
Gia menghela nafas ketika melihat wajah suaminya yang kesal. Rupanya, ia salah mengambil waktu. Harusnya ia berbicara dengan Zayn ketika Zayn benar-benar dalam pikiran yang tenang.
“Aku mengerti dan aku hanya memintamu untuk bersikap lebih baik padanya,” ucap Gia lagi.
Zayn mengelus rambut Gia. “Jangan memikirkannya lagi,” ucap Zayn Gia pun mengangguk. Zayn mengambil remot kemudian mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur. Setelah itu, ia mendekap tubuh istrinya dan mulai terlelap
keesokan harinya
Arletta tersenyum ketika memandang makam Albert dan Sonya yang bersebelahan.
Ia mendudukkan tanah dengan posisi bersila, Arleta mengelus makam Sonya. “Mommy, maaf. Aku baru datang menemuimu,” ucap Arleta, ia meremas kedua tangannya berusaha untuk tak menangis. “Mommy paasti bencikan padaku karena aku tak datang untuk menemui Mami,” ucapnya lagi. “Ah, iya. Daddy, kau juga pasti benci kan padaku karena aku telah mengecewakanmu.”
Sekuat apapun Arleta menahan tangisnya tetap saja tak bisa ia tak bisa, ia menangis tergugu ketika berada di makam kedua orang tuanya. Sudah lama sekali, Arleta tidak mengunjungi makam Sonya dan Albert.
Hari ini, ia keluar dari mansion secara sembunyi-sembunyi berharap kedua kakak nyat tak memergokinya. Ia sudah sangat rindu kepada kedua orang tua angkatnya.
Setelah mengatakan itu, Arletta terdiam. Ia menunduk kemudian ia mengambil paperbag yang dibawanya lalu mengeluarkan kotak bekal
__ADS_1
Ia sengaja membawa makanan untuk makan di makan Sonya dan Albert.
“Mommy, ingat tidak, mommy sering membuatkan bekal ini untukku,” ucap Arleta. Ia menyuapkan makanan ke mulutnya dengan berderai air mata. “Aku rindu memakan masakan Mommy,” ucapnya lagi. “Aku rindu
.... ” Areta menghentikan ucapannya suaranya sudah tenggelam dengan tangisan.
Dengan rasa perih yang menjalar dalam dada, Arleta terus menyuapkan sendok demi sendok makanan yang di bawanya. Ia tak punya tempat untuk berkeluh kesah, hanya di makam kedua orang tuanyalah ia bisa menangis sepuasnya.
••••
“Kau dari mana?” tanya Zidan dari arah belakang. Arleta yang sedang berjalan langsung menghentikan langkahnya, kemudian ia memejamkan matanya, dan mengigit bibirnya. Ia pikir, kakanya sedang berada di kantor. Tapi, ternyata Zidan ada di mansion.
“A-aku baru saja pergi dari makan mommy dan Daddy,” ucap Arleta, Zidan melihat wajah Arleta lekat-lekat. Mencari kejujuran dari wajah adik angkatnya.
“Kembali ke kamarmu dan istirahat,” ucap Zidan Arleta pun mengangguk. Ia kembali berbalik dan berjalan.
••••
__ADS_1
Beberapa hari kemudian
Arleta tersenyum saat melihat Zidny sedang berlatih kuda. Anak kedua dari Zidan dan Audrey itu tampak bersemangat menunggangi kudanya.
Arleta menyipitkan matanya saat Zidny terlihat gelisah. Tak lama, ia menyadari sesuatu. Dengan cepat, Arleta berlari ke arah lapangan saat ia menyadari bahwa kuda yang di tumpangi Zidny mengamuk hingga Zidny hampir saja kehilangan kendali.
Arleta berlari secepat kilat, yang di pikirannya adalah menyelamatkan Zidny, dan setelah ia dekat dengan kuda tersebut, Arleta berlari semakin cepat dan berusaha menarik tali kekang yang berada di leher kuda.
Beberapa kali, Arleta hampir gagal menarik tali tersebut, ia berlari lebih keras. Hingga akhirnya, Ia berhasil menarik tali tersebut. Zidny terus menyeimbangkan diri agar tak terjatuh, sedangkan Arleta menarik tali itu dengan tubuh yang terseret. Ia hampir saja kehilangan tenaga. Namun, Arleta berusaha untuk terus menarik tali itu dan menarik kepala kuda untuk melihat ke kanan.
Dan akhirnya, kuda itu berhasil di hentikan, Zidny terjatuh, dan kuda itu kehilangan keseimbangan hingga terguling menimpa tubuh Arleta.
“Aunty!” teriak Zidny ....
Seketika
ngerti ga sih jadi Arleta, bukannya lebay ya tapi dia tuh lebih ke sadar diri aja. 😭😭
__ADS_1
Satu bab lagi menyusul ya.
Ga komen ga flend hate komen otor libur setaon💃💃