Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
141


__ADS_3

Mendengar ucapan Arleta, Zidan tertegun.


"Daddy Kelly sudah meninggal?" tanya Zidan. Arleta yang sedang menggambar mengangguk-anggukan kepalanya.


"Semirip apa kaka dan Daddy Kelly?" tanya Zidan. Zidan mendadak penasaran. Ada rasa yang tak biasa saat Arleta berkata bahwa Ayah Kelly mirip dengan dirinya.


Arleta tampak berpikir, bolamatanya ke atas ia sedang mengingat-ngingat sesuatu.


..."Sangat mirip ... Bahkan ada tahi lalat kecil di pipi sebelah kiri sama seperti kaka," jawab Arleta dengan yakin....


Zidan tampak tertegun, pandangannya lurus kedepan seoalah sedang memikirkan sesuatu.


"Kau baik-baik, saja?" tanya Sonya yang melihat raut wajah Zidan berbeda.


Zidan pun tersadar, aku baik-baik saja, Mommy," jawab Zidan. "Kalau begitu aku kembali ke kamarku," pamit Zidan lagi sambil bangkit dari duduknya.


"Berbicaralah pada Ane secepatnya. Jangan menggantungkannya," ucap Sonya, di tanggapi anggukan oleh Zidan.


Saat sampai di kamar, Zidan terduduk di ranjangnya. Kata-kata Arleta terngiang-ngiang di otaknya. Kenapa dia bisa merasa segelisah ini.


Zidan pun kembali bangkit dan mengambil ponselnya. Lalu, ia mengutak-ngatik layar mencari nomer seseorang untuk menelpon orang tersebut


•••


Waktu menunjukan pukul 23.55. Audrey dan Simma sudah bersiap di depan kamar Kelly. Ya, hanya dalam waktu 5 menit lagi, umur Kelly bertambah.


Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat Kelly berulang tahun. Kelly hanya akan merayakannya bersama Audrey dan Simma. Meniup lilin, dan menikmati kueh ulang tahun.


"Ayo Simma!" bisik Audrey. Simma pun mengangguk. Simma pun membuka pintu dan mereka pun masuk kedalam kamar Kelly.


"Happy birthday Kelly ... Happy birthday Kelly ... Happy birthday ....Happy birthday ... Happy birthday Kelly."


Saat masuk, Audrey dan Simma pun kompak menyanyikan lagu ulang tahun, dan membuat Kelly langsung terbangun dan mengucek matanya.


"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Audrey yang sudah duduk di samping Kelly. Ia menyodorkan kueh ke hadapan Kelly.


Kelly tersenyum. Ia menyatukan kedua tangannya dan mengepalkannya, lalu memejamkan matanya.


Ya Tuhan ... Panjangkan umurku, Mommy dan Aunty Simma agar aku bisa terus bersama mereka.


Setelah selesai berdoa, Kelly pun kembali membuka matanya dan langsung meniup lilin.


•••

__ADS_1


"Mommy boleh tau apa doamu?" tanya Audrey. Setelah pesta kecil mereka selesai. Audrey memutuskan untuk menemani Kelly tidur di kamarnya.


Kelly menatap Audrey lekat-lekat. "Aku hanya meminta agar Mommy dan Aunty Simma selalu sehat. Agar kita bisa terus bersama-sama," jawab Kelly. Sedari dulu, saat ia ulang tahun ia akan selalu mengucapkan doa yang sama.


Kelly memang selalu berharap ia akan bertemu atau bisa merasakan dekapan seorang ayah. Namun rupanya, gadis jenius itu sadar bahwa harapannya takan terwujud.


Maka dari itu, ia hanya meminta hal yang pasti. Meminta pada Tuhan agar Audrey dan Simma selalu sehat agar bisa terus berada di sisinya.


Mendengar ucapan Kelly, Audrey tersenyum. Ia mencium kening Kelly. Lalu tak lama, matanya tampak berkaca-kaca.


"Kau tak ingin meminta apa pun pada Mommy?" tanya Audrey.


Kelly tampak berpikir. "Mommy, sudah lama kita tak makan ber3 bisakah kita besok makan di restoran?" tanya Kelly. Di tanggapi anggukan oleh Audrey.


"Tentu, Sayang. Sepulang mommy bekerja, mari kita pergi," ucap Audrey.


•••


"Kau sedang apa?" tanya Zayn saat masuk kedalam ruangan adiknya.


"Bermain golf," jawab Zidan. Jelas-jelas ia sedang fokus pada laptopnya. Tapi, kakanya malah bertanya.


"Aku pikir kau sedang bermain basket," jawab Zayn lagi. Ia mendudukan dirinya di sofa. Jika dulu, Zidan yang gencar mendekati sang kaka. Berbeda dengan sekarang, bagi Zayn sangat menyenangkan menggoda adiknya.


"Kau mengadu pada Daddy jika aku menyuruhmu pergi ke bali?" tanya Zayn.


"Tentu saja ... Kau terlalu semena-mena padaku. Kau menyuruhku pergi ke Bali lalu kau menyuruhku untuk memegang proyek ini," jawab Zidan Membuat Zayn berdecih.


"Lalu kenapa kau minta Daddy menaikan gajihmu?" tanya Zayn lagi.


"Memang jika aku meminta padamu. Kau akan menaikan gajihku?" tanya Zidan lagi.


"Tentu saja tidak," jawab Zayn. Ia pun bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangan adiknya membuat Zidan menggeleng karena tingkah kakanya.



Setelah Zayn keluar dari ruangannya, terdengar suara derap langkah.


"Tuan Zidan," panggil Audrey. Karena pintu tak tertutup Audrey pun melongokan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Zidan.Ia melihat Audrey dan menyenderkan tubuhnya kebelakang.


"Maaf, Tuan Zidan. Bolehkah saya pulang lebih awal hari ini?" tanya Audrey. Ia ingin pulang lebih cepat karena sebelum makan malam di restoran, ia ingin membelikan sesuatu untuk Kelly.

__ADS_1


"Kau ada acara mendadak?" Tanya Zidan. Seketika Audrey terdiam. Ia bingung harus beralasa apa pada Zidan.


"Berikan aku alasan. Maka aku akan memberikanmu ijin," ucap Zidan membuat Audrey bertambah bingung.


Sebenarnya, Zidan bisa saja mengijinkan Audrey untuk pergi. Tapi, ia mendadak penasaran kenapa Audrey meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu.


"Maaf tuan Zidan. Jika anda tak mengijinkannya tak apa-apa. Saya akan pulang di jam seperti biasa," Jawab Audrey. Audrey orang yang cukup tertutup, maka saat Zidan bertanya hal yang menurutnya pribadi, Audrey lebih memilih membatalkan rencanya.


Mata Zidan membulat sempurna saat mendengar jawaban Audrey, ia menggeleng. Seharusnya ia tau, bahwa Audrey memang tak mudah untuk di tebak.


"Kau boleh pulang lebih awal," ucap Zidan lagi. Audrey pun mengangguk. Lalu keluar dari ruangan Zidan.


"Hanya itu. Kenapa dia tak berterimakasih!" gerutu Zidan saat melihat respon Audrey yang biasa saja.


••


Setelah pekerjaan selesai, Zidan pun memutuskan untuk pergi ke Restoran. Hari ini, dia mempunyai janji dengan Mariane untuk berbicara tentang hubungan mereka.


Zidan harus menegaskan bahwa ia tak bisa membuka hati untuk Ane, dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.


"Maaf membuatmu lama menunggu," ucap Ane saat menghampiri Zidan yang sudah duduk menunggunya.


"Tak masalah," jawab Zidan. "Pesanlah dulu, setelah itu kita bicara!" titah Zidan. Namun, Ane menggeleng.


"Sepertinya kau ingin berbicara hal yang penting, jadi sebaiknya kita berbicara saja dulu," jawab Mariane.


Zidan menghela napas sejenak. "Ane, maaf. Sepertinya kita tak bisa terus menjalani hubungan ini," ucap Zidan.


Setelah mengucapkan itu, Zidan langsung menatap Ane, ia takut Ane akan tersinggung. Namun, dugaanya salah. Ane malah berekpresi datar.


"Baikalah kalau begitu," jawab Ane, ia pun bangkit dari duduknya. "Kalau begitu aku permisi." Tanpa mendengar lagi jawaban Zidan. Ane pun berlalu meninggalkannya. Membuat Zidan menggeleng, karena tak menyangka dengan reaksi Ane yang biasa-biasa saja.


Setelah Ane pergi, Zidan tak langsung pergi. Karena ia sedang menunggu seseorang.


Tak lama, Zidan mengangkat tangannya karena orang yang di tunggunya sudah datang.


"Josh, aku disini!" ucap Zidan. Dan ternyata Joshlah yang sedang di tunggu olehnya. Dan Josh yang di telponnya tempo hari.


°°°°


Udah ngetik panjang, bilang up dikit. Blok by 😎🤣.


Bentar lagi ya emak-emak semuanya ke bongkar.

__ADS_1


__ADS_2