Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)

Cinta Dalam Kebencian (Season 2 Cek IG Ilona_Shanum)
Bab 227


__ADS_3

LIKE DULU LAH....


Baca karya author yang lain ya, ada banyak banget tunggu buat kalian jejaki. Tinggal klik profil aja entar bakalan muncul karya karya author lainnya ya.


Meninggalkan Viena dan Darell untuk mengatasi mayat Jackson, Kenan, Sonya serta orang Jackson, Brandon dan Pieter melajukan kendaraan untuk kembali ke rumah.


Mengurungkan niat untuk merawat luka di kediaman Pieter, Brandon ingin kembali menemui istrinya agar tak lagi merasakan khawatir. Hal itu di setujui oleh Pieter yang juga tak mau melihat kecemasan ada dalam raut wajah istrinya.


Meminta Pieter untuk menghubungi semua anggotanya dan berkumpul esok hari di gudang senjata, Brandon ingin malam ini semua bisa merayakan kemenangan usai membakar semua mayat yang ada, meski tanpa kehadirannya juga Pieter.


Halaman rumah dengan banyak orang membungkuk memberi hormat, dimasuki oleh Pieter yang mengemudikan mobil sport sahabatnya. Turun dari mobil tetap dengan pengawal memberinya hormat, Brandon masuk menuju ruang bawah tanah.


Alexa dan Angel masih tetap duduk di sofa, keduanya tak bisa memejamkan mata sebelum tahu pasti kondisi suami mereka. Apalagi perkelahian juga baku tembak terdengar menggelegar tadi, membuat keduanya tak ingin terlelap.


Tampak dua lelaki tinggi berbadan tegap tengah berjalan beriringan, segera kedua perempuan tampak cemas menanti kabar itu langsung berlari memeluk.


"Aku sangat cemas, kamu baik baik saja? tidak ada yang terluka?" tanya Alexa melepas pelukan mengamati tubuh suami tersenyum ke arahnya.


"Tidak, aku baik baik saja" masih dengan senyum Pieter menjawab.


Di samping kedua orang kembali saling memeluk meluapkan rasa syukur, tampak Angel menatap kesal pada suaminya usai melepaskan pelukan.


"Aku benar benar mati ditangannya sekarang" ucap lirih Brandon melihat istrinya pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Mendengar suara memekik kesakitan ketika memeluk suaminya, segera Angel melepaskan pelukan dan mendapati darah segar pada kemeja suaminya. Darah yang sama melekat pada pakaian tengah ia kenakan.


Berjalan meninggalkan untuk mengambil kotak obat, Angel tidak ingin mengatakan apapun melihat darah segar pada tubuh suaminya.


Brandon dan Pieter saling melirik berbicara melalui isyarat mata, sesekali mengarahkan lirikan mereka ke Angel. Seolah bertanya akan ada apa dengan tingkah ibu dua anak langsung duduk di sofa tersebut.


Ketiganya menyusul dan ikut duduk, dimana Angel sedang mengeluarkan beberapa obat dari kotak obat. Brandon hanya diam memperhatikan istri langsung membuka kancing kemejanya.

__ADS_1


"Ya Tuhan kakak, bagaimana bisa kamu terluka seperti itu?!" terkejut Alexa membungkuk mengarahkan wajah pada perut kakaknya.


"Ini hanya luka gores" santai Brandon, ditekan kuat luka pada perutnya oleh Angel seketika.


"Aaaah, sakit, apa kamu mau membunuh suami!u sendiri?!" kesal Brandon menatap istrinya.


"Kenapa tidak mati saja?! kenapa pulang membawa luka lagi?! aku bilang jangan terluka!" teriak Angel, menundukkan seketika Brandon merasa bersalah.


"Kakak, ternyata suamiku lebih hebat darimu. Bahkan dia tidak terluka sedikitpun" ucap Alexa membanggakan suami yang tersenyum meletakkan telapak tangan pada kepalanya.


"Ini semua karena suamimu! dia tidak membantuku dan hanya diam saja!", sahut Brandon ke arah adiknya.


"Apa?!" seru Angel dan Alexa bersamaan dalam nada kaget.


"Ti, tidak. Ini bukan salahku aku mau membantu tapi dia menolak" coba Pieter membela diri, merasa takut akan tatapan tajam istri juga adiknya.


"Dia bohong, tanya Darell dan Viena. Dia hanya diam saja melihatku di serang, bahkan kemarin dia melempar pisau dan hampir mengenai kepalaku" mengadu Brandon mencoba memelas dalam nada bicara juga ekspresinya.


"Bukan begitu, aku..." belum sampai Pieter meneruskan, Angel sudah melotot ke arahnya.


"Kakak ingin aku menjadi janda?!" tambah Angel menggunakan nada sama seperti Alexa dalam kesal, segera Pieter mendorong lengan sahabatnya yang tak terluka.


"Lihatlah, dia ingin membunuhku karena dendam dulu aku tidak langsung merestui kalian menikah" memelas Brandon menundukkan wajah.


"Wah, aku tidak percaya ini" ucap Pieter menggelengkan kepala.


Meletakkan kepala di atas dada istrinya, Brandon menjulurkan lidah ke arah Pieter dan tersenyum. Seperti anak kecil ingin dibela ibunya, Brandon mengadu pada istri juga adiknya yang membuat Pieter kalang kabut sendiri.


"Apa kalian percaya dengannya? mungkinkah aku membunuhnya?" tanya Pieter pada dua orang di dekat Brandon merawat luka.


"Mungkin saja!" sahut Alexa dan Angel bersamaan ketus.

__ADS_1


Brandon seketika mengatupkan bibir menahan tawanya melihat Pieter tak bisa berkutik. Amarah Angel dan Alexa lebih menyeramkan dari musuh yang bisa saja menghabisi nyawa kapanpun.


Duduk bersandar menatap ke arah sahabat yang mengolok dirinya dengan menjulurkan lidah seperti anak kecil, Pieter hanya menggelengkan kepala tak percaya.


Luka sudah dibersihkan dan dibalut oleh adik dan istrinya, masih saja Brandon memasang wajah dibuat memelas agar tak kena marah akan luka di dapat.


"Aku buatkan minum, kamu tunggu disini" lembut Angel sembari membersihkan kapas dengan banyak darah.


"Tidak perlu, aku mau tidur saja" manja Brandon, semakin sinis Pieter tersenyum kecil.


"Kamu tidur saja di kamar, aku akan menjaga anak anak. Aku takut nanti mereka akan menangis" ucap Angel, seketika Brandon gelagapan menahan istrinya.


"Aku ingin tidur denganmu, kenapa kamu malah pergi?" menatap ke arah istri sudah bangkit dari duduk hendak mengembalikan kotak obat.


" Sayang, anak anak ada di dalam bersama mama. Mereka selalu menangis minta susu, jadi aku harus bersama mereka" jelas Angel.


"Baiklah" sahut Brandon pasrah, memuaskan hati Pieter mendengar.


"Kita tidur di kamar ya, aku sangat lelah" manja Pieter pada Alexa.


"Tidur sendiri, aku akan menjaga Quen di dalam!" sinis Alexa dan mengikuti Angel pergi ke ruangan dimana Olivia bersama anaknya berada.


Brandon melepaskan tawa melihat ekspresi memelas sahabatnya menatap kepergian Alexa. Merasa puas dapat mengerjai Pieter kali ini, Brandon tak bisa berhenti tertawa membuat bodyguard di ruangan tersebut heran.


"Diamlah, atau Angel akan memarahiku karena baby twins terbangun" kesal Pieter menyandarkan tubuh malas di sofa.


"Istriku sangat mencintaiku, kamu tahu itu" santai Brandon kembali tertawa.


Berbangga diri akan sandiwara yang berhasil membuat dirinya aman dari omelan Angel, Tuan muda masih membiarkan dadanya terbuka itu merasa lega.


Terimakasih banyak buat dukungannya

__ADS_1


__ADS_2