
Sejenak, Stuard terpaku saat melihat ke arah meja makan, Istri dan kedua anaknya sedang berada di meja makan. Tiba-tiba, ia teringat kapan terakhir ia sarapan bersama istri dan kedua anaknya.
Saat itu, Gabby dan Gabriel memintanya datang ke sekolah untuk merayakan hari ayah. Namun, dengan tega, ia mengabaikan keinginan kedua anaknya. Hingga Gabby dan Gabriel menghentikan sarapan mereka dan pergi ke kamar.
Dan saat ini, ia sungguh malu jika mengingatnya. Membayangkan betapa kecewanya Gabby dan Gabriel membuat dadanya berdenyut nyeri.
Sejenak ia melupakan amarahnya pada Kareen, kakak iparnya. ia mulai melangkah mendekat kearah meja makan. Matanya tak lepas memandang Gabby dan Gabriel yang duduk seperti terpaksa, lagi membuat dada berdenyut nyeri.
"Gaby ... Gabriel!" panggil Sima pada kedua anak kembarnya. setelah keluar dari kamarnya, Sima datang ke kamar kedua anaknya untuk membujuk kedua anak kembarnya agar melupakan dan memaafkan Stuard. Memang sulit bagi kedua anak itu untuk melupakan semuanya. Tapi dengan sabar, Simma menjelaskan dan memberi pengertian pada kedua anaknya. Hingga Gabby dan Gabriel sedikit luluh dan pagi ini, mereka mau sarapan bersama di meja makan.
Mendengar suara sang ibu, Gabby dan Gabriel yang sedang menunduk mendongak menatap Sima dan dibalas anggukan oleh Sima.
"Pagi Dad ...." jawab Gaby dan Gabriel secara bersamaan, walaupun begitu, terlihat jelas dari wajah mereka bahwa mereka mengucapkannya dengan malas. Membuat dada Stuard berdenyut nyeri.
Sekarang, ia mengerti kenapa kedua anaknya belum bisa memaafkannya. Ia saja merasakan hatinya teriris perih saat di acuhkan oleh kedua anaknya, Lalu, bagaiamana perasaan kedua anaknya saat kemarin ia mengabaikan mereka.
__ADS_1
"Pagi!" jawab Stuard. Stuard menarik kursi, ia sengaja duduk di sebrang Gabby dan Gabriel, membuata Gabby dan Gabriel menatap Stuard dengan tatapan tanda tanya, karena biasanya sang ayah akan duduk di kursi utama.
Melihat piring kedua anak kembarnya masih kosong, Stuard kembali bangkit dari duduknya, lalu menyimpan beberapa makanan ke piring Gabby dan Gabriel.
"Terimakasih," jawab Gabby dan Gabriel secara bersamaan. Mereka berbicara sambil tersenyum. Tapi, saat ini ... Stuard begitu takut melihat senyuman kedua anak kembaranya. Mereka seolah telah membangun pembatas nyata dengannya.
Stuard tersenyum, kemudian ia kembali mendudukan dirinya di kursi lalu matanya menatap ke arah istrinya yang juga telah melihatnya.
Simma tersenyum pada suaminya, menguatkan Stuard lewat senyumannya. Simma mengerti apa yang di rasakan oleh Stuard, dan Simma juga mengerti apa yang di rasakan oleh kedua anaknya.
Suasana di meja itu begitu hening, hanya terdengar suara dentingan sendok beradu dengan piring. Dan suasana ini, sungguh asing di telinga Stuard.
Biasanya, suara Gabby dan Gabriel saling bersautan. Tapi sekarang, mereka terdiam tak banyak bicara. Sungguh, Stuard sangat rindu dengan celotehan dan perdebatan kedua anak kembarnya.
••••
__ADS_1
"Gabriel, aku bosan. Ayo kita bermain di luar!" kata Gabby pada Gabriel.
Saat ini, Gabby dan Gabriel sedang berada di kamar mereka. Setelah sarapan pagi, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Padahal, Stuard mengajak Gabby dan Gabriel bermain di taman.
Gabriel yang duduk di sebelah Gabby menggeleng. "Lebih baik kita di sini. Jangan sampai kita memecahkan lagi barang di mansion ini. Kau ingat kan, gara-gara Gucii Daddy membenci kita, lalu bagaimana jika kita merusak yang lain," kata Gabriel dengan helaan napas yang panjang.
Mungkin, karena Gabby wanita. Gadis kecil itu kadang mengingat kadang tidak tentang perlakuan Stuard.
Tapi, berbeda dengan Gabriel. Ia mengingat dan hafal betul. Bagaimana saat sang ayah menatap mereka dengan tatapan malas, dan perubahan sikap sang ayah setelah mereka memecahkan guci milik Stuard. Untuk Gabby dan Gabriel yang biasa menerima kasih sayang berlimpah dari Stuard, perubahan sikap Stuard begitu menyakitkan.
Mereka kehilangan sosok ayah yang hangat secara tiba-tiba, hingga rasanya lebih menyakitkan dari apapun.
Scroll lagi iesss.
Kenapa masih nyesek aja 😭😭
__ADS_1