
Gengs hari ini aku update 4 bab. ya, oke sama -sama
Saat arleta memanggilnya, Zayn tersenyum. Kemudian mengusap punggung Arletta.
“Ini sudah larut, angin malam tak baik untuk tubuhmu,” ucap Zayn. Ia berusaha tersenyum walau hatinya teriris perih.
Sedangkan Arletta langsung menunduk, ia bingung harus bereaksi bagaimana. Ia yakin, Zayn sudah mendengar semua ucapannya.
Saat Arleta menunduk, Zayn langsung melihat ke batu nisan Sonya, rasa perih benar-benar menjalar ke dalam dada. Hening, kedua kakak adik itu saling diam, tak ada yang berbicara satu patah kata pun. Mereka diam dengan waktu yang lama, dan kedua kakak adik itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Ayo pulang, ini sudah larut,” ucap Zayn. Setelah lama terdiam, Arletta menganggukkan kepalanya, walau anggukannya tidak terlihat oleh Zayn.
Zayn bangkit disusul Arleta yang ikut bangkit. “Tinggalkan saja mantelmu, pakai saja mantel kakak,” ucap Zayn, terlihat jelas ia menahan tangis ketika berbicara dengan sang adik.
__ADS_1
Saat Zayn berjalan, ia melihat ke arah belakang karena tak mendengar suara derap langkah. Rupanya, Arleta masih berada di belakang, dan masih berdiri sambil menggoyang-goyangkan kakinya, karena kaki Arleta mengalami kebas apalagi Arleta terduduk cukup lama di tanah.
Zain kembali berbalik menghampiri Arleta, kemudian Ia berjongkok di hadapan Arleta.
“Ayo, naik ke punggung kakak,” ucap Zayn lagi namun Aeta menggeleng.
“Tidak, terima kasih aku bisa jalan sendiri,” jawab Arleta.
“Arleta!” panggil Zayn, Walaupun Zayn hanya memanggil namanya saja. Tapi Arleta tahu, Zayn tidak ingin dibantah. pada akhirnya, Arleta naik ke punggung Zayn dan Zayn bangkit kembali lalu mulai berjalan.
Hening
Suasana di mobil itu begitu hening, kecanggungan seketika mendera keduanya. Sejujurnya Zayn ingin sekali menangis. Tak terbayangkan olehnya, di mana ia mendengar sendiri curahan hati adiknya, tentang apa yang dirasakan oleh Arleta.
__ADS_1
Batinnya semakin perih, ketika sang adik malah lebih memilih bercerita di makam kedua orang tuanya dibanding pada psikiater.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Arleta sampai di mansion. “Aku bisa berjalan sendiri,” ucap Arleta ketika Zayn membuka pintu mobil. Wajah Arleta berubah mendingin, hingga Zayn tak berani lagi untuk berbicara pada adiknya.
Arleta berjalan dengan pelan, untuk masuk sedangkan Zayn berjalan di belakang tubuh Arleta, dadanya semakin nyeri ketika melihat Arleta berjalan tertatih-tatih.
Tiba-tiba, ia ingat saat ia memaki Arletta dirumah sakit, dan dengan teganya, ia malah menghentikan pengobatan adiknya. Tak bisa dibayangkan, betapa perihnya hati adiknya saat itu.
Semua keluarga sudah, menunggu Zayn dan Arleta, mereka terkejut karena Zayn tiba-tiba menghilang saat menyusul Arleta ke kamar, ternyata salah satu pelayan melihat Zayn keluar dan mengendarai mobil, hingga mereka menunggu kedatangan Zayn.
“Arleta!” panggil Kelly, ia langsung berlari kearah Arleta saat melihat Arleta masuk dari pintu.
“Dari mana saja kau, kau tahu kami panik karena kami kehilangan kau dan Uncle,” ucap Kelly. Arleta hanya tersenyum “Aku dari maka Mommy dan Daddy,” jawab Arleta, seketika semua yang berada di situ langsung terdiam. Arleta yang menyadari situasi langsung tersenyum
__ADS_1
“Tidak apa-apa, aku hanya mencari angin segar. Kalau begitu, aku akan pergi ke kamar,” jawab ucap Arleta lagi. Tanpa menyapa keluarga yang lain, Arleta langsung berjalan ke arah lift untuk naik ke kamarnya, Sedangkan semua mata tertuju pada Zayn yang baru saja masuk.