Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
32


__ADS_3

Sonya menutup mulut saat mendengar ucapan Mark lewat telepon. Tubuhnya terdiam kaku saat Mark mengatakan kebenarannya. Benar, gadis yang dipacari Zidan adalah Gia.


Kini, Sonya bukan lagi mengkhawatirkan kedua anaknya yang akan berselisih paham, ia justru lebih mengkhawatirkan keadaan Gia.


Sonya tau watak putranya. Jika Zayn sudah menginginkan sesuatu, Zayn tidak akan mundur. Dan sekarang, feeling Sonya mengatakan bahwa kondisi Gia sedang tidak baik-baik saja.


Sonya pun kembali membuka ponselnya. Dengan cepat, ia langsung menghubungi Mark kembali. Ia, menyuruh Mark untuk secepatnya terbang ke Bali untuk memastikan keadaan Gia.


Beruntung pesawat Mark yang akan terbang ke Rusia mengalam delay. Mark pun akhirnya mengubah rutenya menjadi ke Bali terlebih dahulu.


"Oh, God. Kenapa kaka beradik itu selalu membuatku susah!" gerutu Mark saat dia baru saja menerima perintah. "Akan ku cincang tubuh mereka jika mereka melakukan hal gila disana!" gerutu Mark lagi.


6 tahun lalu, ia menjadi kepercayaan Sonya dalam mengelola segala hal serta menjadi tangan kanan Sonya. Tapi, setelah Zayn menikah dengan Alisia, mantan istri Zayn. Ia, di tugaskan untuk mengawasi Zayn secara terang-terangan. Tugasnya bertambah 2x lipat saat Zidan kembali lagi ke Rusia dan sekarang ia pun harus membereskan kekacauan yang di buat oleh kaka beradik tersebut.

__ADS_1


Setelah sampai di Bali, Mark dengan segera menuju hotel yang di tempati Zayn dan Gia. Beruntung Mark tau di mana hotel tempat Gia dan Zayn, karena dia yang mengurusnya.


Saat sampai di hotel, Mark melihat kedua anak buah yang juga ia kenal sedang menunggu di lobi hotel. mark menghela napas sejenak. Ia yakin, bahwa sudah ada yang terjadi antara mereka ber 3.


"Tu-tuan!" sapa seseorang anak buah Zayn saat melihat Mark menghampiri mereka. Mereka pun langsung bangkit dari duduknya dan menunduk hormat pada Mark.


"Apa kalian tau apa yang sedang terjadi dengan bos kalian?" tanya Mark.


Seketika kedua orang itu saling sikut.


Belum Mark melanjutkan kalimatnya, salah satu dari mereka langsung berbicara karena takut jika Mark akan mengancam mereka.


Salah satu orang itu pun maju dan berbisik pada Mark.

__ADS_1


Mata mark membulat sempurna saat mendengar semuanya. "Dimana kamar Gia?" tanya Mark.


"Ma-mari, Tuan!" ajak salah satu anak buah Zayn pada Mark.


Mark dan anak buah Zayn pun berjalan dengan cepat, feelingnya sedang berkata bahwa Gia sedang tidak baik-baik saja karena ulah kaka beradik tersebut.


Melihat pintu yang sedikit terbuka, Mark langsung masuk kedalam kamar Gia. Matanya terbelalak saat melihat Gia tak sadarkan diri dengan darah di sekitarnya.


"Gia!" teriak Mark dari arah pintu. Ia dengan segera menghampiri Gia yang tak sadarkan diri. Setelah melihat Gia lebih dekat, Mark segera mencari kain untuk memakaikannya pada tangan Gia, guna menghentikan darah yang keluar dari tangannya. Tak, lupa ia menutupi tubuh Gia dengan selimut karena Gia hanya memakai pakaian mini.


"Kalian!" teriak Mark memanggil anak buah Zayn yang sedang berada di luar.


"Minta pihak hotel untuk menghubungi rumah sakit dan bilang pada mereka ada pasien kritis," ucap Mark setelah dua anak buah Zayn masuk.

__ADS_1


Mereka pun mengangguk, kemudia kembali lagi keluar untuk berbicara pada pihak hotel.


Scroll ya masih ada satu bab lagi.


__ADS_2