
Sengaja di tulis ulang karena semua sudah di hapus dan karena masih ada yang mau untuk dilanjutkan jadi pasti ada perbedaannya. Maaf banget ya tolong jangan menekan untuk semua alur yang kalian inginkan, karena pasti bakal nemu part piter sama alexa kalau kalian baca. Aku buat sesuai alur jadi terserah mau baca atau engga. Udah sampai stres karena komen2 yang seakan menekan untuk mengikuti semua keinginan kalian, dan di awal pieter sebenarnya sama viena terus alexa ada sendiri, tapi sudah dituruti buat rombak lagi dan itu juga masih harus kena protes. So please buatlah karya kalian sesuai alur kalian kalau emang gak suka dengan alur cerita orang lain, thanks.
-----------------------------------------------------
Pukul 05.30, Angel sudah mulai terbangun karena rasa nyeri yang Ia rasakan pada perutnya. Gadis yang masih meletakkan kepala pada paha suaminya, mencoba membangunkan lelaki yang masih melingkarkan tangan kiri di perut Angel.
" Sayang, bangun " lirih Angel menahan sakit dengan menggoyangkan paha lelaki yang masih lelap dalam posisi duduknya.
Perlahan gadis yang merasa adanya sesuatu keluar dari miliknya itu beranjak bangun, berjongkok di hadapan kaki suaminya. Matanya terus terpejam kasar sembari mengernyitkan kedua alis menahan rasa sakit pada perut bagian bawah nya. Napas terus berusaha Ia atur demi menekan rasa sakit dan menenangkan dirinya sendiri.
" Angel, Kamu kenapa? " khawatir Brandon terkejut ketika tak mampu merasakan adanya gadis berusia 17 tahun yang mengandung anaknya itu tak ada dalam jangkauan tangannya.
" Sakit " rintih Angel memegang kedua lutut suaminya.
Dengan wajah khawatir, Brandon bangkit dari duduknya dan membantu Angel berdiri. Namun gadis yang telah mengeluarkan darah dari jalan lahir itu tak mampu untuk berdiri tegak, dan masih memegangi perut bawahnya dalan posisi berdiri setengah membungkuk.
Teriakan keras Brandon memanggil Adiyaksa juga Olivia, seketika membangunkan Alexa dan Pieter yang masih terlelap dalam sofa panjang samping sofa tempat Brandon dan Angel tidur semalam. Adiyaksa dan Olivia bergegas menghampiri suara lelaki yang sudah mengangkat tubuh istrinya itu dengan perasaan khawatir, dimana sudah ada Alexa juga Pieter berdiri begitu cemas di samping Brandon.
__ADS_1
Melihat adanya darah di lantai tempat Angel berjongkok tadi, Olivia benar benar ketakutan dan panik. Dengan cepat Pieter mengambil kendaraan untuk membawa Adiknya ke rumah sakit agar cepat mendapat pertolongan. Dimana Brandon dengan begitu panik serta rasa takut yang besar sudah lebih dulu keluar.
Mobil sedan hitam dipacu Pieter dengan kecepatan penuh untuk membawa gadis yang kini sudah tak sadarkan diri dalam dekapan suaminya di jok belakang. Viena yang memiliki kemampuan mengemudi seperti kedua sahabat itu, memacu dengan kecepatan sama tepat di belakang mobil Pieter untuk mengantar ketiga orang dengan wajah cemas itu ke rumah sakit.
Sampai nya di rumah sakit, sebuah brankar dorong sudah siap membawa Angel ke ruang pemeriksaan di dampingi dengan Pieter juga Brandon ikut mendampingi di samping brankar yang di dorong cepat oleh dua orang perawat. Brandon ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan dimana sudah ada Dokter perempuan siap menolong gadis 17 tahun yang masih tak sadarkan diri itu.
Dokter spesialis kandungan yang memeriksa Angel dengan keseluruhan, begitu yakin mengatakan jika janin kembar dalam rahim Angel telah meninggal karena kurangnya oksigen dan harus segera dikeluarkan karena plasenta yang terlepas dari dinding rahim. Detak jantung janin sudah tak mampu di dengar lagi semakin meyakinkan calon Ayah itu jika kedua anaknya sudah tiada.
Hipertensi yang pernah di diagnosis oleh Dokter sewaktu pemeriksaan rutin adalah penyebab terjadinya solusio plasenta pada Angel. Meski obat obatan terbaik sudah dipilih Brandon untuk istrinya, tetap saja hal ini tak bisa Ia cegah dan mengakibatkan bayi kembar mereka meninggal bahkan sebelum di lahir kan.
Keinginan untuk menimang bayi kembar, seketika sirna dari diri lelaki yang berdiri dengan begitu tak berdaya sembari menggenggam kuat besi ranjang tempat istrinya terbaring begitu lemah dan pucat. Walaupun Ia tahu segala resiko yang akan di alami istrinya dan terjadi setiap saat, namun keinginan untuk memiliki anak membuat Brandon tetap mempertahankan kehamilan istrinya tanpa menceritakan kondisi sebenarnya pada Angel.
" Ba.. ba.. baik Tuan " jawab Dokter dalam balutan jas putih yang tahu tentang lelaki yang membawa gadis dengan pendarahan hebat itu.
Ekspresi wajah tak berdaya, mengiringi langkah Brandon keluar dari ruang pemeriksaan. Tubuh lemah Ia sandarkan pada kursi besi tepat di dekat ruangan, dimana sudah ada Pieter dan keluarganya menunggu.
" Ada apa? bagaiman keadaan Angel? " khawatir Adiyaksa duduk di samping lelaki yang sudah menyandarkan kepala di dinding memejamkan mata.
__ADS_1
" Brandon, kenapa Kau seperti ini? apa yang terjadi? " tambah Pieter tak pernah melihat sahabatnya terlihat begitu hancur.
" Anak anak Kami tiada, dan sekarang Angel akan di operasi untuk mengambil mereka " jelas lirih Brandon mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya mengarah keatas hingga rambut seraya membuang napas panjang.
" Apa? " seru kelima orang yang sudah berdiri di depan Brandon terkejut, dan langsung memecahkan kembali tangisan Olivia juga Alexa yang saling memeluk.
" Ini semua salahku, kalau saja Aku tidak membuatnya hamil maka Dia tidak akan bertaruh nyawa saat ini " ucap Brandon mengingat perkataan Dokter jika bisa saja Angel kehilangan nyawa dengan kondisi pendarahan saat ini dan telat sedikit saja ke rumah sakit.
" Harusnya Aku dengar saran Dokter untuk tidak mempertahankan anak Kami dari dulu, tapi Aku terlalu egois karena ingin punya anak dan tak peduli ucapan Dokter" tambah Brandon dalam penyesalan dan ketidak berdayakan nya saat ini.
" Aku tidak bisa kehilangan Angel Dad, Aku sangat membutuhkannya. Aku sangat mencintai Angel, Aku takut Dia juga akan pergi seperti anak anak Kami " tambah kembali Brandon sudah mengurai air mata dalam dekapan Adiyaksa.
" Kuatkan dirimu nak, tidak akan terjadi apapun pada Angel dan kalian bisa memiliki anak lagi. Semua sudah terjadi, tidak ada yang harus di sesali, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri " lembut Adiyaksa mengusap punggung putranya.
" Tenanglah " ucap Pieter mengusap punggung sahabatnya masih terap berdiri di samping lelaki yang di dekap oleh Adiyaksa itu.
Pieter mencoba menyembunyikan mata yang sudah berkaca kaca, tak sanggup membayangkan Adiknya yang masih berusia 17 tahun harus menghadapi hal begitu besar dalam hidupnya. Ia hanya bisa berharap jika Angel akan selamat dan bisa menerima semuanya.
__ADS_1
Kabar meninggalnya kedua anak Angel, seakan membawa kembali memori Pieter dimana Ia harus menghadapi kematian Adik kandungnya. Ia begitu paham apa yang dirasakan sahabatnya saat ini, yang bahkan pernah ada di posisi hilang harapan seperti yang ditunjukkan oleh Brandon. Hancur, lemah, tanpa adanya keinginan hidup lagi sudah pernah dialami Pieter dalam keterpurukan begitu dalam ketika kehilangan Adik kandungnya, Ia tak ingin kembali merasakan hal itu karena rasa sayangnya begitu besar pada Angel.