
“Bagaimana, Apa kalian sudah berhasil melacak Gabriel?” tanya Stuard pada anak buahnya.
Saat ini, ia sedang berbicara di luar rumah sakit, ketika Simma melihat Amelia, Stuart menemui anak buahnya di luar dan itu tanpa sepengetahuan Sima.
Walaubagaimana pun Stuart ingin merangkul Gabriel dan mengajak Gabriel untuk berbicara dari hati ke hati. Itu sebabnya setelah ia keluar dari pulau pribadi Gabriel, ia langsung mengutus anak buahnya untuk melacak keberadaan Gabriel.
Anak buah Stuart menggeleng. “Kami tidak bisa melacak keberadaan putra Anda, pesawat pribadi yang digunakan oleh putra pun tidak dapat kami lacak,” jawab anak buah Stuard, membuat Stuart mengusap wajah kasar.
Seperti dugaannya, Gabriel berhasil lolos lagi dari pantauannya. ”Kau boleh pergi!" setelah mengatakan itu, Stuard pun kembali masuk kedalam rumah sakit untuk menemui istrinya yang sedang berada di ruang rawat Amelia.
Stuard membuka pintu ruang rawat Amelia, ternyata hanya tinggal Simma yang ada di ruanga itu karena Amelia sudah dibawa oleh dokter.
Stuard menghentikan langkahnya, kemudian menggeleng saat melihat Simma yang sedang menangis. Ia mengerti betul Bagaimana perasaan sang istri. Selama ini ia mati-matian untuk menyembuhkan Simma dari traumanya
Dan ia yakin, melihat Amelia mengingatkan istrinyanya pada traumanya. Perlahan, Stuard melanjutkan langkahnya. Ia masuk ke dalam ruangan, ia mengelus rambut Simma, hingga Simma menegakkan kepalanya.
__ADS_1
“Amelia pasti akan baik-baik saja,” ucap Stuard, Ia membawa Sima ke dalam pelukannya, hingga kini, Simma kepala Simma berada di perut Stuard.
“Da-Dad!” panggil Simma dengan berderai air mata.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Stuard, Siima menganggukan kepalanya.
“Jangan mencari anak itu lagi, jangan pernah untuk menemuinya lagi. Kita sudah tidak ada urusan dengan anak itu,” ucap Simma dengan nada geraman.
Stuar memejamkan matanya saat mendengar apa yang diucapkan istrinya, ia tahu, istrinya akan bereksi seperti ini. Itu sebabnya, iaa mencari Gabriel diam-diam. Ia tak ingin Gabriel semakin jatuh ke dalam kesalahan. Tapi, ia juga mengerti Bagaimana perasaan istrinya.
“Amelia sedang dibawa oleh dokter. Dia sedang diperiksa,” jawab Simma, ia berusaha menghentikan tangisnya. Tapi tak bisa.
Tiba-tiba pintu terbuka, membuat Stuard dan Sima langsung menoleh, ternyata Gabby dan Gisel yang masuk ke dalam ruangan.
“Daddy!” Panggil Gisel, ia langsung berhambur memeluk Stuard, ternyata saat mereka berjalan, mereka berpapasan dengan perawat yang sedang mendorong brangkar Amelia. Hingga mereka bisa melihat keadaan Amelia.
__ADS_1
“Mommy di mana iblis itu, aku ingin membunuhnya sekarang!” ucap Gaby dengan emosional, membuat Stuard menggeleng, lalu mengelus rambut Gaby. “Gaby ini rumah sakit jangan berteriak,” ucap Stuard. Sedangkan Gaby langsung mengatupkan bibirnya.
Emosi pada Kakak kembarnya sudah berada di ubun-ubun, ia benar-benar ingin mencekik leher saudara kembarnya.
“Kalian temani Mommy di sini oke, Daddy ngin melihat keadaan Amelia terlebih dahulu," ucap Stuard, Gisel melepaskan pelukannya kemudian Stuard keluar dari ruangan untuk melihat Amelia.
••••
Dan perawatan Amelia pun dimulai, dokter bekerja keras untuk menyembuhkan Amelia. Tim dokter fokus pada kejiwaan Amelia dan berusaha untuk menyembuhkan traumanya terlebih dahulu.
bulan-bulan pertama, Amelia masih terdiam seperti mayat hidup, dan setelah bulan-bulan berikutnya, Amelia mulai ada perubahan. Ia mulai menoleh ketika dipanggil. Namun selebihnya ia akan kembali diam seperti mayat hidup.
Scroll ga lagi ga.
Ngamook nih kalau ga komen
__ADS_1
Scroll lagi gengs!