
Cuplikan Bab ada di bawah! Follow IG Ilona_Shanum, untuk bisa membaca kisahnya.
ROMANCE-COMEDY
Alexander Nicholas ketahuan bercinta dengan sekretaris pribadinya di ruang kerja. Itu membuat sang daddy murka, dan ingin melemparkan Nicho dari perusahaan, juga kehidupan.
Namun, Nicho yang terbiasa dengan kemewahan, memohon dengan sangat, agar dirinya tak terusir. Hingga sang daddy mencetuskan sebuah surat perjanjian, dan Nicho langsung menyetujui tanpa berpikir panjang.
Nicho pun terjebak dengan persetujuannya sendiri. Di mana isi perjanjian adalah tentang Stella—sekretaris buruk rupa yang menjengkelkan, dan harus mengikuti Nicho selama 24 jam. Apa pun yang dilakukan oleh Nicho, harus dengan persetujuan dari sekretaris pribadinya.
Nicho muak. Tapi, sudah tidak bisa mundur, atau bahkan memecat sekretarisnya. Hingga tercetus ide gila untuk membuat sekretarisnya jatuh cinta, lalu mengendalikan sesuka hati.
Akankah Nicho berhasil membuat Stella jatuh cinta? Atau, justru dia yang menjilat ludahnya sendiri, dengan jatuh cinta lebih dulu?
Cuplikan Bab
“Kirimkan surat pengunduran dirimu, hari ini juga. Pergilah ke LA, dan menetap di sana. Aku tidak ingin melihat wajahmu.”
Raymond memecah keheningan, dengan suara sedikit pelan. Nicho tersentak, pandangan serta kepala tertunduknya, seketika diangkat olehnya.
“A—apa maksud, Daddy?”
“Kau mengerti apa maksudku, jadi jangan bertingkah bodoh. Aku tidak akan pernah membiarkanmu ada di perusahaanku lagi.”
“Kau sudah terlalu banyak membuat masalah untukku, dan perusahaanku. Akan lebih baik, kalau kau pergi menjauh dariku, juga hidupku mulai sekarang.”
Raymond menyiratkan kilau tajam dari kedua matanya pada Nicho, wajah pun dipasang serius olehnya.
“Aku tidak akan memecatmu, karena aku masih menghormati ibumu. Untuk itulah, akan lebih baik kalau kau mengundurkan diri, sebelum aku melupakan segalanya.”
“Tidak. Aku tidak akan pernah pergi ke mana pun juga!” Nicho menjawab tegas.
“Daddy tidak bisa mengusirku, hanya karena masalah ini.”
“Siapa yang tidak melakukan sepertiku? Semua orang melakukannya.”
“Lagi pula, apa yang salah dengan itu? Aku hanya menikmati keindahan dari Tuhan, dan aku yakin kalau daddy juga pernah melakukannya.”
“Nicho!”
Raymond berteriak, dia bangkit dari duduknya. Nicholas mengempiskan tenggorokan, wajahnya menegang, tatkala teriakan juga wajah garang diberikan padanya tanpa keraguan.
“Beraninya kau menyamakan diriku, dengan dirimu!”
“A—aku tidak menyamakan, aku hanya berpendapat.”
“Itu bukan pendapat, tapi sebuah tuduhan! Pergilah, sebelum aku menghabisimu dengan tanganku sendiri!”
“Apa daddy serius melakukan ini padaku? Apa daddy lupa, kalau aku adalah anak satu-satunya, dan hanya aku yang bisa meneruskan semua bisnis ini?”
__ADS_1
“Meneruskan? Apa yang kau maksud adalah menghancurkan?” Raymond melangkah mendekat.
“Sekali lagi, kau hampir membuat semua bisnisku hancur, Nicho!”
“Kau membiarkan klien penting menunggu begitu lama, hanya untuk jarak setengah jam dari kantor. Apa kau gila?”
“Kau tahu, berapa kerugian perusahaan? Apa kau juga tahu, betapa penting klien yang aku serahkan padamu, kemarin lusa? Apa kau bahkan peduli hal itu?”
“Itu bukan kesalahanku, Dad. Mereka sendiri yang salah, karena mereka tidak bisa untuk sabar.”
“Bukan aku juga yang membatalkan perjanjian, tapi mereka. Itu karena mereka tidak profesional.”
Nicholas membantah seluruh cerca kata Raymond—pria yang tersenyum sengit, menoleh ke sisi kiri.
“Profesional.” Raymond menggelengkan kepala lirih.
“Ya, profesional. Mereka tidak mengerti hal itu, Dad.”
“Kalau orang memang ingin menjalin kerja sama dengan serius, mereka tidak akan mempermasalahkan waktu enam jam, dan mengakhiri begitu saja.”
“Tidakkah daddy merasa, kalau kita sedang diselamatkan oleh Tuhan, dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab, dan tidak memiliki keprofesionalan dalam bisnis?”
“Bukan tidak mungkin, mereka akan pergi begitu saja ketika proyek sudah berjalan. Itu jelas memberikan kerugian besar pada perusahaan kita nanti, Dad.”
“Itulah, kenapa aku datang terlambat hari itu.”
“Aku hanya ingin menguji mereka saja. Tapi, sayangnya mereka tidak lolos dari ujian pertamaku. Dasar payah.”
“Daddy harusnya bangga, dan berterima kasih padaku.”
”Karena sudah berhasil menyelamatkan perusahaan kita, sebelum terjerumus dalam kebangkrutan di masa depan.” Nicho mengangguk yakin, berulang.
“Aish, dasar anak bodoh!”
Raymond mengangkat tinggi tangan ke udara, Nicho lekas menyilangkan tangan dan berlindung, sedikit membungkukkan tubuh.
“Ah, Daddy!” refleks Nicho bersembunyi pada kedua lengannya.
“Kau pikir, daddy anak kecil yang bisa kau bodohi? Berbicara seperti orang paling benar, hanya untuk membela dirimu saja!”
“Kau berkencan dan melupakan janji dengan klien, kau juga tidak berusaha menghubungi mereka untuk minta maaf.”
“Apa itu profesional, dan tanggung jawab?”
“Jangan kau pikir, daddy tidak mengetahui apa yang terjadi hari itu!”
“Tuan Smith sudah menghubungi daddy, dan menjelaskan segalanya. Bodyguard juga sudah menceritakan semua.”
“Kau masih ingin berkilah sekarang? Masih ingin membenarkan dirimu sendiri, huh?”
__ADS_1
Raymond berubah geram sekali lagi, setelah susah payah ia menurunkan emosi, dan menenangkan diri. Pria bertubuh tegap itu pun, meletakkan kedua tangan pada pinggang, selama mencerca putranya.
Semula, Raymond datang untuk membahas perihal klien. Namun, siapa sangka jika hal lain didapatkan. Pria yang baru saja mendarat dari Singapura itu, semakin meradang dibuatnya.
“Mulai hari ini, kau dipecat!”
Raymond menekan kata seriusnya, lalu melewati tubuh sang anak dan menuju pintu. Nicho terbelalak kaget, refleks menegakkan tubuh dan mengejar daddy-nya.
“Ah, jangan lakukan hal itu padaku, Dad.”
“Jangan terlalu kejam padaku, atau aku akan mengadukan semua ini pada mommy.” Nicho merengek, memeluk Raymond dari belakang.
“Lepaskan aku!” Raymond memaksa tangan putranya terlepas, dari perutnya.
“Tidak akan, sebelum daddy mencabut kata-kata mengerikan itu. Daddy tidak boleh memecatku, daddy hanya bisa memberiku kesempatan sekali lagi.”
Nicholas terus merengek, tubuhnya bergoyang-goyang, itu membuat Raymond risi dan coba membebaskan tubuhnya, lebih kuat lagi.
Tangan Nicho menyatu di depan perutnya, terlalu menekan dan membuat sesak. Raymond menarik kedua tangan putranya dengan tenaga penuh. Pria itu berbalik, mata melotot tajam pada Nicholas.
“Kesempatan? Apa yang kau maksud, adalah kesempatan untuk menggilir semua pegawai wanita di sini? Menjajahi tubuh mereka, dan meninggalkan saat kau bosan?”
Nicho terdiam, tapi manik matanya berkeliaran ke sekeliling ruangan, demi menghindari tatapan bak belati sang daddy. Wajah terpasang memelas, kepalanya tertunduk dan mengatupkan bibir.
Raymond terlihat frustrasi, dia mengusap kasar wajah dengan telapak kiri, setelah melihat ekspresi memelas yang dipasang oleh putranya. Itu tak berbeda dari Nicho kecil, yang hanya bisa diam dan memasang wajah sedih, kala dimarahi.
“Tuhan, apa yang harus aku lakukan padanya?” lenguh Raymond.
“Baiklah. Aku akan memberikanmu kesempatan terakhir!”
Sang penguasa bisnis itu berkata, seraya mengembuskan napas panjang. Nicho mengangkat kepala, wajahnya berubah cerah dengan binar mata menghiasi.
“Ingatlah, kalau ini adalah kesempatan terakhir bagimu. Sekali saja kau membuat kesalahan, maka anak buahku yang akan langsung bertindak.”
“Hehehe, tentu saja. Aku akan berubah menjadi lebih baik lagi, dan tidak akan pernah membuat daddy kecewa. Hehehe.”
Nicho cengengesan, wajahnya kini bertabur kepuasan serta kemenangan. Raymond menghela napas panjang, setelah udara dalam ruangan ditarik serakah olehnya.
“Tapi, sebelum itu semua. Kau harus membuat kesepakatan denganku lebih dulu.”
“Ya. Kita memang harus membuat kesepakatan, Dad!”
Nicholas mengulurkan tangan ke arah daddy-nya, tanpa mengubah wajah semringah juga semangat.
Tapi, tuan muda berkemeja hitam itu tidak mendapat balasan tangan, dari pria yang malah berbalik badan untuk menghubungi seseorang.
Nicho mengerucutkan bibir, menatap tangannya sendiri. Namun, itu tak berlangsung lama. Karena tawa kemenangan disuarakan olehnya, setelah senyuman lebih dulu dikembangkan, bersama kedua pundak terangkat.
Raymond mendengar tawa, dia menoleh dan Nicho sudah membekap mulutnya sendiri. Tapi, pria yang masih tampan di usia lima puluh satu tahun itu, justru mengukir senyum smirk.
__ADS_1
“Lihat saja. Setelah hari ini, kau akan terus tertawa atau memasang duka setiap hari, Nicho.” Raymond menarik ujung bibir kanan atas, tanpa berpaling dari pengamatannya pada sang anak.