Kenan pasti akan mengejar Angel hingga bisa mendapatkannya. Rasa geram tiba tiba muncul pada batin Pieter ke istrinya yang telah membuatnya berjanji, namun takkan pernah lagi ditepati usai semua yang menimpa Adik kesayangannya. Jika saja tadi Dia cepat menghampiri Angel dan Mamanya, mungkin semua sudah bisa diselesaikan olehnya tanpa membuat Brandon terlibat.

__ADS_1


__ADS_2