
Audrey menyeringai saat melihat isi ponsel milik Ane, tentu saja ekspresi Audrey tak luput dari penglihatan Ane, dan membuat Ane bergidik. Ia sungguh takut melihat Audrey, belum lagi, telinganya terus mendengar tayangan di televisi yang masih menyala, menayangkan kekejaman Audrey yang sedang mengeksekusi musuhnya.
"Waw, Mariane, kau sungguh pemain yang hebat," ucap Audrey, ia menaikan volume ponsel milik Ane hingga suara vidio vulgar milik Ane terdengar, sungguh, Ane merasakan malu bukan main, ketika Audrey memutar vidio yang berisi Vidio saat Ane bercinta dengan lelaki.
"Mariane, kira-kira ... Jika vidio mesummu bocor pada publik, bagaimana nasib karirmu?" tanya Audrey sambil tersenyum mengerikan pada Ane.
"A-apa maksudmu?" tanya Ane terbata. Benar, sekarang ... Ane tak punya pilihan lain. Hidupnya sedang di kendalikan oleh Audrey.
"Kau tau bukan, maksudku apa?"
"A-aku, ti-tidak mengerti," jawab Ane, padahal jelas-jelas Ane tau tujuan Audrey datang ke apartemennya.
"Baiklah, jika kau tak mengerti, maka aku akan menjelaskannya padamu. Aku ingin, kau membebaskan Zidan dan bersihkan namanya," ucap Audrey sambil memainkan pistol di tangannya.
__ADS_1
Mata Mariane membulat sempurna saat mendengar ucapan Audrey, bagaimana mungkin bisa ia membersihkan dan membebaskan Zidan sedangkan kasus Zidan sedang hangat-hangatnya di bahas di publik.
"Apa kau gila ... Bagaimana ak ...." ucapan Ane terputus kala ia melihat Audrey menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Pikirkan baik-baik, jika vidio ini tersebar ... karirmu akan hancur bukan karirmu saja yang hancur karir ayahmu di dunia politik juga akan hancur. Kau bermain bukan hanya dengan satu pria Ane, di ponselmu tersimpan banyak sekali rekaman vidio kau bermain dengan banyak lelaki. Lalu, bagaimana jika rekaman ini tersebar pada publik?"
Mata Ane terbelalak, mendengar ancaman Audrey. Ia tak bisa diam saja, ia harus melawan Audrey, begitulah pikirnya.
Mendengar teriakan Ane, Audrey tertawa. Ia mengangkat pistol dan mengarahkannya pada Ane. Membuat Ane yang berjongkok, refleks terduduk karena takut Ane yang menembaknya.
"Baiklah. Jika itu maumu. Dengan senang hati aku akan membunuhmu!" ucap Audrey. Ia menarik pelatuk lalu melepaskan tembakannya.
"Arhhhhhhh!" teriak Ane saat terdengar suara tembakan. Namun, ia langsung membuka matanya saat ia masih bernapas. Padahal, Audrey sudah melepaskan tembakan.
__ADS_1
"Kau takut?" tanya Audrey saat Ane melihat ke arahnya. Audrey menyeringai saat melihat wajah Ane yang pucat.
"Tolong bebaskan aku! aku akan mengabulkan apa pun mau mu," pinta Ane dengan memelas. Ia sedang mencoba bernegosiasi dengan Audrey, karena ia tak bisa mencabut tuntutannya pada Zidan.
"Aku sudah memberitaukan apa mauku, bebaskan Zidan dan bersihkan namanya," jawab Audrey lagi.
"Aku lebih baik mati dari pada harus membebaskannya," jawab Ane, ia berubah histeris saat Audrey terus mendesaknya. Ane di landa kebingunan, jika ia membebaskan Zidan dan membersihkan nama Zidan, ia akan di cap sebagai ratu drama. Tapi, jika ia tak membebaskan Zidan, Audrey akan membocorkan vidionya pada publik.
"Oke, mari kita kirim vidiomu pada media sosisal terlebih dahulu," ucap Audrey, ia kembali mengutak-ngatik ponsel Ane. Berpura-pura akan mengrimkan vidionya, Audrey takan mungkin, membocorkannya pada publik, karena itu adalah senjatanya agar Ane terus menurut padanya, karena Audrey memegang kartu Ane..
"Baiklah! baiklah!" jerit Ane akhirnya mengalah.
Scroll lagi iess
__ADS_1