Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
30


__ADS_3

Rasa harap-harap cemas menderanya kala sang kekasih hati yang baru ia pacari mengabarkan bahwa dia yang tak lain adalah Gia, diperintah oleh kaka tirinya untuk mendampingi Zayn pergi ke pesta.


Zidan mengkonfirmasi pada Mark tentang permintaan Zayn pada Gia, apakah memang benar atau hanya akal-akalan Zayn. Dan Mark mengkonfirmasi bahwa Zayn memang benar-benar butuh pendamping, akhirnya Zidan pun mengijinkan kekasihnya, Gia, untuk pergi mendampingi kaka tirinya.


Satu hal yang Zidan sadari kala berjauhan dengan Gia, kekasihnya. Ia harus secepatnya melamar Gia dan memersunting Gia menjadi istrinya.


Setelah merencanakan untuk melamar Gia, Zidan dengan semangat menyelesaikan tugasnya. Ia, berencana untuk pergi menyusul Gia ke indonesia dan melamar Gia di Bali.


°°


"Zidan, sepertinya, kau bahagia sekali?" tanya Sonya. Saat Zidan pulang ke Mansionnya. Ia melihat wajah putranya berseri-seri.

__ADS_1


Sebelum Zidan membalas ucapan Sonya. Zidan maju dan langsung memeluk ibu tirinya. Hal yang hampir jarang sekali Zidan lakukan karena selama ini dia jarang berada di Rusia, dan itu semua karena kaka tirinya yang mengasingkannya.


"Zidan, kau kenapa, Nak?" tanya Sonya. Ia membalas pelukan sang anak tirinya. Ia tak pernah membeda-bedakan antara Zayn dan Zidan. Bagi Sonya, Zayn dan Zidan adalah putranya.


Zidan melepaskan pelukannya dari Sonya. Ia memandang lekat wajah sang ibu, dari semua duka yang ia terima selama hidupnya, ia mensyukuri sesuatu. Ia bersyukur, Sonya tak membencinya seperti ayah dan kaka tirinya. Padahal, jika di pikir-pikir, harusnya, Sonyalah yang membencinya.


"Mom, jika aku melamar gadis dari kalangan biasa, apa Mommy akan mengijinkannya?" tanya Zidan.


"Ya, dia karyawan prusahaan kita, Mom. Dia sedang berada di Indonesia dan menemani kaka di sana, dan aku akan menyusulnya kemudian melamarnya di sana," ucap Zidan. Ia begitu antusias menceritakan rencananya pada sang ibu.


Deg

__ADS_1


Mendengar apa yang di katakan oleh Zidan, Sonya terdiam. "Bukankah, yang sedang menemani Zayn adalah Gia," ucap Sonya dalam hatinya. Wanita yang sangat ia inginkan menjadi menantunya dan menjadi istri Zayn.


" Kalau begitu, aku pergi ke kamarku dulu, Mom. Aku sudah makan malam di kantor, jadi tak usah menungguku," pamit Zayn. Ia mencium sekilas pipi sang ibu. Kemudian kembali melangkah menuju kamarnya.


Sedangkan Sonya masih diam mematung. Ia bahkan tak menyadari bahwa Zidan telah meningalkannya dan pergi ke kamarnya.


"Tidak, tidak mungkin," Lirih Sonya saat membayangkan bahwa wanita yang di maksud Zidan kekasihnya adalah Gia. Bagaimana jika itu benar, Sonya tak bisa membayangkan jika itu benar. Maka, akan ada pertumpahan darah antara Zayn dan Zidan.


"Tidak ... tidak mungkin. Pasti kekasih Zidan bukan Gia. Ya, pasti tidak mungkin," ucap Sonya lagi. Ia mencoba menenangkan diri dengan terus menepis pikiran buruknya.


"Mark, ia, Mark. Dia pasti tau sesuatu," lirih Sonya. Meskipun mencoba menyangkal, tetap saja ia takut. Prioritasnya saat ini bukan lagi memikirkan bagaimana caranya menjodohkan Zayn dan Gia. Tapi, bagaimana jika Zidan benar berniat menikahi Gia yang dia kehendaki menjadi istri Zayn. Ia tak mau ada pertumpahan darah antara kedua putranya.

__ADS_1


__ADS_2