Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
99


__ADS_3

Albert memandang lekat-lekat Sonya yang sedang tertidur karena kelelahan. Ia tersenyum, saat melihat wajah cantik Sonya.


Albert akui, walau Sonya tak lagi muda, istrinya masih menggairahkan, masih seperti dulu, hangat dan memabukan.


Tanganya terus mengelus rambut Sonya, sesekali ia mendaratkan ciuman di bibir Sonya. Tapi, sepertinya Sonya tak terganggu dengan apa yang di lakukan Albert. Karena dia sudah terbang ke alam mimpi.


Albert bangun dari tidurnya. Ia berniat turun untuk mengambil minum, sebelum turun. Ia menaikan selimut istrinya.


Saat ia turun dan menuju dapur, dalam lampu redup, ia melihat Zidan sedang duduk di minibar. Ia membatalkan niatnya untuk kedapur dan menghampiri Zidan


"Kau belum tidur?" tanya Albert. Ia mendudukan dirinya di sebelah Zidan. keningnya mengkerut bingung saat melihat putranya meminum wine. Seingat, Albert putra bungsunya tak pernah menyentuh alkohol


Zidan melihat kearah Albert sebentar, ia mengambil gelas yang menggantung, lalu mengisi gelas tersebut dengan wine dan Menyodorkannya kearah Albert.


"Temani aku minum, Dad," ucap Zidan. Setelah itu ia mengangkat gelas yang berisi wine dan meminumnya hingga tandas.


Di hatinya di penuhi rasa penyesalan, bukan Zidan tak menerima takdirnya. Namun, rasa penyesalan saat dia menampar Gia, saat dia tak percaya pada Gia selalu hadir. Ia selalu berandai-andia, seandainya dulu, ia sedikit saja percaya pada Gia dan tetap berada di sisi Gia saat Gia terpuruk. Tentu saat ini, ia masih berada di sisi Gia, wanita yang masih sangat di cintainya.


Nama Gia terus terngiang-ngiang di otaknya. Ia memang senang saat melihat sang kaka bertengkar dengan Gia, Ia bisa berkesempatan untuk merebut Gia kembali.


Namun, Zidan tetaplah Zidan, sisi baiknya lebih mendominasi sehingga dia membatalkan niatnya.


Ia melampiaskannya dengan meminum alkohol, berharap ia bisa melupakan Gia sejenak.


Albert menepuk pundak Zidan, ia tau bahwa putranya sedang terpuruk. Ia sadar, ini semua salah dirinya. Namun, apa mau di kata. Semua sudah terjadi.


"Bagaimana jika besok kita bermain golf?" ajak Albert.


"Aku sedang tak bersemangat, Dad," jawab Zidan setengah sadar. Kepalanya berdenyut nyeri karena ia memaksakan meminum wine dengan jumblah yang banyak.


"Kalau begitu, pergilah ke kamarmu. Kau sudah terlalu banyak menenggak wine," ucap Albert, ia pun turun dari kursi.


"Kau tidak meminum wine mu, Dad?" tanya Zidan.


"Mommymu tak suka bau alkohol dan daddy juga tak mau merusak kualitas S*perma Daddy, siapa tau kalian berdua akan memiliki adik."


Zidan langsung tersedak saat mendengar ucapan Albert, walau pun ia setengah sadar ia masih bisa mendengar dengan baik. Bagaimana mungkin, ia dan Zayn akan memiliki adik sedangkan usia mereka sudah berkepala 3.


"Dad, kau ...." Zidan tak mampu lagi meneruskan kalimatnya karena ia langsung tak sadarkan diri, beruntung Albert langsung berlari hingga Zidan tak jatuh kebawah.


••


Setelah Zayn di rawat, ia menyuruh Frank untuk mengurus Helga. Dengan tertangkapnya Helga, kasus penabrakan Alex kembali di buka.


Alex dengan terbata-bata menjelaskan semuanya. saat dulu, dalam kondisi terkapar, ia bisa melihat bukan ayah Gia yang menabraknya, bahkan mobil ayah Gia datang setelah mobil yang menabraknya pergi, tentu saja penabrak itu adalah anak buah Helga


Helga dengan sengaja mencari orang mabuk di bar, saat itu, Helga melihat ayah Gia sedang meringkuk di sofa.


Helga menyogok pegawai bar untuk melihat cctv. Ia ingin melihat mobil mana yang ayah Gia pakai.


Setelah mengetahuinya, anak buah Helga membawa ayah Gia yang sedang tak sadarkan diri, tentu saja dengan mobil ayah Gia. Dan tepat setelah mobil penabrak Alex pergi, mobil ayah Gia yang di kemudikan anak buah Helga datang, Ayah Gia yang duduk di kursi belakang serta masih tak sadarkan diri di pindahkan oleh anak buah Helga ke kursi kemudi, seolah-olah ayah Gia lah yang mengemudi mobil tersebut, dan semuanya sempurna. Helga berhasil memitnah ayah Gia.

__ADS_1


•••


"A-ayah," ucap Gia terbata-bata. Ia terperangah saat melihat ayahnya berada di depannya. Matanya membulat, mulutnya menganga. Bagaimana mungkin ayahnya bebas. Padahal, jelas-jelas saat itu ia mendengar ayahnya di vonis 20 tahun penjara.


Fredi yang mengerti kebingungan putrinya, langsung maju kehadapan Gia dan memeluk Gia.


"A-ayah," lirih Gia dengan terisak. Ia yakin, ia tak bermimpi. Ayahnya nyata dan benar-benar datang dan saat ini memeluknya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Fredi. Mendengar suara Fredi. Gia mengeratkan pelukannya. Isakan Gia berubah menjadi tangisan yang super kencang.


Gia terduduk lesu di sofa, setelah berbicara panjang lebar dengan sang ayah, Fredy memilih untuk beristirahat. Sang ayah sudah menceritakan semuanya. Termasuk tentang peran Zayn yang menyelamatkan Alex dan membebaskan dirinya


Zayn menyuruh Frank untuk menjemput Fredi dari penjara dan mengantarkannya ke apartemen Gia.


Setelah lama terduduk, Gia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar. Ia membuka laci dan merogoh ponsel yang selama 2 hari ini ia matikan.


Saat ponselnya menyala, banyak sekali pesan masuk dari Zayn, ia membacanya satu persatu. Sampai, ia membuka vidio cctv di ruangan Zayn saat kedatangan Helga.


Terlihat jelas Zayn berusaha menghindari Helga. Gia tersenyum saat mengetahui yang sebenarnya. Kini, ia sadar. Suaminya adalah tipe orang yang akan menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri, dan ia juga sadar, Zayn hidup di keluarga yang broken home hingga terkadang, Zayn menyelesaikan masalah dengan cara yang tak masuk akal.


Gia kembali mematikan ponselnya, ia membaringkan dirinya di ranjang. Ia belum mau memikirkan langkah apa yang akan di ambilnya terkait hubungannya dengan Zayn.


•••


Gia bangun lebih cepat dari biasanya. Sesudah memasak untuk sang ayah, Gia menaruh catatan untuk sang ayah, mengabarkan bahwa ia akan pergi sebentar.


Gia menaiki taxi untuk menuju pantai, Pagi ini, dia sangat ingin melihat pantai, rasanya ia ingin duduk di pasir sambil melihat ombak.


Gia sengaja memilih bagian pantai yang sepi, ia hanya ingin lebih fokus menikmati pemandangan. Ia melepaskan sandalnya, dan duduk di pasir, ia tersenyum saat kakinya menginjak pasir, dan memainkan pasir dengan kakinya.


Saat mengingat nama Zayn, senyuman Gia mendadak luntur. Ia tak tau bagaimana harus menghadapi Zayn, ayahnya sudah memberitau bahwa Zayn di rawat. Namun, ada rasa yang mengganjal. Ia bingung, harus bagaimana menghadapi Zayn. Mungkin hanya sejenak, biarkan dia berpikir tentang langkah apa yang akan di ambil.


Ia tak ingin suatu saat, hubungan mereka terkena masalah karena saling tidak terbuka.


Sedangkan Zayn.


"Bagaimana sekarang?" tanya Zayn pada Mark. Ia baru saja memakaikan bedak pada bibirnya agar wajahnya terlihat pucat.


Saat ini, Zayn yakin, Gia akan datang ke rumah sakit untuk menjenguknya. Ia yakin, ayah mertuanya sudah memberitau pada Gia bahwa dirinya tengah di rawat, dan ia ingin terlihat lebih pucat agar mendapat perhatian lebih dari istrinya.


Mark yang sedang berada di sofa sambil mengerjakan pekerjaannya mendengus saat mendengar pertaan Zayn.


"Zayn, kau sudah libur selama 10 hari. Bisakah kau berhenti melakukan hal konyol dan kembali bekerja ke kantor!" gerutu Mark. "Kau lihat ini!" Mark menunjuk dokemen di depannya. "Gara-gara kau tak masuk, aku harus mengerjakan semua ini!" gerutunya lagi


"Kalau begitu kau saja yang menjadi Ceo," jawab Zayn dengan santai. Ia masih sibuk bercermin memastikan bahwa ia harus terlihat pucat.


Mark memejamkan matanya, menahan geram pada Zayn. Ia menghembuskan napas beberapa kali mencoba menenangkan diri Jika saja bukan Sonya yang memerintahnya ia sudah berhenti menjadi sekretaris Zayn.


Tak lama, ponsel Zayn berdering ia pun menanggakatnya.


"Pantai!" lirih Zayn saat mendengar Frank melaporkan bahwa Gia sedang berada di pantai. Tak lama, matanya membulat saat mengingat dulu Gia akan bunuh diri di pantai. Dan sekarang, ia takut istrinya akan berbuat nekad lagi.

__ADS_1


Zayn mematikan panggilannya. Dengan cepat, ia bangkit dari brankarnya dan mencabut paksa infusah di tangannya, setelah itu ia berlari menyambar kunci mobil milik Mark.


Sangking paniknya, Zayn tak menyadari ia keluar rumah sakit dengan masih memakai pakaian pasien.


Zayn menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju pantai, "Tolong jangan melakukan hal bodoh lagi, Gia," lirih Zayn.


•••


Matahari semakin terik, Gia yang sedari tadi anteng melihat ombak langsung terasadar, kala matahari membakar kulitnya. Ia melihat jam di pergelangan tangannga, ternyata sudah 3 jam Gia duduk di pasir.


Ia menghembuskan napas dan perlahan bangkit dari duduknya.


Saat dia menepuk-nepuk bokongnya untuk membersihkan pasir. Tiba-tiba ombak datang dan satu sendalnya terbawa ombak.


Gia terpekik, bagaimana ia pulang jika sandalnya terbawa. Gia berjalan dengan sedikit cepat untuk menggapai sandalnya.


Namun, baru beberapa langkah tangannya di tarik dan seketika Gia berbalik, siapa lagi kalau bukan Zayn yang menariknya.


"Gia, bukankah ayahmu sudah memberitaukan semuanya. Lalu kenapa kau ingin mengulangi hal yang dulu kau ulangi. Apa kau ingin meninggalku?" cerocos Zayn panjang lebar, di sertai napas yang ngos-ngosan karena berlari. Zayn pikir Gia akan melakukan hal yang seperti dulu, tapi nyatanya ia salah. Gia hanya ingin menggapai sandalnya.


Seketika Gia menghempaskan tangan Zayn dengan kasar, pikirannya hanya secepatnya mengambil sandal. Setelah tangannya terlepas dari Zayn Gia kembali berbalik.


Namun, belum dia melangkah, tangannya kembali di tarik lagi oleh Zayn.


"Gia, aku benar-benar minta maaf, kau boleh melakukan apa saja padaku asal ...." perkataannya terputus saat Gia memotong ucapannya


sendalnya Gia sudah tak terlihat, dan sendalnya sudah tergulung ombak. "Sandalku!" teriak Gia dengan wajah panik. Sekarang, bagaimana dia pulang.


"Ja-jadi, kau ...." Zayn tak mampu lagi meneruskan ucapannya saat menyadari bahwa istrinya hanya ingin mengambil sendal.


"Isshhh!" Gia mendelik sebal pada Zayn, lalu ia berbalik dan meninggalkan Zayn.


Saat ia berbalik, ia tersenyum. Hatinya menghangat saat Zayn datang. Ia bisa melihat cinta Zayn padanya begitu besar.


Saat sudah beberapa langkah, Gia mengehtikan langkahnya. Ia heran kenapa Zayn tak terdengar mengejarnya. Ia pun memberanikan diri berbalik dan ternyata Zayn masih diam di tempat dan sedang melihat ke arahnya.


Kini dua sejoli itu saling memandang dengan jarak yang tak terlalu jauh.


Gia menatap Zayn lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca saat melihat Zayn yang masih memakai pakain rumah sakit saat menyusulnya, pertanda Zayn memang mencitainya dan takut jika dia melakukan hal seperti dulu.


Terlepas dari apa pun masalah mereka kemarin, di titik ini, Gia merasa bahagia saat ia di cintai oleh seorang Zayn Smith


Tiba-tiba, ia memalingkan tatapannya kearah lain, saat bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Tak lama, ia kembali menatap Zayn.


Zayn yang mengerti apa yang Gia rasakan, langsung merentangkan tangannya agar Gia memeluknya.


Dengan wajah cemberut, Gia pun berjalan menghampiri Zayn, setelah dekat. Ia langsung menghambur ke pelukan suaminya.


Ini panjang banget, gengs. 3 bab di satuin. Aku males ngedit wkwk.


Udah tegang-tegangannya. Kita happy2an aja.wwkk

__ADS_1


Yang punya Fb, Add fbku ya Dewi Kim


dan Instagramku Dewikim423


__ADS_2