Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
BAB 207


__ADS_3

Di rumah, Olivia sudah tiba bersama asisten rumah tangganya juga Quen. Angel yang nendapat kabar jika Mamanya datang, langsung turun kebawah dan menyapa. Dilihatnya Olivia sudah bersama Quen juga Alexa.


"Kenapa mama kemari malam malam? apa ada masalah?" memeluk mamanya llu bertanya.


"Mama tidak mengerti, tapi Tuan muda meminta kami kemari untuk menemani mu" sahut Olivia memegang kedua pundak perempuan sudah berganti dengan piyama hello kitty berwarna putih.


"Baiklah ma, lebih baik mama istirahat dulu sekarang ini sudah larut" lembut Angel mengatakan pada wanita di hadapannya.


"Iya sayang, kembalilah ke kamar kasian mereka jika sendirian" sahut Olivia masih dengan senyum pada wajah cantiknya, dan dibalas anggukan oleh Angel.


Keduanya menatap ke arah Alexa dan Quen, terlihat Alexa sangat kesal pada putri kecilnya dan duduk melipat kaki juga tangan di depan dada. Olivia menghampiri keduanya dan duduk meraih tubuh Quen lalu di pangku.


"Kenapa Alexa?" lembut Olivia menatap menantunya.


"Lihatlah maya, dia tidak mau denganku" kesal Alexa melirik putrinya, di balas senyuman Olivia juga Angel.


"Baiklah, biarkan dia denganku. Lebih baik kamu istirahat ini sudah malam" ucap Olivia pada menantunya yang masih kesal dan memajukan bibir.


Sedari sampai, Quen selalu inhin lepas dari dekapan mamanya. Sepertinya ia lebih nyaman bersama Olivia, hal itu membuat Alexa sangat kesal dan terus menggerutu pada putrinya sendiri. Ketiganya memasuki kamar masing masing, dengan Quen ikut bersama neneknya.


***


Tepat tengah malam, Brandon baru kembali bersama Pieter. Keduanya satu mobil bersama, dan mobil Pieter dibawa oleh salah satu pengawal Brandon. Pieter tidak mengijinkan sahabatnya itu untuk mengemudi setelah menghabiskan satu botol wine seorang diri.


Berdua menapaki anak tangga dan masuk ke kamar mereka masing masing. Di dalam kamar Pieter melihat istrinya tengah tertidur sorang diri, ia pun membangunkan sejenak untuk menanyakan keberadaan putrinya. Berulang kali mencoba membangunkan, akhirnya peremphan dengan setelan piyama sutra berwarna biru itu membuka mata.

__ADS_1


"Dimana Quen? kenapa kamu tidur sendiri?" tanya Pieter sudah duduk di tepi ranjang, tepat di depan perut istrinya.


"Jangan menanyakannya, dia sangat menyebalkan. Mana ada anak tidak mau dengan mama nya sendiri?!" kesal Alexa, membuat suaminya tersenyum menarik hidungnya.


"Tidur lagi, aku akan mandi sebentar setelah itu aku temani" sahut Pieter masih tersenyum memegang lengan istrinya.


"Hm, jangan lama lama" manja Alexa menatap suaminya.


Mencium sejenak istrinya, Pieter beranjak dan melepas kemeja lalu berjalan ke arah kamar mandi. Alexa menunggu dengan memcoba membuka mata, namun tidak kuasa lagi untuk membuka karena rasa kantuk teramat.


Sedangkan Brandon, begitu sampai kamar langsung tengkurap di samping istrinya dengan menyupkan wajah pada samping leher Angel. Tangannya melingkar pada perut perempuan tengah tidur terlentang. Perlahan, Angel mulai membuka mata saat merasakan beban di atas perutnya, ia mengangkat tangan masih dengan kemeja hitam panjang itu menjauh.


"Kenapa? aku tidak boleh memelukmu?" tanya Brandon masij mendekatkan wajah pada sisi leher istrinya.


"Kamu minum, mandi lebih dulu atau anak anak akan mencium aromamu" ucap Angel mencium kuat aroma wine pada suaminya.


"Baiklah, tidur saja. Aku akan mengganti pakaian sebentar" ucap Angel mencoba beranjak dari tidur, nmun kembali Brandon melingkarkan tangan pada perutnya.


"Bau mu menempel, aku harus memberi mereka ASI nanti" protes Angel, diatatap langsung suaminya dengan mengangkat kepala.


"Kenapa kamu tidak pernah menginginkanku? kamu bosan denganku?" lirih Brandon menatap kedua mata istrinya.


"Kamu mabuk, aku akan buatkan air madu setelah mengganti pakaian" ucap Angel mencium kuat alkohol dari nafas suaminya.


"Jawab saat aku bertanya! kamu mendapatkannya dari laki laki lain, sampai sampai kamu tidak pernah memintaku untuk menyentuhmu?!" nada Brandon meninggi masih menatap istrinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? kamu lima bulan tidak sadar, dan setelah sadar kamu sendiri yang tidak bisa melakukannya. Kamu benar benar mabuk, lebih baik kamu istirahat atau mereka akan terbangun nanti" jawab Angel lembut.


"Aku merindukanmu Angel, aku menginginkamu" berangsur lirih suara Brandon berucap.


"Kalau aku bisa pasti akan aku lakukan, tapi aku baru saja melahirkan dan kamu tahu sendiri darah itu masih keluar, maafkan aku" tulus Angel memegang kedua sisi wajah suaminya.


"Lebih baik kamu tidur, aku akan disini bersamamu" kembali Angel mengatakan tulus.


Meletakkan kepala suamiya di atas dada, Angel membelai rambut suaminya dan membiarkannya terlelap di sana. Tangan kokoh masih melingkar pada perutnya dan mendekapnya, seakan tak ingin lagi melepaskan.


Di tempat lain, semua anak buah Brandon masih berada di gudang senjata dengan semua perencanaan mereka yang telah di berikan arahan oleh Tuan mereka. Darell menjabarkan dengan rinci setiap orang yang akan di hadapi mereka. Besok adalah hari dimana mereka akan mulai berjaga, karena dari informasi yang di dapat Kenan sudah mukai bergerak bersama Jackson, untuk penyerangan.


Setiap titik yang ditunjuk Brandon harus sudah mulai mereka jaga. Titik yang sudah menjadi wacana Brandon, yang sudah bisa dipastikan akan memudahkan anak buahnya melawan tanpa melibatkan orang luar. Ia tak inhin ada korban dalam penyerangan Jackson, bahkan orang orang yang tidak terhubung di antaranya.


Setelah menyelesaikan pembahasan yang berakhir hingga pukuk tiga dini hari, Darell kembali bersama Viena juga lainnya. Hnya meninggalkan beberapa orang yang memang berjaga di gudang senjata tersembunyi tersebut. Darell dan Viena menuju rumah Darell yang ia beli sendiri, karena tak enak harus tetap berada di rumah Olivia.


"Viena, bisakah kita tidur bersama malam ini? hanya malam ini saja" ucap Darell dalam suara dalam sedikit serak sambil menahan tangan Viena ketika mulai memasuki rumah.


"Tidak" singkat Viena.


"Aku tidak akan melakukan apapun, hanya tidur bersama apa salahnya dengan itu?" ucap kembali Darell.


"Oke, tapi kalau kamu macam macam bersiaplah mati malam ini!" tegas Viena, mengembangkan senyum Darell.


"Memiliki istri sepertimu sepertinya sudah cukup membuatku mati di tempat" senyum Darell menggoda.

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam rumah, dan langsung menempati kamar Darell bersama. Seperti ucapannya, Darell hanya tidur bersama Viena usai mereka bergantian membersihkan diri. Meletakkan kedua guling yang di beri dua bantak di atasnya, Darell dan Viena mencoba terlelap sama sama tidur di ujung.


Meskipun saling mencintai, baik Darell juga Viena tidak ingin melakukan lebih dari pelukan juga ciuman. Meski kehidupan bebas di luar negri, tetap membuat Darell memiliki prinsip agar tidak melakukan apapun pada wanita sebelum adanya suatu ikatan suci bersama.


__ADS_2