Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
284


__ADS_3

Gabriel tersadar saat Gaby menggoyangkan tangannya, ia menoleh kearah Gaby kemudian mengangguk dan menarik tangan Gaby untuk keluar.


Namun, belum sempat Gabriel membuka pintu. sekuat tenaga, Stuard menahan pintu tersebut agar Gabby dan Gabriel tak keluar, hingga Gaby dan Gabriel refleks langsung memandang Stuard


Di tengah rasa sakit yang melanda tubuhnya. Mata Stuard tampak berkaca-kaca, saat kedua anaknya memandangnya dengan tatapan asing.


Stuard berusaha menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan Gabby dan Gabriel.


Beberapa kali, Stu hampir kehilangan kesadarannya namun ia berusaha untuk tetap sadar ia tak ingin kehilangan momen minta maaf pada Gabriel dan Gaby.


"Kalian membenci, Daddy hmm?" Tanya Stuard dengan suara yang amat pelan. Ia memandang Gabby dan Gabriel dengan tatapan sendu, Gabby dan Gabriel tak menjawab, mereka kompak menunduk.


Stuard menggerakan kaki dan berjalan dengan lututnya ia menghampiri Gabby dan Gabirel lalu memenjangkan tangannya dan merangkul kedua anak kembarnya, membawa Gabby dan Gabriel kedalam dekapannya.


Gabby dan Gabriel terdiam, baru saja Gabby akan membalas pelukan sang ayah, ia teringat saat Stuard menatapnya dan menatap Gabriel dengan tatapan malas.


Nyatanya, memori Gabby dan Gabriel begitu kuat. Mereka merekam setiap detik saat Stuard menjauh dari mereka dan saat Stuard menatap malas pada mereka.

__ADS_1


Tangis Stuard luruh saat memeluk anak kembarnya. Ia memeluk Gabby dan Gabriel begitu erat, seolah ia akan kehilangan anak kembarnya.


Tak lama, Stuard melepaskan rangkulannya, ia meringis kepalanya berdenyut nyeri, perutnya terasa tersayat-sayat. Sejenak, ia memandang Gabby dan Gabriel kemudian tersenyum. Sedetik kemudian Stuard ambruk di lantai. Ia tak sadarkan diri.


"Stuarddd!" teriak Simma, ia langsung berteriak memangg dokter.


••••


Sima terduduk dikursi sebelah berangkar, ia menatapku Stuard lekat-lekat. Ia pegang tangan Stuart dan menggenggamnya. wajah tampan yang selalu berseri-seri kini tampak pucat.


sejenak Sima menoleh kearah anak-anaknya yang sedang terduduk di sofa, beruntung Stuard dipindahkan ke ruang VIP. setidaknya Gabriel dan Debby bisa beristirahat dengan sedikit nyaman.


Stuard sedang terbaring lemah tak mungkin ia meninggalkan Stuard dalam kondisi Stuard yang seperti ini. Sekecewa-kecewanya Simma pada Stuard, Simma takan tega meninggalkan Stuard yang sedang dalam posisi lemah.


••••


Waktu menunjukan pukul 3 pagi, Stuard membuka matanya. Kerongkongannya terasa kering, kepalanya masih berdenyut nyeri. Ia menoleh kebawah, kemudian tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Simma telah tertidur dengan menggenggam tangannya.

__ADS_1


Lalu, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari kedua anaknya. Tatapannya, berhenti di sofa di mana kedua anak kembarnya sedang tidur saling memeluk.


Lelaki tampan itu mengeluarkan air mata, sakit di perut dan di kepalanya memang sangat menyakitkan. Tapi justru ia bersyukur bisa terbaring di brankar, setidaknya sakit yang ia rasakan bisa membawa istri dan kedua anaknya kembali padanya.


Setelah sekian lama larut dalam rasa syukurnya. Stuard berusaha mengangkat tangannya, dan mengelus rambut istrinya. Membuat Simma melenguh kemudian terbangun dari tidurnya.


"Stu!" pekik Simma saat melihat Stuard sudah bangun. Stuard tersenyum, tapi hatinya teriris perih saat mendengar Simma hanya memanggil namanya.


"Kau ingin sesuatu?" tanya Simma, ia bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Stu.


"Aku ingin minum," jawab Stu dengan suara pelan. Secepat kilat, Simma pun mengambil botol lalu menuangkan Air ke gelas dan menaruh sedotan lalu membantu Stuard untuk minum.


"Tidurlah lagi, Stu. Kau harus banyak istirahat," ucap Simma.


"Sayang, tidulah di sampingku," jawab Stuard, berusaha menggeser tubuhnya memberikan Simma ruang untuk berbaring di sampingnya.


Scrool lagi iesss.

__ADS_1


__ADS_2