
Audrey merasakan tubuhnya begitu lemas, sedari tadi, Audrey belum mengisi perutnya dengan apa pun. Ia tetap setia memandangi wajah Kelly yang masih belum membuka matanya.
Audrey bangkit dari duduknya, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kelly, mencium kening Kelly dan berbisik.
"Kelly, mommy tau, kau kuat. Bangun, Sayang. Kau ingin pergi ke taman hiburan, kan. Ayo bangun Sayang. Setelah ini, kita pergi ke taman hiburan bersama," bisik Audrey di telinga Kelly. Ia begitu putus asa saat Kelly tak kunjung membuka matanya.
Pintu terbuka, menyadarkan Audrey, ia menoleh ke arah pintu, ternyata Simma yang masuk.
"Audrey, kau beristirahatlah. Biar aku yang menjaga Kelly," ucap Simma, membuat Audrey menggeleng.
"Kau sudah makan, Simma?" Tanya Audrey yang malah mengkahwatirkan Simma.
Simma menggeleng, ia malah menghambur memeluk Audrey. "Maafkan aku yang tak becus menjaga Kelly," lirih Simma dengan terisak.
"Tidak, Simma. Tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri," jawab Audrey sambil melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata Simma dengan ibu jarinya.
Tak lama, pintu di ketuk membuat Simma dan Audrey menoleh ... 2 orang pria berseragam masuk ke dalam ruangan yang di tempati Kelly.
"Nona Audrey Khail!" panggil salah satu lelaki tersebut yang tak lain adalah polisi.
Melihat polisi, Simma langsung bersembunyi di belakang tubuh Audrey. Audrey mengepalkan tangannya saat polisi datang menghampirinya, tapi ia harus berusaha agar tetap tenang.
"Ya, saya Audrey," ucap Audrey.
"Anda di laporkan oleh tuan Zidan, karena menganiyaya nona Mariane," ucap sala satu polisi tersebut.
Audrey menahan geram saat mendengar Zidan melaporkannya. Ia berusaha tetap tegar, walaupun hatinya teriris perih.
Jantungnya serasa di tikam ribuan jarum, dadanya terasa sesak bukan main. Zidan sukses membuat semua hancur berkeping-keping. Tak cukupkah Zidan menghinanya hingga harus juga melaporkannya.
"Nona Audrey." Polisi memanggil kembali Audrey karena Audrey terus diam.
Belum Audrey membalas terdengar suara Kelly dari arah belakang.
"Mommy!" lirih Kelly dengan suara yang super pelan, tapi Audrey masih bisa mendengarnya.
Audrey dan Simma pun menoleh.
"Kelly!" pekik Audrey. Ia langsung berjalan cepat ke arah brankar, ia mengelus rambut Kelly dan mencium kening Kelly bertubi-tubi.
Hari Audrey semakin hancur kala melihat senyuman Kelly.
Kelly sama sekali tak mengeluh dan tetap tersenyum. Namun, Audrey tau, bahwa Kelly sangat kesakitan, karena secara bersamaan, Audrey bisa melihat bahwa putrinya meringis.
"Beri saya waktu 5 menit untuk berbicara pada putri saya," ucap Audrey pada para polisi yang menunggunya. Polisi itu saling pandang, namun kemudian mereka mengangguk dan mereka pun meninggalkan ruangan dan menunggu Audrey di luar.
Setelah para polisi pergi, Audrey berbalik untuk menghapus air matanya. Ia tak ingin Kelly melihatnya menangis.
Audrey menggenggam tangan Kelly dan mengecupnya.
"Kelly, Mommy ada pekerjaan mendadak. Kau di sini, bersama Aunty Simma oke," ucap Audrey pada Kelly. Audrey kembali mengepalkan tangannya karena berusaha mati-matian menahan diri agar tak menangis.
__ADS_1
Kelly mengedipkan matanya, pertanda mengiyakan ucapan Audrey. Lalu tak lama ia memajukan mulutnya karena ingin mencium pipi Audrey.
Setelah mengecup pipi Audrey, Kelly menggerakan mulutnya "Mommy, pergilah. Aku baik-baik saja." Kelly berucap tanpa suara kemudian ia tersenyum. Membuat tangis yang sedari tadi di tahan akhirnya pecah.
Kenapa putrinya begitu baik, kenapa putrinya tak menangis dan malah tersenyum.
"Mommy berjanji. Mommy akan kembali secepatnya," ucap Audrey pada Kelly dan Kelly hanya tersenyum, lalu mengedipkan matanya.
"Simma, jika terjadi apa-apa denganku. Tolong hubungi Josh," ucap Audrey pada Simma, ia menggenggam tangan Simma karena Simma masih gemetar.
"A-audrey," lirih Simma terbata.
"Simma, dengarkan aku. Di tasku ada dompet dan kartu atm. Kode atmku ulang tahun Kelly." Setelah mengucapkan itu pada Simma. Audrey pun memeluk Simma yang masih menangis.
Saat Audrey akan keluar, Audrey melirik lagi ke arah Kelly, dan rupanya Kelly sedang meringis. Tak sanggup terus melihat putrinya terus berpura-pura baik-baik saja. Audrey pun memutuskan untuk segera keluar dari ruangan.
Saat keluar dari ruangan, ternyata para polisi tadi sedang berbicara dengan Zayn. Zayn yang baru saja melunasi biyaya rumah sakit Kelly, terpekik kaget saat melihat polisi di depan ruangan keponakannya.
"Tuan Zayn!" panggil Audrey ketika Zayn masih beradu argumen dengan para polisi.
Zayn menoleh ke arah Audrey, lalu menatap Audrey dengan tatapan iba.
"Biar saya pergi ke kantor polisi. Terimakasih atas bantuan anda," ucap Audrey.
"Aku akan membebaskanmu secepatnya," ucap Zayn. Audrey tak membalas lagi ucapan Zayn. Ia pun berlalu pergi bersama polisi.
"Dasar bodoh!" maki Zayn saat kembali menelpon Zidan. Namun, adiknya tak mengangkat panggilannya.
Saat Zayn akan menaiki lift dan pintu lift terbuka, ia menghela napas lega saat melihat Zidan ternyata berada di lift.
ternyata, Zidan membawa Ane ke rumah sakit yang sama, karena ponsel Zidan berada di mobil jadi ia tak tau bahwa sedari tadi Zayn menelponnya.
"Zayn kau sedang apa di sini?" tanya Zidan saat keluar dari lift.
"Kau dari mana saja bodoh!" maki Zayn pada adiknya membuat Zidan mengernyit heran karena sang kaka yang terlihat kesal.
"Zayn ada apa denganmu?"
Zayn menggela napas. Ia tak bisa menjelaskan pada Zidan dengan emosi.
"Ayo ikut aku!" Ajak Zayn, ia mengajak Zidan untuk pergi ke tempat yang sepi.
"Putrimu sedang kritis," ucap Zayn ketika mereka sudah di lorong yang sepi.
Mendengar ucapan Zayn, Zidan tergelak. "Kau bercan ...."
"Apa kau pikir aku bercanda?"
Mendengar ucapan Zayn yang serius, Zidan menghentikan tawanya.
"Saat kau di korea, Josh menugaskan sekretarismu untuk mengawasimu. Dan saat kau mabuk kalian ...." Zayn tak sanggup lagi meneruskan ucapannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Zayn, Zidan tampak mengingat-ngingat. Lalu tak lama, ia menutup mulut. Lutunya mendadak melemas.
"Ternyata itu bukan mimpi!" gumam Zidan, tubuhnya hampir saja limbung saat mengingat kejadian 7 tahun silam.
"Za-zayn ...." ucap Zidan terbata-bata. Napasnya terasa sesak kala ia mengetahui yang sebenarnya. Kini, ia tau, kenapa setiap melihat Kelly ada rasa tak biasa yang ia rasakan.
Tiba-tiba, ia teringat ucapan Arleta yang pernah mengatakan bahwa Kelly mengatakan pada Arleta bahwa ayahnya telah meninggal dan sangat mirip dengan dirinya. Kini, ia sadar satu hal. Selama ini Kelly tau bahwa ia adalah ayahnya.
"Ya, Kelly adalah putrimu ... dan dia baru saja melewati masa kritisnya karena tertabrak."
"Di-dimana putriku, Zayn?" tanya Zidan dengan bibir bergetar.
"ikuti aku," ajak Zayn.
"Masuklah! dia di dalam," ucap Zayn saat sampai di ruangan Kelly.
Dengan tangan gemetar, Zidan mendorong pintu, langkahnya seolah tak berpijak ketika melihat putrinya terbaring di brankar
Simma yang sedang mengusap kepala Kelly karena Kelly kesakitan pun, menoleh ke arah pintu.
"Ke-Kelly," ucap Zidan terbata-bata saat sudah di sisi Kelly, bulir bening terjatuh dari pelupuk matanya saat melihat Kelly yang sedang menangis karena menahan perih.
Baru saja Zidan akan lebih mendekat ke arah Kelly, Kelly dengan pelan menggerakan kepalanya agar tak melihat Zidan.
Rupanya, saat polisi berkata bahwa Zidan melaporkan Audrey, Kelly sudah membuka mata hingga ia mendengar semuanya.
Ia memang menyayangi Zidan. Namun, rasa sayang itu berubah menjadi benci ketika Zidan menjebloskan Audrey kedalam penjara.
Bocah jenius itu, merasakan sakit hati yang amat luar biasa, ketika melihat Audrey menangis saat akan meninggalkan ruangan dan meninggalkan dirinya untuk mengikuti polisi.
Karena faktanya, Kelly tau bahwa sang ibu berbohong. Walaupun Audrey berkata ada pekerjaan. Namun, Kelly tau, bahwa sang ibu di jemput polisi untuk di masukan kedalam penjara.
Dan yang hanya bisa Kelly lakukan adalah tersenyum, berpura-pura baik-baik saja, agar bisa menguatkan Audrey
Zidan mengitari brankar untuk melihat wajah Kelly, ia membungkukan dirinya, dan menggenggam tangan putrinya.
Saat Zidan menggengam tangan Kelly, Sekuat tenaga, Kelly melepaskan tangan Zidan dari tanggannya membuat Zidan terpekik kaget.
"Pergi!" lirih Kelly dengan suara pelan.
Sedangkan Audrey.
Saat ia berada di mobil polisi. Tiba-tiba, mobil berhenti. Satu polisi yang berada di depan langsung membukakan pintu belakang. Dan tanpa aba-aba, polisi itu membekap Audrey dengan sapu tangan yang sudah di olesi obat bius.
Rupanya, polisi itu polisi palsu, nyatanya, semua sudah di rencanakan.
Mewek banget park Kelly 😔😔
Udah panjang banget nih, ye.
Hate komen blok 😎
__ADS_1