Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
388


__ADS_3

Batin Justin terasa ngilu saat melihat kaki istrinya. Ia tak menyangka istrinya akan berbuat nekat seperti ini. Ia tak tahu bahwa istrinya akan melakukan hal diluar batas. Jika ka saja ia tahu reaksi Ariana akam begini, ia tak akan pernah membawa Ariana untuk bertemu dengan keluarganya.


Justin menangis tergugu. Ia akui, ia tadi memandang Ariana dengan tatapan datar karena tak setuju Ariana menghampiri Josh, ia sungguh tak rela bahwa istrinya di sentuh lagi oleh keluarga yang telah menyakiti istrinya. Tapi, ia lupa, bahwa Ariana adalah orang yang paling perasa. istrinya bisa peka terhadap apa pun.


selama menikah dengan Ariana dan selama mereka tinggal di pulau pribadi. Justin terlalu larut dalam bahagianya. Hingga, ia lupa, istrinya butuh psikiater untuk menyembuhkan luka batin yang selama ini di alaminya.


Ariana mengerjap, Ia membuka matanya kemudian melihat kebawah. Ternyata, Justin sedang meniup niup pahanya. Kepala Ariana berdenyut nyeri, pahanya terasa perih .dadanya serasa ditusuk ribuan berarti saat mendengar suara tangisan Justin.


Ia menggerakan kakinya, membuat Justin menoleh ke atas. Justin berusaha untuk menguasai diri, tubuhnya di sebelah Ariana ia mengusap rambut Ariana kemudian mencium kening istrinya.


hening, suasana begitu hening. Ariana tak membuka mulutnya untuk berbicara dengan Justin. Namun, matanya menatap Justin dengan tatapan terluka.

__ADS_1


Justin pun sama, ia tak berbicara apa-apa karena ia tak ingin semakin membebani istrinya. Justin menghapus air matanya kemudian mengelus rambut istrinya.


“Kau lapar Sayang?” tanya Justin dengan nada penuh perasaan dan begitu lembut. Ia tak ingin membahas hal yang baru saja di lakukan oleh istrinya. Karena ia tau, hal itu sangat menyakitkan untuk Ariana.


Ariana menggigit bibirnya, matanya sudah memanas. Satu kali kedipan saja, sudah dipastikan air matanya akan menganak sungai


Ia tak menjawab, ia malah memalingkan tetapannya kearah lain. Malu, sedih, sesak menghantam Ariana secara bersamaan.


“Kau ingin makan steak makan pasta seafood atau apa hmm?” tanya Justin. Ia berusaha untuk mengajak Ariana berbicara.


“Aku akan membawakan semua makanan untukmu,” kata Justin lagi. Saat ia akan bangkit, tangannya dicekal oleh Ariana membuat Justin kembali membaringkan dirinya.

__ADS_1


Ariana memegang tangan Justin, sedangkan Justin langsung mengusap airmata Ariana. “Tidak apa-apa ... Tidak apa-apa,” kata Justin lagi dengan penuh perasaan. “Kau pasti lapar, kan? kalau begitu aku akan membawakan semua makanan kesukaanmu kemari.”


Setelah mengatakan itu, Justin bangkit dari duduknya untuk memerintahkan koki memasak. Ia juga berusaha untuk mengalihkan rasa sakit istrinya. Namun, saat ia akan bangkit, gerakannya terhenti saat Ariana memegang tangannya.


“Tolon, peluk aku sebentar saja,” pinta Ariana dengan nada-nada yang sangat pedih. Ia hanya ingin menangis sekencang-kencangnya. Besok, ia pasti akan malu untuk menatap Justin. Tapi ia tak perduli, malam ini, ia hanya ingin menangis sekencang-kencangnya. Rasanya, terlalu, sesak, terlalu pedih jika tak menangis.


Dengan senang hati, Justin membawa Ariana kedalam pelukannya. Mengelus punggung Ariana dan membiarkan Ariana puas menangis di dalam pelukannya.


Entah berapa lama Ariana menangis. Akhrinya nafas Ariana mulai teratur, menandakan Ariana sudah tertidur.


Justin melepaskan pelukannya. Ia bangkit dari duduknya kemudian mendekat ke paha istrinya kemudian meniup-niup lagi kaki istrinya.

__ADS_1


Keesokan harinya.


Scroll


__ADS_2