
“Kau hebat sekali, Dad. bisa memikirkan rencana seperti ini,” ucap Gabby saat Amelia dan Gabriel keluar dari ruangan. Stuard tertawa, kemudian membantu istrinya untuk bangun.
“Kau tahu. Bahkan, Daddy harus berpura-pura menjadi orang biasa ketika mendekati Mommy kalian, karena Mommy kalian dulu sangat sulit sekali untuk didekati,” jawab Stuard, bola matanya memutar ke atas, mengingat kembali perjalanan cintanya dengan Simma.
”Lalu bagaimana Mommy bisa menerima Daddy?” tanya Gisel.
”Tentu saja karena dia sangat kaya,” celoteh Simma, membuat Stuard memicingkan matanya.
“Biang saja kau cinta dan terpesona karena ketampananku,” ucapnya lagi. Gisel dan Gabby tertawa ketika melihat interaksi kedua orang tuanya, mereka bersyukur sampai detik ini kedua orang tuanya begitu harmonis. Mereka bisa melihat, tatapan cinta keduanya masih menggebu-gebu, walaupun mereka menikah sudah puluhan tahun.
“Ah, Mom ... Dad, aku ada interview besok di rumah sakit. Mungkin jika aku lulus, aku akan mulai praktek,” ucap Gabby. Namun, Stuard menggeleng.
“Tidak kau tidak boleh bekerja di rumah sakit mana pun,” jawab Stuard.
“Daddy sedang membangun rumah sakit untukmu dan sebentar lagi selesai. Daddy tidak ingin kau bekerja di rumah sakit milik orang lain,” sambung Stuard lagi. Saat Gabby memilih menjadi dokter ahli bedah syaraf, Stuard mulai membangun rumah sakit.
__ADS_1
Ia tak ingin anak-anaknya di perintah oleh orang lain, hingga Stuard memutuskan untuk membangun rumah sakit sendiri.
Ia ingin Gabby nyaman dan bisa mengatur semuanya sesuka Hati. Bahkan, Stuard sudah mengatur ruangan khusus untuk Gaby.
“Kau serius, Dad?” tanya Gabby. Stuart mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kau benar-benar ajaib, Dad.”
“Kau tidak lupa, kan, kak. Siapa Daddy,” celoteh Gisel membuat Gabby menepuk keningnya. Mereka adalah putri seorang Stuard Josepin, lelaki yang bisa membuat hal mustahil menjadi nyata
•••
“Jawab dulu pertanyaanku, Amelia. Apakah kau mau menikah denganku?” tanya Gabriel lagi.
“Benarkah, benarkah aku bisa melakukan apapun pada tubuhmu?” tanya Amelia. Kali ini, nadanya terdengar menantang. Ia ingin melihat bagaimana kesungguhan Gabriel
__ADS_1
“Tentu, kau boleh melakukan apapun pada tubuhku. Aku akan menuruti semua tanpa terkecuali,” jawab Gabriel. Amelia mengangguk-anggukan kepalanya.
“Bagaimana, kau mau menikah denganku?” tanya Gabriel. Kali ini, nadanya terdengar sangat rapuh. Di satu sisi ia takut mendengar jawaban Amelia, bagaimana jika Amelia tidak mau menikah dengannya.
Tapi di sisi lain, ia berharap Amelia mau mengiyakan ajakannya. Tak masalah, Amelia belum membuka hati padanya, yang terpenting Amelia sudah menjadi istrinya, itu sudah lebih dari cukup.
“Kau mau menikah denganku Amelia? Aku berjanji aku akan melakukan yang terbaik untukmu dan untuk Griysa," jawabnya lagi.
Amelia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian melihat ke arah Gabriel, semua demi ibumu dan demi keluargamu,” jawab Amelia. Pikiran Gabriel kosong seketika, ia berusaha mencerna ucapan Amelia.
“Ma-maksudmu kau setuju menikah denganku?” tanya Gabriel lagi.
Amelia mengangguk pelan, kemudian memalingkan tatapannya ke arah lain. Rasanya, ia tidak sanggup untuk melihat wajah Gabriel.
Ia tersenyum getir, pada akhirnya ia kembali lagi ke pelukan lelaki yang dulu pernah menyakitinya, Namun, anehnya dia tak bisa membenci ayah dari putrinya.
__ADS_1
Seketika Gabriel bangkit dari duduknya, baru saja ia akan memeluk Amelia. Namun, gerakannya terhenti ketika melihat Amelia yang menatapnya dengan datar.
Scroll gengs