
Setelah Zayn keluar dari ruangannya. Kening Zidan mengkerut, ia bingung.
Bukankah Zayn selama Ini ingin menyingkirkan dirinya, ingin agar dirinya pergi dari perusahaan. Tapi, kenapa sekarang ....
Ada apa sebenarnya dengan Zayn, apa kepalanya terbentur kah? semua berkecamuk dalam dalam otaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul Zayn ke ruangannya tak lupa dia membawa kertas yang berisi surat pengunduran dirinya yang tadi di lemparkan oleh Zayn.
"Mark, aku ingin berbicara dengan Zayn," ucap Zidan saat berada di depan ruangan Zayn. Tentu saja ia harus meminta izin terlebih dahulu.
Mark pun mengangguk, "Sebentar, aku akan menghubunginya terlebih dahulu," jawab Mark, Zidan pun mengangguk.
"Anda di perbolehkan masuk, Tuan.
Zidan pun mengangguk, lalu ia membuka pintu ruangan Zayn.
" Bukankah aku sudah bilang, aku akan membunuhmu jika kau keluar dari perusahaan dan negara ini!" seru Zayn saat Zidan masuk kedalam ruangannya. Ia berbicara tanpa mengalihkan pandangannya pada dokumen yang sedang di periksanya.
__ADS_1
"Apa masalahmu, Zayn! ada apa denganmu?" Tanya Zidan, ia maju ke hadapan Zayn dan menaruh kertas pengunduran dirinya di hadapan Zayn.
Zayn menghela napas sejenak, ia menyenderkan punggungnya kebelakang dan menatap Zidan.
Ia menyipitkan matanya saat menyadari bahwa tatapan Zayn berbeda. Zayn yang biasa menatapnya dengan penuh kebencian tapi sekarang kakanya menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan
"Kau ingin pergi setelah membuat kekacauan?" tanya Zayn, Zidan semakin heran kala kakanya berbicara dengan nada yang tak seperti biasanya.
"Itu bukan sebuah kekacauan! Aku juga putra Daddy! Tak ada yang berubah dari perusahaan. Jadi, tak ada alasan untuk aku terus di sini. Sekarang tanda tangani ini! Aku akan pergi besok!" ucap Zidan dengan nada tegas.
"Apa aku harus mematahkan kakimu agar kau menurut." Zayn menegakan duduknya. Ia menatap tajam pada Zidan.
"Pergilah aku sibuk!" titah Zayn. Zidan semakin merasa aneh pada sikap Zayn. Bahkan Zayn sama sekali tak tak membalas bentakan Zidan. Karena tak mendapat respon dari Zayn, Zidan pun berniat keluar dari ruangan Zayn. Saat ia akan mengambil kembali surat pengunduran dirinya, Zayn terlebih dulu mengambilnya lalu merobeknya di hadapan Zidan.
"Jangan pernah bermimpi untuk pergi dari negara ini!" seru Zayn lagi.
__ADS_1
Zidan mengatupkan bibirnya, ia menahan kesal. Tak ingin terpancing emosi, ia pun lebih memilih pergi dari ruangan Zayn.
Saat Zidan pergi, Zayn menyenderkan punggungnya kebelakang, ada rasa sesak yang menghimpit dadanya kala melihat Zidan, adiknya.
Lamunan Zayn buyar ketika ponselnya berdering. Ada nomer baru memanggilnya dan ia yakin itu nomer milik Gia. Pasalnya, ia tadi memberikan ponsel baru pada Gia, karena ponsel lama Gia sudah hanyut saat di laut.
••
Setelah menelpon Zayn, kembali berbaring di ranjangnya. Ia meminta uang pada Zayn untuk membeli sesuatu. Gia bingung harus meminta uang pada siapa. Uangnya ada di apartemen yang dulu dan dengan sadisnya Zayn merubah kode apartemen Gia, tujuannya apalagi jika agar Gia tak kabur. Dan karena ulahnya, Gia pun terpaksa harus bergantung pada Zayn.
Tubuhnya seharian ini begitu lemas. Ia terus muntah dari pagi, mungkin jika meminum susu hamil ia akan merasa lebih baik, dan untuk itulah ia terpaksa meminta uang pada Zayn, untuk membeli susu hamilnya.
Tak lama, pintu berbunyi, pertanda ada yang masuk, Gia pun keluar dari kamarnya. Ternyata bukan Zayn yang masuk, melainkan Sonya.
Mereka berdua saling pandang, tubuh Gia menegang kala ia melihat Sonya, seketika ia takut kalau Sonya menganggapnya menggoda Zayn.
__ADS_1
Sonya pun mendekat dan ....
Satu part lagi malem ya Mak. Jangan bilang dikit dulu karna otor udah bilang nanti malem up lagi, nungguin krucil tidur 😂