
"Sayang, aku perhatikan, kau berbeda seminggu ini. Apa ada yang mengganggu mu, hmm?" tanya Josh. Saat ini, mereka sedang berada di mobil. Josh sengaja menjemput Briana karena sudah seminggu ini, Briana seperti menghindar darinya.
Briana tersenyum, tapi batinnya teriris perih. Seminggu setelah memeriksa kehamilan Simma. Ada yang janggal dengan hatinya.
Walaupun ada lelaki yang mengaku sebagai ayah dari kedua bayi yang di kandung Simma. Tapi, jika mengingat usia kehamilan Simma, Briana ragu bahwa lelaki itu adalah ayah dari bayi yang di kandung Simma.
Usia kehamilan Simma sudah memasuki 10 minggu, atau dua bulan lebih dua minggu dan Josh baru memutuskan Simma sebulan yang lalu, bukankah saat Simma pertama hamil, Josh masih berhubungan dengan Simma.
Naasnya, Briana tak tau, bahwa setelah Josh berhubungan badan dengan Simma. Josh langsung mencampakan Simma dan menjauhi Simma. dan mereka baru resmi putus sebulan yang lalu, walau pada nyatanya, Josh mencampakan Simma setelah mereka berhubungan badan.
"Aku hanya sedikit lelah, Josh. Kau, tau, pasien melahirkan seminggu ini sangat banyak. Aku bahkan tak sempat untuk pulang ke rumah," jawab Briana setenang mungkin.
__ADS_1
Sebenarnya, ia ingin bertanya pada Josh, tentang apakah Josh pernah berhubungan badan dengan Simma atau tidak. Tapi, ia juga tak sanggup jika harus mendengar jawaban Josh. Membayangkannya saja sudah membuat dada Bri terasa sesak. Apalagi jika memang dugaannya benar.
"Mau berbelanja? sepertinya moodmu sedang buruk," tawar Josh.
"Ide yang bagus," kekeh Bri.
30 menit kemudian, mereka pun sampai di pusat perbelanjaan. Seperti biasa, Josh membukakan pintu mobil untuk Bri dan mengenggam tangan Briana.
Briana menggeleng. "Aku hanya bingung, Josh. Kau, tau, kan. Koleksiku sudah menumpuk di apartemen," jawab Bri berbohong.
Josh terkekeh. "Kau bisa membeli sebanyak apapun yanh kau mau. Kau tak lupa kan, jika calon suamimu ini seorang Ceo," jawab Josh, membuat Bri hanya tersenyum. Setiap melihat Josh, Bri merasa sesak, bayang-bayang Josh berkata jujur sudah tersimpan di otaknya dan semakin membuatnya teriris perih.
__ADS_1
"Josh, aku ingin ke toilet. Bisakah kau tunggu aku di sini," ucap Bri, Josh pun mengangguk. Setelah Briana pergi, Josh menyenderkan punggungnya kebelakang dengan kaki yang di silangkan. Ia merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
10 menit berlalu, Briana belum juga kembali. Josh pun kembali memasukan ponselnya kedalam saku dan menegakan tubuhnya, ia berniat menyusul Briana ke toilet.
Namun, saat ia akan melangkah. Langkahnya terhenti saat melihat Simma bersama seorang lelaki. Dari jarak yang tak telalu jauh, Josh menatap Simma lekat-lekat. Untuk kedua kalinya, ia melihat Simma berjalan bersama lelaki.
Bukankah Simma memiliki gangguan panik saat bertemu orang baru. Josh tau betul, butuh waktu setidaknya berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk orang baru mendekati Simma.
Dulu, pun, ia sama. Ia harus berjuang selama 3 bulan untuk mendekati Simma. Sebelum Simma luluh, Simma hanya akan berbicara pada Josh seperlunya.
Tapi sekarang, ia melihat Simma sudah dekat dengan lelaki lain. Dan ia yakin, lelaki itu baru di kenal oleh Simma. Sebab, Josh tau, di Rusia, Simma tak mempunyai kenalan atau teman selain Audrey. Jangankan teman lelaki, teman wanita saja hanya Audrey.
__ADS_1
Tapi sekarang, di depannya ... Ia melihat Simma seperti orang yang nyaman bersama lelaki tersebut. Tiba-tiba, Josh merasakan ada yang aneh dengan dirinya, kenapa ia merasa sesak saat Simma tersenyum dan menggenggam tangan lelaki itu.