Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
180


__ADS_3

Simma menoleh ke arah Kelly, kemudian ia tersenyum. "Aunty, tidak apa-apa, Sayang," jawab Simma sambil tersenyum, ia mengelus rambut Kelly lalu mengajak Kelly untuk meneruskan berbelanja.


Bola mata Kelly masih tak berkedip, ia memerhatikam gerak-gerik Simma. Bocah jenius itu yakin, ada yang tak beres dengan Simma.


•••


"Zidan, apa aku tak boleh pulang hari ini?" tanya Audrey. Ia sungguh bosan berada di rumah sakit.


Zidan yang sedang mengupas jeruk, menghentikan gerakannya. Ia langsung mengulurkan tangannya untuk menyuapi jeruk pada Audrey.


"Kau harus tetap pulang besok, Sayang," jawab Zidan.


"Kau di sini setiap hari. Kau tidak bekerja?" tanya Audrey lagi


"Mungkin setelah pemberkatan," jawab Zidan membuat Audrey terdiam. Mendengar ucapan Zidan tentang pemberkatan. Tiba-tiba, Audrey merasa ragu. Bagaimana jika setelah menikah masa lalunya kembali muncul dan Zidan menghinanya lagi seperti dulu.

__ADS_1


Mengerti apa yang di rasakan oleh Audrey, Zidan menggenggam tangan Audrey. "Aku berjanji, takan ada hal buruk yang menimpamu, mau, pun Kelly."


"Bagaimana jika masa laluku muncul lagi, dan kau akan ...." Audrey menunduk. Ia tak berani lagi menerusakan ucapannya. Nyatanya, mengingatnya saja membuat hatinya berdenyut nyeri.


Zidan bangkit dari duduknya, ia mendudukan diri di sebelah Audrey, lalu membawa Audrey kedalam pelukannya. "Aku menyesal, Audrey. Jika aku bisa mengulang waktu. Aku takan melakukan hal yang membuatmu terluka." Zidan membelai lengan Audrey. Kemudian mengecup kepala Audrey bertubi.


"Kemarin kau sangat menyakitiku, Zidan. Aku sungguh hancur saat kau ...." Audrey tak sanggup lagi meneruskan ucapannya, karena suaranya tenggelam oleh tangisan. Ini pertama kalinya ia membahas tentang insiden hari itu. Ini juga pertama kalinya Audrey jujur tentang rasa sakit karena ucapan Zidan.


Zidan melepaskan pelukannya, ia menangkup kedua pipi Audrey, dan menghapus air mata Audrey. "Katakan cintaku, bagaimana caranya agar kau bisa memaafkanku ... Apa aku harus terjun dari atas gedung dengan hanya memakai seutas tali sama seperti saat dulu kau melakukannya?" tanya Zidan, membuat Audrey berdecak kesal.


"Lakukan saja! maka aku akan memaafkanmu!" jawab Audrey


Tak lama, pintu ruang rawat Audrey terbuka. Ternyata Kelly dan Simma yang masuk.


Zidan yang melihat putrinya langung turun dari brankar dan menghampiri putrinya.

__ADS_1


"Kenapa tak mengabari daddy jika ingin kemari, hmm?" tanya Zidan, ia menekuk kaki menyetarakan diri dengan Kelly dan langsung menggendong Kelly.


"Daddy, bisakah Daddy mengantarku untuk membeli cat dan kuas yang baru. Aku ingin pergi bersama Daddy hari ini," pinta Kelly, ia mengaitkan tangannya pada leher sang ayah. Mendengar ucapan putrinya, Zidan melihat ke arah Audrey, meminta persetujuan, Audrey yang di tatap pun mengangguk.


"Pergilah, Simma akan menemaniku di sini!"


Zidan pun mengangguk, ia menurunkan Kelly lalu memakai jaketnya dan memakai jam tangannya. "Aku akan pergi sebentar," ucap Zidan sambil membelai rambut Aurdrey. "Kau ingin menitip sesuatu?" tanya Zidan, seketika Audrey menggeleng. "Aku tak ingin apa-apa."


"Simma? kau ingin menitip sesuatu?" tanya Zidan.


Simma tampak berpikir, "Bolehkah aku menitip roti gandum," jawab Simma. Zidan pun mengangguk.


Setelah Zidan dan Kelly pergi, Audrey memandang Simma lekat-lekat. "Simma, bukankah kau tak suka roti gandum?" tanya Audrey.


Simma tampak berpikir, ia juga heran kenapa ia ingin roti gandum, padahal ia sama sekali tak menyukainya. Tapi sekarang, di pikirannya ia malah ingin memakan roti gandum.

__ADS_1


Scroll lagi, iessss


Perjuangan Simma akan segera di mulai.


__ADS_2