
Gabriel mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya, ia tak sabar untuk sampai di tempat Amelia. Setelah dari apartemen Ariana, ia tidak langsung pulang ke Mansion melainkan pergi ke rumah Amelia.
Rasa sakit dan rasa perih yang di alami Gabriel hari ini, membuat Gabriel gelap mata. Ia tak peduli lagi dengan apapun. Yang ia pedulikan adalah mendapatkan Ariana dan menjadikan Ariana sebagai miliknya dan nama Amelia terlintas di otaknya.
Hanya Amelialah yang bisa membantunya dan ia pun sudah biasa untuk meminta tolong pada Amelia. Sebenarnya, dalam kamus Gabriel ia tidak bersahabat dengan Amelia. Dan ia juga tidak dekat dengan Amelia.
Walaupun Ariana menganggap mereka bertiga bersahabat, faktanya Gabriel sama sekali tidak menganggap Amelia adalah sahabatnya. Gabriel hanya dekat dengan Amelia ketika ada Ariana disampingnya.
Dulu, awal mereka bertemu, Gabriel sangat kesulitan untuk mendekati Ariana. Namun, saat itu Ariana dekat dengan Amelia dan sejak saat itu Gabriel mendekati Ariana dan Amelia secara bersamaan. Sehingga pada akhirnya, Gabriel bisa dekat dengan Ariana.
Setelah Gabriel dekat dengan Ariana, Gabriel berubah menjadi dingin pada Amelia, karena tujuannya telah tercapai. Ia tahu, Ariana tidak akan jika hanya berdua dengannya.
Itu sebabnya, ia selalu berpura-pura dekat dengan Amelia ketika dihadapkan Ariana. Padahal, jika Ariana tak ada Gabriel selalu bersikap dingin pada Amelia.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya Gabriel sampai di rumah Amelia, Dia memencet bel berkali-kali, kemudian muncullah sosok Amelia, Gabriel memejamkan matanya ketika melihat wajah Amelia yang sedikit memar dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Ia tahu, Amelia dipukuli oleh ayah tirinya. Namun, ia tak ingin ikut campur dengan apa yang terjadi pada Amelia, fokusnya hanya melakukan rencananya.
“Gabriel, kau tumben sekali kemari?” tanya Amelia dengan membulatkan matanya. Ia dengan segera menyeka sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.
Kemudian ia menatap Gabriel dengan tatapan tanda tanya. Tak biasanya, Gabriel datang kemari, karena ia dan Gabriel memang tidak terlalu dekat bahkan tidak dekat sama sekali.
Gabriel terdiam “Amelia, ayo ke mobilku! kita bicara disana,” ajak Gabriel. Namun Amelia menggeleng.
“Gabriel ada apa?” tanya Amelia lagi tak biasanya Gabriel seperti ini.
“Amelia Aku butuh bantuanmu,” ucap Gabriel Amelia pun mengangguk.
__ADS_1
“Aku akan membantumu jika memang aku bisa,” jawab Amelia lagi.
“Kau minta bantuan apa dariku Gabriel?”
Gabriel menghela nafas kemudian menghembuskannya. “Tapi ini hanya kau yang tahu dan tak ada yang tahu tentang ini. Jadi, pastikan jangan memberitahukannya pada siapa-siapa,” ucap Gabriel tiba-tiba Amelia bergidik saat melihat wajah Gabriel yang berbeda.
Ini bukan seperti Gabriel yang sering ia lihat. Namun mau tak mau, Amelia pun menganggukkan kepalanya, dan mengalirlah, semua ide Gabriel tentang apa yang akan ia lakukan dan kenapa juga ia butuh bantuan Amelia.
Lutut Amelia bergetar, ketika mendengar semua ucapan Gabriel. Gabriel bagaimana mungkin, aku melakukan itu,” ucap Amelia tiba-tiba wajah Amelia memucat ketika mendengar apa yang akan dilakukan oleh Gabriel.
Amelia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak Gabriel, aku tidak bisa melakukan itu.” Amelia kembali menggeleng tegas, pertanda ia tak ingin melakukan seperti perintah Gabriel.
__ADS_1
“Jika kau tidak mau, mungkin aku akan melakukannya secara paksa!” ucap Gabriel membuat Amelia terdiam seketika.