Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
100


__ADS_3

Zidan membuka matanya, ia bangkit dari tidurnya. Ia memegang kepalanya yang terasa berat. Tiba-tiba, sekelebat kejadian terlintas di otaknya saat dulu pertama kali ia meminum alkohol dengan jumlah banyak dan semalam pun sepertinya ia menenggak alkohol yang cukup banyak hingga ia tak sadarkan diri.


Ia pun bangkit dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.


••


Setelah mandi dan menyegarkan diri. Ia pun berniat turun untuk sarapan, bersama kedua orang tuanya.


"Pagi, Mom ... Dad," sapa Zidan saat sampai di meja makan. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan kedua orang tuanya.


"Pagi," jawab Albert dan Sonya berbarengan


"Zidan, semalam kau mabuk?" tanya Sonya yang melihat mata Zidan memerah. Ia mengoles roti dan menyodorkannya ke hadapan Zidan.


Sebelum Zidan menjawab ucapan Sonya, mata Zidan menangkap leher di leher Sonya ada bercak merah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Albert.


Melihat tanda merah yang berada di leher Sonya, seketika ia ingat ucapan Albert semalam saat berbicar tentang Albert yang ingin mempunyai anak kembali.


Mengingat hal tersebut, Zidan langsung tersedak, ia langsung menatap Albert. Albert yang tau apa yang di pikirkan oleh Zidan, mengulum senyum dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Zidan kau kenapa?" tanya Sonya.

__ADS_1


Zidan mengenggak jus yang ada di depannya. Sebelum menjawab, ia menatap Albert. Albert yang di tatap oleh Zidan mengisyaratkan Zidan untuk tak membuka mulut tentang tanda di leher Sonya , karena rupanya, Sonya tak menyadari sama sekali.


"Aku tak apa-apa, Mom," jawab Zidan. Ia mengambil roti dari piring dan memakannya.


"Mom, apa kau tak ada rencana pergi hari ini?" tanya Zidan setelah menyelesaikan sarapan mereka.


"Sepertinya Mommy ingin berbelanja, kenapa memangnya?"


"Aku sarankan, jika Mommy ingin pergi, Mommy harus memakai syal untuk menutupi leher Mommy," jawab Zidan sambil bangkit dari duduknya.


Belum Sonya bertanya lagi, Zidan sudah pergi meninggalkan meja makan.


Matanya membulat sempurna saat melihat di lehernya banyak tanda merah, ia langsung menoleh ke arah Albert, Albert yang di tatap hanya tersenyum.


"Sonya jangan menyalahkanku. Salahkan dirimu sendiri yang terlalu menggoda."Sebelum Sonya mencercanya, Albert terlebih dulu berucap, ia berucao dengan dengan santai membuat mata Sonya membulat.


•••


Saat berada di pelukan suaminya, tangis Gia luruh. Ia memeluk Zayn begitu erat.


"Kau jahat Zayn ...Kau jahat," isaknya. Satu tangannya, memeluk Zayn, satu tangannya memukul-mukul dada Zayn.

__ADS_1


Sesekali Zayn meringis karena merasakan sakitnya pukulan Gia. Namun, ia tetap membiarkan Gia, melakukannya. Ia hanya memeluk mengusap lembut punggung Gia, membiarkan Gia tenang di dalam dekapannya.


Setelah di rasa Gia sudah tenang, ia melepaskan pelukannya, ia menangkup pipi Gia dan menhapus air mata Gia dengan ibu jarinya. Setelah itu, Zayn mencium kening Gia dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku," ucap Zayn.


Mendengar ucapan Zayn, Gia mengangkat kepalanya. Bukannya menjawab, Gia malah mengecup sekilas bibir suaminya.


"I love you, Daddy," ucap Gia.


Seketika tubuh Zayn terpaku saat mendengar ucapan Gia. Selama ini, ia menunggu-nunggu Gia mengucapkan cinta padanya. Bahkan kali ini, Gia memanggilnya Daddy, bukan memanggil namanya."


Sangking terkejutnya, Zayn mencngkram kedua bahu Gia. "Katakan sekali lagi!" pinta Zayn dengan nada memaksa, ia ingin mendengarkan lagi pernyataan cinta istrinya.


Gia melihat sekelilingnya. Karena kondisi di sekitarnya sepi, Gia memberikan diri mengecup lagi bibir suaminya.


Zayn tak menyia-nyiakan kesempatan, ia menahan tengkuk Gia. Baru saja Gia membalas ciuman suaminya. Lidahnya merasakan ada yang aneh. Apalagi jika bukan rasa dari pelembab dan bedak yang di pakai Zayn saat di rumah saki.


Seketika ....


Satu bab dulu ya gengs, lagi ada acara di rumah. Satu bab lagi malem, karna ada bab haredang 🤣

__ADS_1


__ADS_2