Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
331


__ADS_3

••••


Satu Minggu kemudian.


Waktu menunjukan pukul 23.50 waktu Rusia. Ariana menekuk kakinya, Lalu mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang dan menelponya.


"Na-Nancy ...." Panggil Ariana lirih. Air mata sudah mengenang saat Nancy mengangkat panggilannya.


"Jangan menangis Ariana ...." Jawab Nancy di sebrang sana. Ia bisa saja melarang Ariana menangis. Faktanya, ia sendiri pun sudah menangis.


"Na-nancy, nyanyikan lagu ulang tahun untukku!" pinta Ariana, isakan Ariana berubah menjadi tangisan kencang.


Untuk kesekian kalinya, kedua orang tuanya mematahkan hati wanita malang itu. Sejak pembicaraan seminggu yang lalu bersama Josh. Walaupun ia hanya iseng berkata ingin ulang tahun di Bali dan membatalkan lagi keinginannya, Ariana pikir sang ayah akan membujuknya atau setidaknya memberikannya sesuatu yang spesial seperti cake atau hadiah.


Tapi tidak, keluarganya sudah pergi ke Korea tadi pagi. Briana menelponnya dan beralasan bahwa semua sudah di siapkan hingga tak bisa di batalkan. Bukankah ini begitu lucu, kedua orang tuanya mengatakan bahwa mereka ke Korea untuk merayakan ulang tahunnya.


Lalu ketika dia tak mau pergi, kenapa orang tua dan adiknya masih pergi. Bukankah mereka yang berulang tahun adalah dirinya.

__ADS_1


"Nancy ...." Bibir Ariana bergetar saat Nancy menyayikannya lagu ulang tahun.


Ia meraih meja kecil di depannya. lalu mengambil gelas di sisinya dan menyimpan lilin di gelas tersebut, lalu menyalakan lilinnya dengan api.


Tak ada kueh ulang tahun, tak ada hadiah, tak ada ucapan, tak ada yang memeluknya dan mendoakannya. ia sudah mengalami hal ini setiap tahun dan tak asing lagi dengan rasa sakit ini. tapi, kenapa rasanya masih sangat menyakitkan.


"A-Ariana a-apakah kau membeli kueh ulang tahun?"Tanya Nancy terbata-bata. Tangis Ariana semakin luruh mendengar ucapan Nancy, ia bahkan tak sanggup menjawab pertanyaan Nancy.


"Ariana berhenti menangis," kata Nancy lagi saat tangisan Ariana semakin keras.


"Nancyyyy aku ingin ikut denganmu!" kali ini Ariana berteriak, menyalurkan amarahnya dan rasa kesalnya. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Ia sama sekali tak bisa menghentikan tangisannya.


Saat beberapa menit lagi ia akan meniup lilin, terdengar suara bel berbunyi. Ia bangkit dari duduknya, dan menghapus air matanya. Lalu keluar berjalan dengan tertatih-tatih..


Ariana membuka pintu, terlihat sosok lelaki yang jangkung, gagah dan tampan. Lelaki itu memakai hodiee hingga menambah kesan maskulinnya.


Lelaki itu membuka penutup kepalanya, dan menatap Ariana.

__ADS_1


"Mi-misterrr ...." Lirih Ariana terbata-bata saat melihat Justin berdiri di depannya.


"Kau sudah tau aku, jadi aku rasa aku tak perlu berpura-pura lagi," kata Justin. Seketika, Ariana mengalihkan tatapannya ke arah lain, karena ia merasa tangisnya akan segera turun.


Perlahan, Justin maju ke arah Ariana. Lalu, ia membawa Ariana kedalam pelukannya. Luruh sudah tangis Ariana di pelukan Justin. Ariana tak membalas pelukan Justin atau pun membalasnya. Karena ia merasa, bahwa ia memang butuh pelukan ini.


"Ba-bawaa aku pergi dari sini ...." Hanya itu yang bisa Ariana katakan di pelukan Justin. Rasanya, pelukan ini begitu membuatnya teramat nyaman.


"Jika saja aku tau kau akan menderita seperti ini, seharusnya saat itu aku menembak kepala kedua orang tuamu!" Justin membatin dalam hati, tangannya terus mengelus punggung Ariana, membiarkan Ariana tenang dalam dekapannya.


Ya, Justin adalah Marco .....


Asal usul Marco dan apa yang terjadi sama Marco sampai bisa terus ngikutin Ariana di bahas di next bab ya


Sebentar lagi bahagia ko ya gengs, akan ada di mana Part Ariana ngeluarin keluh kesahnya ke kedua orang tuanya.


Setelah bab ini, kalian bisa scroll atau skip karena isinya cerita terbaruku dengan judul menikah dengan Duda dan tayang di aplkasi si hijau.

__ADS_1


__ADS_2