
Saat yang lain berada di rumah sakit, Zidan malah meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke apartemen Arleta.
Ucapan Kelly benar-benar menamparnya, membuat dirinya merasa menjadi orang jahat sedunia karena telah begitu jahat pada Arleta.
“Kaka, Mommy tak bisa mengantarkanku les balet ...”
“Kaka ini hadiah untukmu ....”
“Kaka cepat sembuh agar kita bisa terus bermain ....”
“Kaka ....”
“kaka ....”
“kaka ....”
Zidan meminggirkan mobilnya saat kenangan bersama Arleta kecil menubruk otaknya. Setelah meminggirkan mobilnya, ia menangis sejadi-jadinya merasakan sesak yang luar biasa hebat karena kelakuannya sendiri yang telah mengabaikan adiknya.
Tiba-tiba, ia teringat saat pertama kali Arleta dibawa oleh Sonya, wajah Arleta kecil begitu menghipnotisnya. Dan sejak Sonya mengadopsi Arleta, hidup Zidan juga ikut berubah, ia yang terlahir sebagai anak bungsu merasakan kehidupannya berwarna ketika ia memiliki seorang adik.
Jika dipikir-pikir, Arleta lah yang yang pertama kali memberitahukan tentang Kelly padanya. Ia hidup bertahun-tahun dengan Arleta. Ia mengenal kepribadian adiknya luar dan dalam tapi hanya masalah yang yang sebenarnya bisa di bicarakan baik-baik, ia malah ikut menghukum Arleta.
Dan ia sama sekali tak membela Arleta ketika Zayn menghina, menghardik dan memaki Arleta. Ia tak bertanya, ia tak meminta penjelasan dan malah ikut menghukum adiknya .
“Maafkan kaka, Arleta. Maafkan Kaka,” lirih Zidan dengan suara pelan. Ia menangis tergugu. Sesak di dadanya semakin menjadi-jadi, ketika mengingat saat tadi menggendong Arleta untuk ke rumah sakit, ia melihat kaki Arleta membiru dan ia yakin, itu karena Arleta tertimpa kuda saat menyelamatkan Zidny.
__ADS_1
Setelah menguasi diri, Zidan menegakan tubuhnya, ia menghapus air matanya, kemudian menyalakan kembali mobilnya lalu menjalankannya.
Dan di sinilah dia berdiri sekarang, berdiri di depan pintu apartemen Arleta. Dengan tangan yang bergetar, Zidan mengangkat tangannya untuk menekan kode apartemen Arleta. Sudah bukan rahasia lagi jika Arleta selalu memakai kode dengan kombinasi ulang tahun Sonya.
Setelah menekan kode, pintu terbuka dengan langkah yang teramat lesu, Zidan masuk ke dalam. Ia berjalan kemudian mendudukan diri di sofa. Matanya menyapu keseluruh sisi.
tiba-tiba Zidan menghentikan pandangannya di di sebuah meja kerja Arleta, di mana laci di meja kerja itu terbuka.
Zidan bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah meja, ia mendudukan dirinya
di kursi kerja Arleta. ia membuka laci semakin lebar kemudian mengerutkan kening saat melihat amplop putih yang terjejer
“Uang untuk membayar tagihan listrik ....”
“Uang untuk keperluan sehari-hari ....”
“Uang untuk membeli makan dan membeli obat-obatan.”
Zidan membaca satu persatu tulisan di amplop itu, semenjak tinggal di apartemen. Arleta berusaha berhemat sehemat mungkin, hingga ia selalu memisahkan uang yang ia dapat.
Zidan membuka amplop itu satu persatu. Ternyata amplop itu kosong, pertanda Arleta tak mempunyai uang. Rasa sesak Zidan semakin menjadi-jadi kala mengingat ucapan Kelly, tentang Arleta yang tak pernah memakai uang yang dikirimkan olehnya.
Zidan menghapus air matanya, Lalu ia melihat ada amplop yang tertinggal, ia mengambil amplop dan melihatnya.
“Uang dari Kaka Zayn ....” di amplop itu tertulis uang dari Zayn. Uang yang dilemparkan saat ia berada di rumah sakit.
__ADS_1
Ia hanya memakai uang itu untuk ongkos taksi saat keluar dari rumah sakit dan untuk membayar biaya terapis pijit, dia ia menyimpan uang itu di amplop.
Tiba-tiba, Zidan kembali bangkit dari duduknya, ia berjalan kearah dapur lalu membuka kulkas kecil milik Arleta, tak ada apa pun di kulkas , hanya ada air putih dan 2 bungkus mi instan.
lalu ia mengalihkan pandangannya ke tempat sampah kecil, Ia membuka tempat sampah itu dan menumpahkannya ke bawah.
Kaki Zidan benar-benar melemah saat melihat apa yang di depannya. Ia membungkuk melihat lebih jelas, ternyata di tempat sampah itu hanya penuh dengan cangkang mie instan dan cangkang beberapa obat penahan nyeri.
Bagaimana pun, Arleta tak bisa memesan makanan atau membeli makanan di luar sana karena ia kesulitan untuk bergerak. Jadi yang ia bisa lakukan adalah memakan persediaan mie yang ada di apartemennya.
Selama seminggu ini, ia jarang sekali makan karena ia hanya terbaring di ranjang, apalagi ia merasakan rasa nyeri yang luar biasa hebat di tubuhnya, apalagi bagian kakinya yang tidak terkadang tidak bisa di gerakan.
Arleta akan berusaha untuk bangkit, ketika ia ingin pergi ke toilet dan ketika rasa laparnya sudah tak bisa di kendalikan, sekalinya ia makan, Ia hanya akan memakan mie instan yang sangat gampang untuk di buat.
Saat pergi ke makam Sonya pun Arleta memaksakan dirinya mati-matian untuk pergi. Padahal kondisinya sama sekali belum membaik, ia tak ingin tak datang ketika hari kematian ibunya.
Dan naasnya, ketika ia berusaha mati-matian untuk pergi dan berhasil mencapai tujuannya, hal buruk malah menimpanya, ia tertabrak hingga ia terbaring di berangkar.
Tubuh Zidan masih terdiam di lantai, ia menggenggam cangkang mie instan itu dengan erat, tangisnya masih berderai. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia merogoh sakunya kemudian mengambil ponsel lalu melihat siapa yang menelponnya.
Dan ternyata, Audrey yang menelponnya .
“Apa!” teriak Zidan saat mendengar ucapan Audrey.
Gengs satu bab dulu yak, akunya lagi ga enak badan. Yok, komen yok. biar nanti malem atau besok pagi update 3 bab sampe 4 bab
__ADS_1
Cinta untuk Stevia di sebelah juga libur dulu ya.