
*Difficult Love* cerita tentang sepasang kekasih yang 7 tahun berpacaran, namun terpisah dan si perempuan menikah karena perjodohan. Baca ya, karya baru saya tinggal klik profil. Maksih banyak.
Tengah berbincang, terdengar langkah kaki cepat dari dalam beriringan suara Viena. Mereka pun sejenak menghentikan pembicaraan, dan menoleh ke arah perempuan sedang berusaha mengenakan jaket kulit hitam. Langkah Viena terhenti menyadari adanya orang berkumpul di ruang tamu.
"Tahan dia dan tunggu aku!" tegas Viena pada seorang di ujung telpon lalu mematikannya.
"Maaf Tuan muda, saya boleh permisi sebentar?" sopan perempuan dengan celana jeans panjang juga tanktop yang berlapis jaket kukit hitam belum sempat terkancing.
"Ada apa?" tanya Brandon pada Viena.
"Ada masalah pribadi Tuan, jika Anda ijinkan maka saya akan pergi sekarang" sahut perempuan dengan ikat rambut ekor kuda tinggi di belakang, tetap berdiri tersebut.
"Baik jaga dirimu" singkat Brandon masih memangku Quen.
"Terima kasih banyak Tuan" ucap Viena dan melangkah ke arah Olivia.
"Sudah menemukannya?" lembut Olivia bertanya, diiringi tatapan semua di ruangan.
"Doakan saya Ma" ucap Viena dipeluk sebentar Olivia lalu mencium keningnya.
"Hati hati nak" lembut kembali Olivia pada perempuan membungkuk di depannya.
Viena mengangguk, lalu kembali berpamitan pada semuanya. Melangkah pergi sembari mengancingkan jaket, perempuan dengan tubuh tinggi nan ramping itu terus di tatap hingga dirinya menaiki motor. Rambutnya tergulung ke dalam, menutupinya dengan helm berwarna merah, lalu melaju mengenakan motor sport merah keluar dari rumah.
Brandon merasa aneh akan pertanyaan mertuanya pada Viena, ia pun mengayunkan jari telunjuk ke arah salah satu pengawal yang berjaga di depan. Tetap duduk tanpa beranjak sedikitpun, Brandon memerintahkan pria bertubuh tinggi kekar tersebut mengikuti kemana Viena pergi. Bukan untuk mencari tahu, namun untuk melindunginya jika terjadi suatu masalah. Meskipun yakin Viena mampu menangani sendiri siapapun orangnya, tetap Brandon ingin memastikan keselamatan semua orang orang yang menjadi tanggung jawabnya juga.
"Pegang Quen sebentar" ucap Brandon meletakkan tubuh gemuk keponakannya pada Pieter.
__ADS_1
Brandon meraih ponsel dalam sakunya, memperhatikan seksama layar ponsel di tangannya tersebut. Diam tanpa bicara, ia memantau kemana arah Viena pergi melalui GPS. Hampir semua kendaraan terpasang dengan GPS untuk mempermudah ketika salah satu membutuhkan bantuan. Motor terhenti di sebuah titik, langsung dikirimkan lokasinya pada pengawal yang ia perintahkan mengikuti Viena.
"Maya, boleh aku tahu maksud pertanyaanmu pada Viena?" tanya Brandon usai meletakkan ponsel di atas meja.
"Viena tengah mencari pembunuh dari Ayahnya, mungkin sekarang dia sedang menemui mereka" jelas Olivia mengejutkan Alexa.
"Ayahnya tiada?!" membulat mata Alexa bertanya.
"Ada yang tidak beres, aku pergi sebentar" ucap Brandon meraih ponsel dan memasukkan dalam sakunya kembali.
"Aku ikut denganmu" sahut Pieter meletakkan tubuh Quen pada Mamanya.
"Ada apa? kenapa kalian pergi?" tanya Alexa ingin mencegah.
"Maya jaga mereka, aku pergi sebentar" pamit Brandon tidak menjawab pertanyaan adiknya.
"Daddy pergi sebentar, jaga Mommy di rumah" bisik Brandon pada perut istrinya seraya membungkuk.
"Sebentar, bukan hibernasi" jawab Angel di acak rambutnya oleh lelaki tengah tersenyum tersebut.
Melihat Tuannya keluar, cepat pengawal tengah berjaga itu membukakan pagar. Pieter sudah bersiap di balik kemudi, dengan Brandon mulai masuk di sampingnya. Kematian Ayah Viena yang cepat sampai ke telinga Brandon, membuat Tuan muda itu memerintahkan Darell untuk mencari pelakunya dan sudah berhasil di tangani.
Namun hal itu tanpa sepengetahuan Viena, dan kini tiba tiba Viena pergi dengan kabar pembunuh tersebut telah di temukan. Padahal sudah lama pembunuh itu tiada di tangan Darell, dan membakarnya sendiri. Merasa sesuatu amat mencurigakan, Brandon memutuskan untuk pergi memastikan sendiri.
Selepas kepergian Brandon dan Pieter, Olivia juga Angel menjelaskan apa yang terjadi pada Alexa. Perlahan dan sangat rincin keduanya menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi delapan bulan lalu. Ayah Viena sengaja dihabisi karena hal sepele. Dia mabuk dan tak sengaja berjalan menabrak bos preman yang langsung menghabisinya. Hal itu tidak diterima Brandon dan langsung memerintahkan Darell pergi ketika pemakaman.
Sendiri dengan kekuatannya, Darell menghabisi semua preman yang terlibat. Menyiksa mereka dengan tangan dipotong lebih dulu, sesuai perintah Brandon. Lalu membakar mereka bersama dalam gedung tua yang dijadikan markas. Selalu saja Brandon menyerang bagian yang dipergunakan musuhnya untuk melawan dirinya. Meski prinsip bukan pembunuh kuat dipegang, tapi tetap saja semua harus dibayar impas, nyawa dengan nyawa. Yang terpenting bukan dirinya yang memulai lebih dulu, dan hanya membalas.
__ADS_1
Mobil tengah di kemudikan Pieter terhenti pada titik GPS yang ditunjukkan Brandon. Terlihat mobil serta motor amat mereka kenal terparkir di antara ilalang, depan sebuah rumah usang. Keduanya masuk dan melihat Viena juga satu orang suruhan Brandon, dan satu orang lagi teman dari Viena dikelilingi 9 orang tergeletak.
Senyum bangga terukir jelas dari wajah Brandon dan Pieter saling menatap. Ketakutan mereka seolah tidak akan berguna jika Viena yang menghadapi. Walaupun satu perempuan namun tenaganya melebihi tiga laki laki sekaligus.
"Tuan muda" seru ketiganya melihat Brandon melangkah mendekat dengan kedua tangan dalam saku celana, bersam Pieter di sampingnya.
"Siapa mereka?" tanya Pieter.
"Hanya sampah yang mengharapkan tubuh Viena" jawab pengawal Brandon, cepat diinjak kakinya oleh Viena hingga memekik kesakitan.
"Hajar mulutnya" ucap Brandon membulatkan mata pengawalnya takut.
"Tuan?" seru pengawal tersebut, ditepuk pundaknya oleh Brandon diiringi senyum tipis Pieter.
"Bagus kalian selamat" ucap Brandon lalu memutar tubuh untuk pergi, diikuti lainnya di belakang.
Tiba tiba saja Brandon memutar tubuh dan berlari menendang seorang tengah terkapar di lantai, mengejutkan mata keempat orang lainnya. Insting kuatnya mmpu menangkat pergerakan pria berlumuran darah yang hendak melemparkan pisau ke arah Viena, dan cepat tertendang kuat kakinya masih dengan tangan berada dalam saku celana.
"Ampun Tuan" ucap pria sudah ditahan kepalanya oleh kaki Brandon.
"Pieter" panggil Brandon, langsung dihampiri Pieter dengan pisau ditangan.
Menyayat tanpa ampun tangan telah berusaha melempar pisau tadi, dengan Viena mengambil pisau dari pria kesakutan tersebut dengan isyarat mata Brandon.
"Ambil bagian darinya yang telah kurang ajar padamu" perintah Brandon santai.
Viena berjongkok memegang pisau milik pria yang ingin menyentuh tubuhnya tadi, pria sama yang ingin melempar pisau terhadapnya. Kedua mata kini coba di ukir perempuan cantik dengan wajah dingin dan tenang. Seperti tangan mencoba mencabut akar rumput pada tanah, itu yang dilakukan Viena pada mata pria tersumpal mulutnya dengan injakan kaki Brandon, tetap berdiri dengan mengantongi kedua tangan. Dingin, tenang, tanpa ekspresi, itulah yang ditunjukkan ketiganya saat ini.
__ADS_1