Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
178


__ADS_3

Albert menekuk kakinya, ia mensejajarkan diri dengan Kelly.


"Hai, Sayang. Kau marah pada kakek dan nenek?" tanya Albert ketika Kelly bersembunyi di belakang tubuh Simma.


Mendengar ucapan Albert, Kelly menggeleng, walaupun gelengannya tak di lihat oleh Albert. Ia sedikit mengintip dari belakang tubuh Simma, membuat Albert tertawa karena tingkah cucunya.


Albert mengulurkan tangannya kemudian menarik lembut tangan Kelly. Dan dengan pelan, Kelly pun menggeser tubunnya hingga ia tak bersembunyi lagi. Lalu, ia menunduk. Ia masih tak berani melihat Albert.


"Kau marah pada kakek dan nenek, hmm?" tanya Albert lagi, kemudian Kelly menggeleng.


"Boleh kakek memelukmu?" tanya Albert, seketika mata Kelly berkaca-kaca dan tak lama, Kelly pun mengangguk. Ia berjalan ke arah Albert sambil menunduk. Ia masih belum berani menatap Albert.


Semua yang berada di ruangan itu, merasakan keharuan yang luar biasa saat Kelly memeluk Albert, terutama Sonya. Ia beberapa kali melihat Kelly saat menjemput Arleta. Tapi, ia sama sekali tak menyadari jika Kelly adalah cucunya.


"Kau marah pada kakek, hmm? kenapa kau tak mau melihat kakek?" tanya Albert lagi saat ia melepaskan pelukannya. Namun, Kelly masih belum mau melihat Albert.


Kelly menggeleng, ia mengangkat kepalanya dan menatap Albert. Mata Kelly tampak berkaca-kaca saat melihat dari dekat sosok kakeknya.

__ADS_1


"Maaf," lirih Kelly, membuat Albert tersenyum cucunya begitu menggemaskan. Ia bangga pada Audrey, karena membesarkan cucunya dengan baik.


Albert pun kembali membawa Kelly kedalam pelukannya, lalu ia menggendong Kelly dan membawa Kelly ke arah brankar.


Setelah mendekat ke arah brankar. Sonya merentangkan tangannya, kemudian Albert menurunkan Kelly di pangkuan Sonya, hingga kini Kelly duduk di pangkuan neneknya.


"Maafkan nenek yang tak mengenalimu sejak awal," ucap Sonya ia membelai pipi Kelly lalu mencium pipi bulat Kelly. Kelly tersenyum, kemudian ia langsung memeluk leher Sonya.


Audrey mengigit bibir bawahnya, ia sedang berusaha menahan tangisnya. Ia bahagia saat ia dan putrinya bisa mendapatkan keluarga yang utuh. Zidan yang mengerti apa yang Audrey rasakan, langsung menggenggam tangan Audrey, hingga Audrey menoleh dan tersenyum pada Zidan.


•••


Zidan berdehem, ia sungguh gugup untuk berbicara pada Albert.


"Kau kenapa?" tanya Albert yang mengerti kegugupan putranya.


"Dad, aku tak akan di pecat, kan?" tanya Zidan ragu-ragu. "Dad, jangan pecat aku. Aku mempunyai putri dan sebentar lagi aku akan menikah. Jadi, tolong jangan pecat aku, oke," Sambung Zidan. Ia menghiba dengan nada menggemaskan. Membuat Albert menggeleng.

__ADS_1


"Daddy, bangga padamu," jawab Albert, ia sama sekali tak menjawab ucapan Zidan.


Lagi-lagi, kening Zidan mengernyit, kenapa sang ayah bangga padanya, bukankah ia telah merugikan perusahaan.


"Daddy kenapa bangga padaku?" tanya Zidan.


"Kau berani memertaruhkan segalanya demi membela Audrey dan putrimu. Dan Daddy bangga padamu. Kau tak pengecut seperti Daddy dulu," jawab Albert, Ya, jika diingat ... Dulu, Albert sangat pengecut, tak berani mengambil sikap hingga keluarganya tersiksa. Dan ia cukup bangga pada Zidan, yang berani menghadapi siapa saja yang menyikut Audrey dan Kelly.


"Kau benar, Dad. Kau seharusnya bangga padaku," Kata Zidan berbangga hati sambil menepuk dadanya. "Jadi, kau tak memecatku, kan, Dad?" tanya Zidan lagi.


"Kau memang tak di pecat ... Tapi gajihmu akan di potong 30 persen."


Mendengar ucapan Albert, mata Zidan membulat. Bagaimana mungkin gajihnya di potong 30 persen.


"Dad, kau sungguh tak adil. Aku, kan putramu. Kenapa kau harus memotong gajihku," gerutu Zidan.


Albert hanya mengangkat bahunya acuh. "Kau bisa protes pada kakakmu."

__ADS_1


"Hishh! sudah kuduga dia takan melepaskanku begitu saja!" Zidan menendang-nendang kedepan karena kesal pada Zayn. Membuat Albert tertawa.


Scroll lagi ies.


__ADS_2