
Bahkan Alexa juga mengatakan jelas pada kedua orang tua serta neneknya, jika hubungan kakak dan kakak iparnya telah kandas. Kebohongan demi kebohongan terpaksa dilontarkan, untuk melindungi pernikahan dua insan tak mungkin untuk dipisahkan.
Brandon tahu seberapa keras watak Gaida yang rela melenyapkan siapapun dengan banyak cara licik. Untuk itu istri juga kehadiran anaknya tak bisa untuk diungkap kembali usai apa yang terjadi.
Kabar penyerangan yang diterima Brandon ketika istrinya di Jerman, cukup menjadi landasan kuat dirinya mengungkapkan sebuah perpisahan terang terangan.
Sebuah penyerangan dengan niat ingin melenyapkan Angel dari Gaida juga Sasmita, membuatnya geram. Namun tak mungkin bagi dirinya untuk membalas, dan memilih melindungi dalam diam.
Hal itu bisa saja terulang kembali saat mengetahui jika Angel masih mendampingi hari harinya. Perpisahan akan sebuah kematian takkan mungkin bisa untuk diterimanya kembali, setelah beberapa tahun kehilangan saudaranya.
***
Melintasi jalanan cukup padat, Nathan dan Nicko tak menunjukkan sikap rewel sama sekali. Mereka malah tertidur pulas dalam pangkuan kedua orang tua mereka. Sengaja Brandon tak menggunakan car seat, karena ingin dekat dengan buah hati tercinta.
Sebuah halaman luas dimana banyak sekali memori ditinggalkan akan sebuah perjuangan mendapatkan istrinya, mereka masuki dengan pengawal memberikan hormat seperti biasa.
Angel tersenyum, terlintas banyak hal gila yang terjadi. Tak berbeda dari istrinya, Brandon juga tersenyum melihat sudut halaman lama tak ia kunjungi. Perpisahan, pertengkaran, cinta, air mata semua terlintas jelas dalam benak keduanya.
"Why?" tanya Brandon pada istri di sebelahnya, Angel tersenyum menoleh pada lelaki tampak semakin tampan dalam pertambahan usia.
"Kamu ingat kita sering menghabiskan waktu di taman? kamu berlari cuma untuk mencari keringat" senyum Angel bercerita, Brandon meraih tangan istrinya.
"I love you" tulus Brandon, menghentikan pembahasan masih meninggalkan banyak luka.
"I love you too" sahut Angel, memahami tujuan suaminya. Brandon memiringkan tubuh dan mencium bibir istrinya kilas, saling menatap juga tersenyum.
Kehilangan dua bayi kembar yang telah dinantikan, tak bisa meringankan beban Brandon sedikitpun. Ia tahu apa yang dimaksud oleh istrinya, untuk itu ia coba menghentikan agar tak terlalu membahas dan membuat istrinya mengingat hal buruk dalam hidupnya.
Meskipun telah digantikan oleh dua bayi lagi dalam hidup mereka, baik Brandon dan Angel tak pernah melupakan kedua calon anak yang sudah tenang di sisi Tuhan. Terkadang Brandon juga menyempatkan waktu mengunjungi makam putranya di puncak, tanpa mengajak istrinya.
Banyak sekali penderitaan dan air mata selama perjalanan rumah tangga mereka, perjuangan tanpa kata akhir mereka jalani meski harus mengorbankan diri sendiri di dalamnya. Brandon tak mau itu semua terulang kembali, dan berusaha sebisa mungkin hanya memberikan kebahagiaan.
__ADS_1
Mobil terhenti di depan teras, Santos mengetahui kehadiran Tuan muda nya dari panggilan penjaga diluar, sudah siap di teras untuk menyambut. Sangat merindukan seseorang telah dirawat dengan kedua tangannya, Santos berjalan menghampiri pintu mobil terlah terbuka.
"Tuan muda" tegur Santos, membungkukkan sedikit tubuh. Air matanya tertahan akan rasa haru melihat Tuannya menggendong bayi mungil.
"Kau masih hidup rupanya?" santai Brandon, dibalas senyum pria tua di hadapannya.
"Nyonya muda" sapa Santos melihat Angel turun dari mobil, tampak cantik dengan senyum lebar di bibirnya.
"Tuan Santos, aku sangat merindukan dirimu" bahagia Angel, berjalan menghampiri namun dicegah suaminya.
"Kamu berselingkuh dengannya?! kenapa kamu sangat senang bertemu dengannya?!" tegas Brandon, melebarkan senyum dua orang di teras.
Tidak pernah terluka akan godaan dari Tuan muda berekspresi datar setiap hari, justru itulah yang amat dirindukan oleh Santos. Ketiga orang di dalam yang mendengar suara Brandon bergegas menghampiri, dan tampak bahagia melihat.
"Kakak!" teriak Alexa berlari, memeluk kakaknya.
"Jangan bersandiwara! kamu baru kembali dari menumpang di rumahku!" tegas Brandon, memajukan bibir Alexa kesal dan melepas pelukannya.
"Kenapa?" tanya Angel tak mengerti akan sikap bergidik ngeri yang ditunjukkan suaminya.
"Dia selalu berhasrat denganku, aku takut dekat dengannya" bisik lirih Brandon, terbahak Angel mendengarnya.
"Suami diidamkan wanita lain, kamu malah tertawa. Dasar bodoh!" kesal Brandon, ditinggalkan istrinya begitu saja saat melihat Adiyaksa.
"Daddy" sapa Angel pada pria berdiri menatap haru pada dirinya juga Brandon serta dua bayi mungil dalam dekapan.
Adiyaksa tak sanggup berkata kata, ia hanya bisa memeluk menantu cantiknya. Mencium kening serta menitikkan air mata. Apa yang dilihatnya saat ini benar benar seperti sebuah harapan besar yang terwujud.
"Daddy, don't kiss my wife" tegur Brandon, tersenyum lebar Adiyaksa menyeka air mata.
"Anak nakal!" tegas Adiyaksa, saling melangkah bersama putranya untuk mendekat dan memeluk.
__ADS_1
Putra selalu dibanggakan, putra telah banyak menanggung beban seorang diri, kini dapat dilihatnya bahagia dalam binar mata yang ditunjukkan. Adiyaksa tak mampu menahan haru dalam kebahagiaan, air mata mengalir begitu saja tanpa perintah juga perijinan.
Adiyaksa meraih tubuh cucunya dalam dekapan putranya usai menyeka air mata. Menggendong penuh kasih sayang bayi mungil memiliki wajah kedua orangtuanya. Adiyaksa menaikkan gendongan dan mencium cucunya berulang.
Brandon tersenyum merangkul istrinya, menatap kkebahagiaan dari Adiyaksa akan kehadiran cucu dalam hidupnya. Rasa khawatir yang sempat membayangi, seketika sirna dari Brandon begitu melihat ketulusan dalam rasa bahagia Daddy nya.
Bersama masuk ke dalam rumah, Brandon tidak melepaskan pundak istri untuk dirangkul. Tak kalah bahagia juga haru, Pieter dan Alexa yang mendapati Adiyaksa seperti itu juga tersenyum. Bahkan Alexa tanpa sengaja menitikan air mata, akan sikap ditunjukkan pria sudah sangat ingin ditemui sejak lama.
Langsung duduk ketika sudah tiba di ruang tamu, Adiyaksa meminta satu cucunya lagi dari menantunya. Ia ingin mendekap keduanya bersama, membuat kedua cucunya mengenal akan dirinya. Angel yang masih berdiri, meletakkan perlahan tubuh putranya dalam tangan kiri Adiyaksa.
"Mereka sangat tampan" puji Adiyaksa berkaca kaca.
"Daddy nya saja tampan" kata Brandon, berjalan duduk di samping Adiyaksa.
"Tapi mereka lebih mirip Angel dari pada dirimu, semoga wataknya juga sama seperti Angel" ucap Adiyaksa berniat menggoda.
"Tidak mungkin Daddy, aku yang berperan penting" bangga kembali Brandon, tersenyum setiap orang di ruang tamu tak berubah sedikitpun.
Alexa dan Pieter memang melarang siapapun untuk merubah semua di rumah, agar tetap mampu merasakan kehadiran Brandon di rumah tersebut. Semua masih sama, bahkan letak dari satu barang paling kecil seperti vas bunga pun tak berubah sama sekali.
"Boleh mereka tidur bersama Daddy malam ini?" tanya Adiyaksa, ingin lebih dekat dengan kedua cucunya.
"Sangat boleh" tersenyum penuh arti Brandon menjawab.
"Jelas boleh, dia bisa leluasa membuat suara aneh malam ini" sahut Alexa, mendapat lemparan bantal seketika.
"Kamu tidak membelaku?!" kesal Alexa melotot ke arah suami tertawa di sampingnya.
"Mana aku berani?" santai Pieter menjawab, mendapat acungan jempol sahabatnya.
"Ah, kalian berdua kalau sudah bersama memang sangat ingin melenyapkanku!" kesal kembali Alexa, melipat kedua tangan di depan dada.
__ADS_1