Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
195


__ADS_3

Briana menoleh ke arah pintu saat pintu terbuka. Matanya membulat, ia memekik tak percaya kala ia melihat Simma yang masuk.


Begitu pun Simma. Ia menatap Briana dengan tatapan tak percaya.


"Si-silahkan masuk," ucap Briana. Di tengah rasa terkejutnya. Ia harus tetap propesional.


Simma menguatkan dirinya. Ia menguatkan hatinya dan ia berusaha setenang mungkin, ia yakin ... Briana tak mengenalnya.


Simma tersenyum, ia pun maju ke arah kursi dan mendudukan dirinya di depan Briana.


"Maaf, saya berbicara dengan ...?"


"Khaira," jawab Simma yang sengaja mengatakan nama depannya saja.


"Silahkan berbaring!" titah Bri, ia pun bangkit dari duduknya dan menuju brankar diikuti Simma yang juga ikut duduk.


Saat Briana menggeser crusor usg ke perut Simma. Kaki Bri bergetar, tubuhnya hampir merosot ke bawah saat ia mengetahui usia kandungan kandungan Simma. Tiba-tiba dadanya merasa sesak saat membayangkan hal terburuk, matanya pun mulai berkaca-kaca.


Setelah selesai memeriksa perut Simma, Bri berusaha tersenyum, lalu kembali ke meja begitupun Simma langsung terduduk di kursi dan kini, mereka duduk berhadap-hadapan

__ADS_1


"Apa, kedua bayi saya baik-baik saja, Dok?" tanya Simma dengan kikuk. Ia hanya berharap Briana tak mengenal dirinya.


Briana kembali tersenyum, "Bayi anda baik-baik saja. Saya meresepkan vitamin untuk anda," Briana menghentikan sejenak ucapannya, ia memberikan selembar kertas berisi resep pada Simma.


"Maaf, apa saya bisa berbicara dengan suami anda?" Tanya Briana membuat tubuh Simma menegang seketika. "Saya hanya ingin menyampaikan tentang kondisi kandungan anda," dusta Briana.


Padahal ia hanya ingin mengetahui siapa ayah dari bayi yang di kandung oleh Simma.


Simma meremas kedua tangannya, ia langsung di landa kegugupan.


Bagaimana jika Bri memberikan pertanyaan yang menjebak, bagaimana jika Bri tau siapa Simma yang sebenarnya, Simma membatin dan bertanya-tanya tentang apa maksud pertanyaan Bri.


Tiba-tiba, pintu terbuka. Membuat Simma dan Bri sama-sama menoleh. Sosok Stuard masuk membuat Simma menghela napas lega


"Bagaimana kondisi anak kita?" tanya Stuard saat mendudukan diri di sebelah Simma.


"Maaf aku terlambat," ucap Stuard lagi. Ia mengelus perut Simma membuat Simma terpaku.


Seketika, ia dihinggapi rasa bingung. Kenapa Stuard bisa tau dia ada di sini, kenapa Stuard bisa tau bahwa dia sedang mengandung. Karena sampai detik ini, Simma tak pernah memberitau kehamilannya pada siapa pun.

__ADS_1


Ia menyimpan pertanyaan itu di otaknya, ia akan bertanya pada Stuard nanti, yang terpenting. Ia sudah berhasil menghindar dari pertanyaan Bri.


Seketika, Briana di hinggapi kelegaan. Ternyata, ayah dari bayi yang di kandung oleh Simma bukan Josh, lelaki yang sebentar lagi menjadi suaminya.


"Kalau begitu kami permisi," ucap Stuard, saat konsultasi selesai. Ia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Simma, dan mereka pun keluar dari ruangan Briana.


Tanpa Simma sadari, Semua sudah di atur oleh Stuard. Saat Stuard tau bahwa Simma akan melakukan pengecekan kandungan dan tau bahwa Briana bekerja di rumah sakit tersebut. Stuard meminta orang dalam untuk menukar jadwal praktek Briana.


Stuard hanya ingin Briana tau bahwa Simma sedang mengandung, dan menyangka bahwa Simma mengandung anaknya. Dan dia akan melihat Bri dan Josh hancur saat mengetahui semuanya dan jika semuanya sudah terbongkar, Ia bisa pastikan Simma sudah menjadi wanitanya. Dan Josh akan hancur berkali-kali lipat-lipat.


Simma, dan anak yang berada di dalam kandungan Simma adalah miliknya. Membalas kesakitan yang di rasakan oleh wanitanya adalah urusannya.


Scrool lagi iess


Ah manisnya babang Stu



Stuard be like. Sory josh bagusan gue kemana mana 😂😂

__ADS_1


__ADS_2