
Justin dan Ariana masih menangis tergugu. Keduanya menangis dalam diam, tak ada yang bersuara tak ada yang berbicara. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, sedangkan Angel sudah keluar sedari tadi. Ia yakin, kedua pasangan itu butuh waktu untuk saling memahami.
saat memeluk pinggang istrinya, Justin mengelus punggung Ariana. Ia mencium perut istrinya bertubi-tubi. Tangisnya masih berderai. Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya.
Rasanya, begitu menyakitkan ketika istrinya menanam banyak luka tapi ia tak tahu dan menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal, strinya menyimpan banyak ketakutan. Sedangkan ia tutup mata dan hanya melihat satu sisi. Bahwa Ariana bahagia bersamanya.
Justin berusaha menguasai diri, Ia sadar ia tak boleh terus menangis di hadapan istrinya. Ia menegakkan kepalanya kemudian menghapus air matanya dan menatap ke atas dimana Ariana masih menangis.
Perlahan, ia menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya. Justin bangkit dari berjongkoknya. Kemudian, ia duduk disebelah Ariana dan merangkul pundak Ariana lalu membawa Ariana ke dalam pelukannya.
“Sudah Sayang, sudah. Jangan menangis lagi,” kata Justin. Ia terus meminta istrinya untuk berhenti menangis. Tetapi, ia sendiri pun masih ingin menangis.
•••••
Setelah puas menangis bersama-sama. Justin mengajak Ariana untuk berbaring. Ia ingin mengajak Ariana untuk berbicara dan meminta Ariana untuk terbuka dengan apa yang istrinya rasakan.
__ADS_1
Tentang keinginan istrinya, tentang ketakutan istrinya dan tentang yang di sembunyikan Ariana..
Justin harus berusaha kuat untuk bisa memahami istrinya dan memahami keinginan Ariana.
Saat ini, mereka sedang berbaring berhadap-hadapan. Ariana menundukkan pandangannya ia sama sekali tak berani menatap Justin. Sedangkan Justin, ia mengelus kepala Ariana dengan penuh cinta. Lalu, memandang Ariana dengan tatapan memuja.
“Apa kau tak mencintaiku?” tanya Justin tiba-tiba membuat Ariana memberanikan diri menatap mata suaminya.
“Ke-kenapa kau bertanya begitu?” Tanya Ariana terbata-bata.
Ariana menggeleng. Mamun ia tak berani menatap Justin.
“Aku pikir, kau sudah mempercayakan hidupmu padaku dan kau sudah menerima aku sepenuhnya. Tapi ternyata, aku salah. kau bahkan tak menganggapku suamimu,” ucap Justin.
Ucapan Justin barusan memang dingin. Namun Ia hanya ingin memancing Ariana untuk berbicara tentang apa yang istrinya rasakan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Justin Ariana langsung mengangkat wajahnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.Terlihat jelas wajahnya panik saat menatap Justin.
Ia sungguh takut Justin akan meninggalkannya. “Bu-bukan begitu maksudku!” jawab Ariana terbata-bata.
“Lalu, kenapa kau tak membagi semua yang kau rasakan denganu, bukankah kita sudah menjadi suami istri. Seharusnya kau membagi keluh kesahmu dan rasa sakitmu denganku. Aku merasa jadi suami tak berguna, ketika aku tak bisa memahami istriku sendiri,” papar Justin lagi.
Ariana menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti biasa, jika ia tertekan. tangannya akan bereksi. Tangan yang sedari tadi diam, mulai turun ke bawah. Tanpa sadar, ia ingin mencubit kakinya yang masih terasa perih karena sayata silet.
Justin yang melihat pergerakan dari Ariana dengan segera menahannya. Ia langsung menggenggam tangan Ariana.
“Apa aku merepotkanmu?” tanya Ariana tiba-tiba. Justin menghela nafas. Sepertinya Ariana sudah akan bercerita.
“Kenapa kau bertanya begitu hemm?” tanya Justin lagi. Ia melepaskan tangan Ariana lalu membelai pipi istrinya. Terlihat jelas, mata Ariana menyimpan sejuta luka.
Scroll lagi iesss
__ADS_1