Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
277


__ADS_3

Simma tak bisa menghentikan tangisannya saat kata-kata Kareen terus terngiang-ngiang di otaknya. Batinnya teriris perih, ia hanya bisa berpasrah.


"Mommy!" Gabriel melongokan kepalanya. Rupanya, ia terbangun karena mendengar Simma yang telah menangis sesegukan.


Simma menghapus air matanya, ia bangkit dari duduknya. "Maafkan Mommy yang membangungkanmu, tidurlah, Mommy akan mengipasimu lagi," jawab Simma. Baru saja, ia akan bangkit untuk naik ke atas ranjang. Gerakannya terhenti saat Gabriel mendahului turun.


Gabriel duduk di sebelah Simma. Tangan mungilnya terulur untuk mengelap air mata sang ibu. Gabriel tersenyum. Wajah kecilnya begitu penuh ketulusan.


"Mommy, jika Mommy merindukan Daddy dan tak nyaman di sini, Mommy pulanglah ke Mansion. Daddy tak membenci Mommy, Daddy hanya membenci aku dan Gabby, setelah aku dan Gabby tak ada pasti Daddy akan pulang. Aku dan Gabby tak apa-apa tinggal di sini berdua. Aku berjanji, aku akan menjaga Gabby dengan baik, Mommy hanya perlu meninggalkan sereal saja untuk makanku dan juga Gabby," ucap Gabriel dengan tersenyum, entah seberapa sakit yang Gabriel alami karena sikap Stuard, hingga anak sekecil Gabriel bisa bertakata demikian.


Mendengar ucapan Gabriel, Simma langsung memangku Gabriel, mendudukan di pangkuannya dan memeluk Gabriel begitu erat. Biasanya, Simma tak akan menangis kencang di depan anak-anaknya. Tapi untuk kali ini, tak bisa. Simma tak bisa untuk tak menangis keras.


Senyum yang tadi Gabriel perlihatkan luntur seketika saat sang ibu memeluknya, mendengar Simma menangis, Gabriel pun menangis. Ia terbayang saat Stuard selalu menatap malas padanya dan pada Gabby setelah Gabby memecahkan guci. hati Gabriel semakin patah berkeping-keping saat melihat ekpresi Stuard saat Gabby memintanya datang ke sekolah untuk merayakan hari ayah.


••••

__ADS_1


Simma menatap ke jendela dengan tatapan gusar, sudah beberapa hari ia membuka caffe, hanya beberapa orang yang singgah. Setiap malam, ia terpaksa membuang sebagian makanan karena tak ada yang membelinya. Uang yang sudah ia pinjam dari Kareen sudah menipis, membuat Simma benar-benar bingung. Haruskah dia meminjam uang lagi pada kakanya dan menebalkan kupingnya.


Lonceng berbunyi, membuat Simma menoleh ke arah pintu. Seorang pengunjung masuk membuat mata Simma berbinar. Ia pun menghampiri pengunjung tersebut dan memberikan buku menu


"Mommy ada yang bisa aku bantu?" tanya Gabby yang menghampiri Simma di dapur. Simma tampak berpikir.


"Gabby, kau bisa antarkan ini pada uncle yang berada di luar?" Simma menunjuk pelanggan yang tadi memesan makanannya. Lelaki itu lebih memilih duduk di luar dari pada di dalam Caffe


Gabby mengangguk antusias. Ia senang, akhirnya ada yang datang ke caffe ibunya. Sebab, Simma berjanji, jika mereka mendapat uang, Simma akan membelikan burger kesukaan Gabby dan Gabriel.


••••


Setelah menemui guru Gabriel dan Gabby, Stuard berjalan dengan langkah gontai. Sejenak, ia mendudukan dirinya, menatap kosong kedepan. Simma dan kedua anaknya benar-benar pergi meninggalkannya.


Tubuh Stuard melemah, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya, rasanya sesak membayangkan istri dan kedua anak kembarnya akan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Tidak! Ia takan membiarkan istri dan kedua anaknya pergi. Ia sudah pernah kehilangan ibu dan ayahnya. Dan ia tak mau kehilangan keluarganya lagi. Tak lama, Stuard terpikir sesuatu. Cafee, ya, caffe. Ia yakin, Simma dan kedua anaknya berada di cafee.


Secepat kilat, Stuard bangkit dari duduknya dan berlari ke arah mobil, Stuard kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Tebakan Stuard benar, Simma ada di caffenya. Dari kejauhan, ia bisa melihat Simma dan Gabriel sedang berdiri. Namun, semakin mendekat, semakin jelas apa yang sedang terjadi dengan Simma dan Gabby.


Darah stuard mendidih saat dengan jelas, melihat apa yang terjadi, seorang lelaki tengah berkacak pinggang menunjuk-nunjuk pada Gabby.


Stuard tak bisa menahan diri lagi, jantungnya terasa diremas saat melihat Gabby tampak ketakutan.


Ia turun dari mobil, berjalan dengan cepat dan tanpa aba-aba, ia menendang punggung lelaki itu hingga lelaki itu terpental kedepan.


Emosi Stuard berkobar hebat, saat lelaki itu tersungkur. Stuard kembali menerjang dan menghajarnya secara membabi buta.


Sedangkan Simma ....

__ADS_1


Hate komen blok 😎


__ADS_2