Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 144


__ADS_3

Di sekolah, Kenan sudah menunggu Angel bersama sekretarisnya. Laki laki yang sengaja tampil lebih tampan itu, bersedia menunggu gadis incarannya di dekat gerbang sekolah. Mobil sudah menjadi sandaran untuknya melipat kaki di tanah, juga melipat tangan di atas dada. Senyumnya seketika mengembang mendapati motor amat dikenal melaju ke arah sekolah. Jas Abu tua sudah Ia rapikan dan meminta saran pada sekretarisnya akan penampilan dirinya saat ini.


" Dia lagi " gumam Angel melewati Kenan dan berlalu memasuki parkiran motor di dalam sekolah.


Bergegas, laki laki tinggi tampan yang selalu menjadi pusat perhatian itu mengejar Angel ke parkiran. Rambut tergerai ketika helm dilepaskan, mengundang decak kagum Kenan menyunggingkan senyum.


" Apa Kau sudah sehat? apa sudah mendatangi Dokter? " tanya Kenan seketika tanpa berbelit begitu Ia sampai di samping gadis tengah membuka jaket kulit.


" Tuan Kenan, bisakah jangan mengganggu Saya lagi? Saya sudah memiliki seseorang yang Saya cintai " ucap Angel dengan nada lembut khasnya, menatap ke arah laki laki dengan tatanan rambut ke belakang di sampingnya.


" Siapa?! " tegas cemburu Kenan menahan langkah Angel dengan memegang lengan gadis yang mencoba melepaskan diri tersebut.


" Suami Saya " singkat Angel berlalu pergi, meninggalkan wajah penuh tanya dan cemburu Kenan.


Tak terima, Kenan pun mengejar Angel yang hendak mengenakan rok sekolah di kamar mandi. Pintu kamar mandi hendak terkunci, langsung ditahan oleh Kenan dan ikut masuk ke dalam membuat Angel merasa takut akan apa yang dilakukan laki laki dihadapannya.


" Siapa Dia?! apa Kau benar benar sudah menikah?! " geram lelaki tengah berusaha menahan suaranya itu.


" Ya! jadi tolong jauhi Saya! " tegas Angel terdorong tubuhnya di dinding oleh tangan kuat Kenan yang mengunci tangan Angel di belakang.


" Tidak satupun bisa memilikimu selain Aku! Kau sudah membuatku jatuh cinta! jadi Kau harus bertanggungjawab untuk hal itu! " geram penuh penekanan lelaki dengan wajah mendekat.


Wajah berpaling Angel, mampu menampakkan bekas bibir suaminya, dan sontak membuat Kenan terbakar cemburu karena gadisnya telah di sentuh walaupun itu adalah suaminya sendiri. Sorot mata amarah ditunjukkan jelas oleh lelaki yang mencoba mencium leher jenjang gadis yang tengah berusaha meronta ketakutan.


" Lepaskan Saya " pinta lirih Angel bergidik saat bibir Kenan menyentuh lehernya.

__ADS_1


Tanpa sedikitpun melepas gadis yang sudah Ia kunci kedua tangan di balik tubuhnya itu, bibir terus saja menyusuri leher putih dengan bekas merah tersebut. Satu tangan kanan mulai membuka paksa tiga kancing seragam gadis yang sudah menangis ketakutan. Seketika mata Kenan membulat takjub melihat benda besar milik gadis yang telah mencuri hatinya saat di puncak. Begitu liar bibirnya terus menyusuri keindahan dihadapannya, dan seketika tersadar ketika tangis itu mulai menjadi dengan tubuh perlahan menurun hingga duduk di lantai.


" Ma... ma.. maafkan Aku, Aku tidak bermaksud menyakitimu " perasaan salah timbul pada diri Kenan memegang kedua sisi wajah Angel.


" Jangan seperti ini, Aku hanya cemburu karena terlalu mencintaimu " tambah lelaki dengan kebingungan, tak bisa menghentikan tangis gadis di hadapannya.


Merasa tubuh telah ternoda oleh laki laki selain suaminya, bergegas Angel beranjak dan membuka pintu. Kancing masih terbuka ditutupinya menggunakan tas dan berlari ke arah kamar mandi lain, mengunci rapat dirinya didalam dengan tangis kembali pecah. Untungnya Ia telah mengundurkan diri dari kepanitiaan turnamen melalui sambungan telpon pada kepala sekolah, hingga tanpa datang pun takkan ada yang mencarinya.


Kebodohan dan rasa bersalah mendera kuat diri Kenan, tak memahami kenapa rasa cemburu begitu cepat menghinggap hingga tanpa kontrol melakukan hal begitu menjijikan. Napas coba diatur lelaki yang masih berada di dalam kamar mandi itu, menghantam kuat dinding kamar mandi dan berlalu pergi tanpa mencari tahu dimana Angel saat ini.


" Tuan, Anda terluka " khawatir Ricko melihat darah pada tangan bosnya.


Hanya diam, Kenan menurut saja untuk dibawa sekretarisnya ke UKS dan membalut tangan berdarah itu dengan perban. Wajah Kenan hanya tersirat kebisuan penuh sesal dengan tatapan kosong. Tak tahu apa yang akan dipikirkan Angel setelah ini tentangnya, Ia sangat menyesal melakukan hal konyol seperti tadi.


Beberapa jam berlalu, turnamen sudah di mulai usai donatur tetap sekolah tersebut membuka dengan sedikit ucapan. Langkah tertatih, mengiringi Angel menuju UKS merebahkan diri di sana. Ponsel dalam tas coba diraih untuk menghubungi Olivia yang kala itu sudah dalam perjalanan ke sekolah mengantar bekal makan putrinya.


" Mama, tolong jemput Aku di sekolah. Aku sakit " tangis Angel seketika terhubung dengan Olivia.


" Tunggu Mama nak " khawatir wanita sudah menyiratkan kecemasan itu, meminta supir mempercepat laju kendaraan.


Sebelum sampai, Olivia mencoba menghubungi Pieter yang kala itu tengah berada di rumah dengan Alexa membiarkan kepala manja pada pahanya.


" Nak, Adikmu sakit sekarang Mama mau menjemputnya ke sekolah. Tolong kabari Tuan muda " cemas Olivia seketika membuat Pieter terkejut.


" Apa?!" teriak lelaki masih membiarkan kepala istrinya bersandar pada pahanya.

__ADS_1


" Ma, Aku akan.... " ucapnya terhenti seketika mengingat janji dan permintaan Alexa.


" Aku akan menghubungi Brandon " kilah Pieter menahan rasa ingin cepat menemui adiknya dan melihat sendiri kondisi Angel.


Janji yang sudah dibuatnya pada Alexa, membuat dirinya tak berdaya. Kekalutan menyelimuti dirinya yang tak bisa melakukan apapun saat ini. Tak tahu harus berbuat apa, mementingkan perasaan istri ataukah harus mengesampingkan demi memastikan sendiri kondisi Adiknya.


" Angel, ada apa dengan mu? tadi Kamu masih baik saja" batin lelaki dengan tangan memegang dada tersebut menahan sakit dalam dadanya.


" Tuhan, jaga Dia " tambah kembali seorang Kakak begitu tak berdaya akan permintaan istrinya.


Pieter hanya tak ingin menyakiti Alexa, namun keadaan saat ini benar benar terlalu menyiksa dirinya sendiri. Andai saja Alexa tak pernah mengatakan hal itu, mungkin kini Dia sudah menjelaskan segalanya. Namun karena tahu jika istrinya merasa sakit hati, tetap diam adalah pilihan terbaik walau menyiksa batinnya.


Tak ingin Alexa mendengar tentang Angel, Pieter memilih untuk mengirim pesan pada sahabatnya mengatakan jika kini Angel tengah sakit di sekolah dan dijemput oleh Olivia. Suami yang masih memimpin meeting di perusahaan itu. tak membaca pesan yang masuk karena ponsel tetap pada mode silent dari kemarin di dalam saku jas.


" Apa ada masalah? " tanya Alexa masih merebahkan kepala dari tadi usai sarapan dengan begitu manja.


" Tidak ada " lembut Pieter memaksakan senyum dan membelai rambut Alexa.


" Kak, Aku ingin Kita honeymoon selagi Kakak cuti. Bisa kan? " manja Alexa menarik tangan suaminya untu Ia dekap.


" Kita lihat nanti ya " senyum kembali dipaksakan dalam kekacauan hati juga pikiran.


" Lebih baik Kita menghabiskan waktu di kamar saja, disini kurang nyaman karena banyak orang " manja kembali Alexa hanya di angguki dengan senyuman paksa kembali.


Sorot mata kosong dari Pieter membawanya melangkah menapaki anak tangga menuju kamar dengan saling bergandengan. Jika mampu, rasanya ingin sekali Ia berlari menghampiri Adik dan Mamanya yang mungkin kini sangat membutuhkan dirinya. Kutukan pada diri sendiri tak mampu menjaga Mama serta Adik angkat terus terlontar dalam batin lelaki yang hanya bisa menuruti istrinya, demi menjaga perasaan gadis yang baru Ia nikahi.

__ADS_1


__ADS_2