Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
Bab 229


__ADS_3

Ditempat lain dalam waktu tak jauh berbeda, Vienna dan Darrell batu saja menyelesaikan tugas mereka dengan rapih. Keduanya langsung kembali ke rumah Darell, tanpa mau ikut bergabung bersama Yudha juga lainnya.


Tubuh terasa lelah akibat pergulatan hebat, keduanya ingin sekali menyegarkan diri dan beristirahat. Vienna tak mungkin kembali ke kediaman Brandon, karena ia mendapatkan perintah untuk iku merayakan kemenangan. Untuk itulah ia bersedia ikut ke kediaman Darell, walau sangat ingin bertemu dengan putranya.


"Kamu mandi di kamar dan aku di kamar tamu" ucap Darell begitu tiba di rumah.


"Tidak, pakai saja kamarmu" sahut Vienna.


"Mau mandi bersama saja? daripada kita saling berdebat" santai Darell tersenyum menggoda.


"Aku mandi" singkat Vienna segera masuk ke dalam kamar Darell.


"Dasar" senyum Darell melihat kepergian Vienna begitu saja.


Sikap terkadang dingin, kadang juga hangat, membuat Darell semakin mencintai Vienna. Seorang perempuan yang sangat menarik untuk dicari tahu lebih dalam, penuh misteri juga teka teki akan sikapnya.


Sebuah rasa karena penasaran, berubah menjadi cinta seiring berjalannya waktu. Sikap dingin dari seorang petarung sejati, menjadi daya pikat tersendiri dari ibu beranak satu tersebut.


Awalnya Darell tak pernah menyangka jika dirinya akan jatuh cinta pada sosok wanita yang di anggap menyeramkan, juga sadis. Siapapun yang melihat aksi Vienna ketika bertarung, mungkin akan takut dan berpikir sejuta kali untuk mendekati.


Namun itu malah membuat Darell semakin tertantang untuk mendapatkan. Bagaimana tidak? memiliki kekasih atau istri seorang bodyguard kejam, merupakan sebuah hal yang patut untuk dibanggakan.


***


Beberapa waktu berlalu, Vienna sudah keluar mengenakan kemeja putih milik Darell. Ia tak memiliki pakaian ganti di tempat kekasihnya, untuk itulah ketika mandi tadi, sengaja Darell menyiapkan kemeja miliknya. Tampak besar dikenakan oleh Vienna yang bertubuh ramping bak model kelas atas.

__ADS_1


"Aku buatkan makan untukmu, daritadi kamu belum makan" ucap Vienna menghampiri lelaki sudah tampak segar, duduk di ruang tengah.


"Kita masak bersama" sahut Darell, berjalan mengikuti perempuan dengan rambut setengah basah tergerai.


Memasak bersama untuk mengisi perut, sebuah masakan mudah agar dapat segera dinikmati sebelum tidur. Vienna dan Darell hanya menyiapkan spaghetti untuk mereka berdua. Mata Darell tanpa henti mencuri pandang dari tubuh indah yang kini menonjolkan kaki ramping nan seksi.


"Bukankah kamu berjanji akan menikah denganku setelah semua ini usai?" lirih Darell berbisik, sudah memeluk Vienna dari belakang.


"Darell lepaskan, jangan bergelayut seperti ini" ucap Vienna merasa risih dengan kepala lelaki dipundaknya manja.


"Tidak bisakah kita menikah?" tanya kembali Darell tanpa menggubris ucapan Vienna.


"Aku sudah berjanji, aku akan menepati hal itu. Lagipula Dio juga sudah menerimamu sepenuhnya" sahut Vienna, menyiapkan spaghetti di atas piring.


"Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk kita" jawab Darell tulus.


Pinggang terus ditahan menempel pada tubuhnya, dengan tangan Vienna sudah ia letakkan di tengkuknya bersamaan. Mengetahui akan hasrat dari lelaki terus mencumbunya, Vienna mencoba menghentikan dan menahan kuat tangan hendak beralih ke bagian lain tubuhnya.


"Sudah pagi, cepat selesaikan ini dan makan. Kamu butuh istirahat" ucap Vienna, memundurkan tubuh dari lelaki dihadapannya.


"I want you" ucap Darell, memegang kedua sisi wajah Vienna dan menatapnya tulus.


"I know, but sorry I can’t" sahut lembut Vienna, mengangguk Darell mengerti dan mengecup keningnya.


"I love you, Vienna. I really, really love you" tulus Darell usai mencium lama kening perempuan langsung memeluknya.

__ADS_1


Jika saja Vienna tak menghentikan, mungkin saja prinsip yang dipegangnya selama ini akan hancur begitu saja. Sebagai lelaki normal, jelas Darell menginginkan sesuatu lebih dalam situasi saat ini. Apalagi tubuh Vienna selalu mampu menggoda setiap mata yang memandang.


New York...


Kabar kekalahan juga kematian Jackson sudah sampai ditelinga Robert, kakak dari Jackson yang juga seorang pimpinan tinggi kelompok hitam. Tak terima akan kematian sang adik, Robert naik pitam dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari segala informasi tentang Brandon.


Robert tak terima akan kematian adiknya, dan berniat ingin membalas dengan cara berbeda. Sebuah kematian perlahan yang menyakitkan, akan dipergunakan Robert untuk membalas nyawa adik tercintanya.


Kabar duka dimana ia tak bisa lagi melihat mayat sudah terbakar tanpa sisa, semakin membuatnya geram dan terbakar api dendam. Hidupnya takkan pernah tenang sebelum bisa membalas setiap tetes darah adiknya.


"I'll find and kill you, Alexander Brandon Haidar!" geram Robert, menekan kuat dua sisi meja tempatnya berdiri sekarang.


Matanya menyiratkan api membara akan sebuah dendam, rahangnya mengeras beriringan dengan sorot mata tajam. Tangan menggenggam kuat hingga bergetar pada kedua sisi meja, benar benar tak menerima akan nyawa yang berakhir ditangan iblis semacam Brandon.


Permusuhan, dendam dan pertumpahan darah mungkin takkan pernah usai dari kehidupan Brandon. Semakin banyak orang orang dari masa lalu, mungkin akan bergabung bersama Robert yang menyiapkan sebuah pembalasan besar dan lebih kejam dari apa yang dilakukan Brandon.


Brandon sendiri menyadari hak itu ketika kembali ke rumah bersama Pieter. Bahkan ia sudah membahas lebih dulu mengenai Robert, karena dia sendirilah yang memerintahkan orang untuk memberikan kabar duka pada Robert.


Bukan mencari mati, tapi ia ingin memancing keluar Robert dari sarang agar bisa menghabisi sampai tuntas semua pengganggu dalam hidup tenangnya. Brandon juga meminta agar Pieter menyiapkan segala keamanan lebih untuk rumahnya, dan mengganti segala teknologi yang kini terpasang.


Tidak seperti Jackson yang mudah untuk dikalahkan, Robert adalah singa dari segala singa yang menyeramkan. Jika ada pimpinan lebih tinggi dan ditakuti dalam dunia kegelapan, dialah Robert. Seorang yang dianggap sebagai nenek moyang iblis.


Bahkan rumornya, terakhir kali Robert menampakkan diri yaitu ketika Jackson berada dalam masalah tiga tahun lalu. Tak tanggung tanggung, Robert menarik kerongkongan seseorang yang mencari masalah dalam perjudian bersama adiknya.


Tanpa ampun, Robert membedah leher dan menarik semua yang ada di dalamnya. Lebih dari Brandon, ia bahkan menggunakan bola mata setiap orang yang dihabisi dengan bringas sebagai koleksi.

__ADS_1


Layaknya bola pingpong, Robert meletakkan banyak bola mata yang terkumpul selama bertahun tahun dalam sebuah aquarium. Bola mata sudah di awetkan, kadang menjadi mainan ketika dirinya tengah bosan.


Robert juga memiliki banyak peliharaan hewan buas, dimana makanan mereka bukanlah daging hewan lainnya, melainkan daging manusia masih hidup. Psikopat gila yang terkenal akan kebengisannya, tidak akan mudah melepaskan siapapun yang menjadi target.


__ADS_2