
"Nona, apa perlu saya mengantar anda?" tanya Keith pada Simma, karena taxi sudah sangat jarang melintas kedepan caffenya jika malam hari.
"Tak perlu, Keith. Aku akan berjalan kedepan," jawab Simma. "Keith, tutup saja lebih awal. Kalian sudah bekerja keras seharian ini," sambung Simma lagi. Keith pun mengangguk.
Simma keluar dari caffenya, ia menghirup angin malam. Perasaannya masih sedikit gundah karena saat tadi ia melihat Stuard bersama wanita lain.
Ia mulai melangkahkan kakinya, ia kembali tersenyum saat melihat paperbag di tangannya, rasanya ia tak sabar untuk sampai di apartemen dan mencuci pakaian bayi yang telah ia beli.
Setelah cukup lama berjalan, Simma merasa kakinya sedikit pegal. karena Sedari tadi, ia terlalu banyak berjalan kaki.
Ia pun memutuskan untuk duduk sejenak di kursi yang berada di sisi jalan. Lalu ia mengurut kakinya.
Tak di sangka, ada seseorang yang membungkuk mengambil alih aktivitas Simma yang sedang memijit kakinya, dan orang itu adalah Josh.
Tiba-tiba, Simma di landa gangguan panik, dengan cepat ia menarik kakinya dan bangkit dari duduknya, membuat Josh pun ikut bangkit dari berjongkoknya.
"Kau!" seru Simma saat melihat Josh. Sedangkan Josh hanya melihat Simma dengan tatapan sendu, Josh bisa melihat bahwa Simma menatapnya dengan tatapan benci.
Seperti biasa, tiba-tiba ia merasa mual jika melihat Josh. Tak lama, terdengar suara decitan ban mobil, membuat Simma menoleh dan ada satu mobil yang berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dan keluarlah sosok Stuard dari dalam mobil, membuat Simma terpaku, apalagi saat ini Stuard berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Ayo pulang bersamaku," ajak Stuard, ia langsung menarik tangan Simma, dan mengajak Simma pergi dari hadapan Josh, ia membukakan pintu mobil untuk Simma setelah itu, ia pun masuk kedalam mobil.
Jantung Simma berdetak dua kali lebih cepat saat berada di dalam mobil Stuard, ia bahkan melupakan rasa mualnya saat berada di mobil Stuard. Hatinya sedikit menghangat kala ia tau Stuard masih perduli padanya.
"Jangan salah paham, aku hanya kebetulan melintas ke daerah sini," ucap Stuard saat masuk kedalam mobil, membuat tubuh Simma membeku. Simma merasa hatinya teriris perih kala mendengar ucapan Stuard, yang berbicara dengan nada datar nan dingin. Dan yang bisa Simma lakukan adalah memalingkan tatapannya ke arah luar sembari menahan tangis.
Satu minggu berlalu.
Stuard berjalan dengan mengendap-ngendap masuk ke kamar Simma. Ia berani masuk kedalam kamar Simma setelah yakin bahwa Simma sudah tertidur, tanpa Simma sadari, Stuard menyimpan cctv di kamar Simma, tentu saja ia memerintahkan Fanny, asisten rumah tangga yang ia tugaskan di apartemen Simma.
Stuard menarik selimut dan menaikannya pada tubuh Simma. Lalu setelah itu ia mencium kening Simma dan ia pun langsung berbalik untuk pulang.
Namun, langkahnya terhenti saat bantal melayang ke kepalanya.
Ia pun berbalik, dan setelah ia berbalik, Simma kembali memukul tubuh Stuard dengan bantal sambil berteriak.
"Simma tenangkan dirimu, jangan seperti ini. Kau akan membahayakan kandunganmu!" ucap Stuard dengan sedikit berteriak karena Simma terus melempar bantal padanya sembari menangis dan berteriak. Ia mendudukan dirinya di samping Simma dan memegang kedua tangan Simma.
"Maafkan aku, aku berjanji takan lagi lancang, aku akan pergi sekarang," ucap Stuard ketika Simma sudah sedikit tenang. Ia pun bangkit dari duduknya dan berbalik.
Melihat Stuard akan pergi, Simma tak bisa menahan diri lagi, selama seminggu ini, ia sudah tau semua kebaikan Stuard padanya. Dan ia sadar, Ia mencintai Stuard dan yakin pada Stuard.
__ADS_1
Barusan, ia mengamuk pada Stuard karena ia kesal, Stuard datang terlalu lama. Padahal, ia sudah menunggu Stuard dan berpura-pura tidur sedari tadi. Saat berada di belakang tubuh Stuard, Simma pun langsung memeluk tubuh Stuart dari belakang.
"Kenapa kau jahat sekali, Stu. Apa selama ini kau tak tai bahwa aku menunggumu! harusnya kau rayu aku bukan mengikuti perintahku!" ucap Simma sambil terisak membuat Stuard terdiam, secara tidak langsung Simma menyatakan perasaanya, stuard pun berbalik dan menatap wajah Simma.
"Simma!" panggil Stuard saat menatap wajah Simma. Ia masih belum mengerti apa yang terjadi sekarang. Bukankah barusan Simma mengamuk tapi kenapa sekarang.
"Kenapa kau meninggalkanku Stuard. Apa kau tau, selama ini aku merindukanmu," ucap Simma sambil menangis.
"Simma!" panggil Stuar lagi, ia masih tak mengerti dengan apa yang terjadi
"Aku mencintaimu, bodoh!" gerutu Simma saat Stuard seperti orang linglung
Tubuh Stuard diam terpaku, ia tak menyangka Simma akan mengatakan hal yang dia tunggu-tunggu.
"Katakan sekali lagi, Simma!" titah Stuard sambil memegang kedua bahu Simma.
Simma ....
Udah panjang banget nih ye,
hate komen blok 😎
__ADS_1
Nanti di ceritain kenapa Simma tau kebaikan stuard.
senangga senengga senenglah masa enggak 😂😂