
"Wahh, Daddy ini!" Gabby tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Saat melihat sebuah kastil yang berada di tengah tengah ruangan.
Ya, Stuard membangun sebuah kastil di tengah-tengah ruangan yang sangat besar. Kastil itu di cat dengan warna kesukaan Gabby, kastil itu semacam rumah-ruamahan. Namun, mampu menampung semua mainan Gabby dan koleksi Gabby. Stuard menyebutnya kastil kecill Namun, bukan berarti kastil itu benar-benar kecil. Bahkan, kastil itu lebih luas dari kamar Gabby dan Gabriel.
Di dalam kastil itu, terdapar ruang bermain untuk Gabby, kamar, kamar mandi dan lain-lain.
"Dad, kapan kau membuat ini?" tanya bocah kecil itu. Mereka selalu ada di mansion. Tapi mereka tak pernah tau bahwa Stuard sudah mempersiapkan semua.
"Ayo masuk!" ajak Stuard pada Gabby dan Gabriel.
"Wahhh!" lagi-lagi, mata Gabby membulat saat masuk kedalam. Ia langsung berlari kesana kemari untuk mengecek dan melihat isi ruangan tersebut.
Stuard menyenderkan tubuhnya ke dinding, ia tersenyum, saat melihat Gabby berlari kesana kemari, rasa lelah karena mengawasi langsung pembangunan terbayar sudah saat melihat kebahagiaan Gabby. Tak lama, Stuard melihat kebawah karena Gabriel menarik-narik celanya.
Stuard menekuk kakinya, lalu menyetarakan diri dengan Gabriel.
"Daddy, hadiahku mana?" tanya Gabriel. Mata bocah kecil itu tampak berkaca-kaca karena melihat Gabby sudah mendapatkan hadiahnya.
Stuard mengelus kepala putranya, kemudian tersenyum. "Ganti pakaianmu dengan kaos bola, karena hadiahmu sedang di jemput oleh paman Rain," kata Stuard, belum Stuard menerusakan ucapannya, Gabriel sudah berlari karena ternyata hadiahnya akan segera datang.
Satu Minggu kemudian.
"Dad, jangan menangis lagi!" kata Simma saat Stuard masih memeluk perutnya. Namun, Stuard bergeming. Ia malah menangis semakin kencang. Membuat tangis Simma kembali berlinang.
Saat ini, Stuard sedang berlut dan memeluk pinggang istrinya, ia menaruh wajahnya di perut istrinya.
Suasana haru sedang menyelimuti keluarga mereka. Pagi, ini Stuard mendapatkan hadiah yang luar biasa, yaitu kehamilan istrinya.
Saat tau istrinya hamil, dunia Stuard rasanya berhenti berputar. Ia bahkan terdiam berusaha mencerna semuanya, pandangannya hanya berporos pada perut istinya. Kemudian, ia mengajak Simma duduk di sofa dan ia berlutut di hadapan istrinya, dan memeluk pinggang istrinya. Lalu menangis tergugu, ia bahagia sangat bahagia.
__ADS_1
"Dad, aku akan marah jika kau terus seperti ini!' kata Simma di tengah isakannya. Stuard tersadar, ia langsung melepaskan pelukannya. Lalu, bangkit dari duduknya, kemudian berdiri membelakangi istrinya, dan menghapus air matanya. Namun, sangking bahagianya seorang Stuard Josepin, ia kembali menumpahkan tangisannya walaupun sudah menghapus air matanya beberapa kali.
Simma bangkit, menggeser duduknya. Lalu ia menarik-narik kaos Stuard. Membuat Stuard menoleh.
"Dad, apa setelah anak ini lahir, kau masih akan terus menyayangi Gabby dan Gabriel?" tanya Simma dengan wajah yang berubah sendu.
Stuard kembali berlutut kemudian ia menggenggam kedua tangan Simma.
"Honey, look at me!" kata Stuard saat Simma tak berani melihat ke arahnya.
"Kenapa kau memberiku pertanyaan yang aneh. Apa kau masih berpikir kasih sayangku pada Gabby dan Gabriel selama ini palsu, hmm?" tanya Stuard, membuat Simma langsung menunduk.
"Nyonya, Simma Josepin. Dengarkan ini!" ucap Stuard dengan nada tegas membuat Simma mengerucutkan bibirnya.
"Aku sudah mengatakan ribuan kali bahkan jutaan kali, tentang Gabby dan Gabriel. Sejak awal, mereka adalah putra -putriku. Tak ada yang akan bisa merubah itu, kasih sayangku pada mereka Takan berkurang sedikitpun. Jadi berhenti untuk merasa insecure atau merasa tak percaya diri, karena kau dan anak-anak kita istimewa," ucap Stuard dengan nada tegas. Ia hanya ingin istrinya yakin bahwa ia adalah wanita istimewa di mata seorang Stuard Josepin.
"Ke-kenapa kau memarahiku!" Simma langsung menangis sesegukan saat Stuard berbicara tegas. Padahal,.Stuard berbicara tegas agar Simma tak merasa minder lagi, dan tak merasa ragu lagi akan kasih sayangnya pada Gabby dan Gabriel.
•••
Beberapa hari kemudian.
"Gabriel ayo ambil bola itu!" titah Gabby. Saat ini, mereka sedang berada di taman, Simma mengidam ingin menikmati angin di taman. Tertu saja dengan senang hati Stuard mengabulkannya.
Gabriel bersungut saat lagi-lagi Gabby memerintahnya. Namun, tak urung dia menuruti perintah sang adik.
Saat dia berjalan, ia menabrak seseorang, hingga orang itu terjatuh. Gabriel mengangkat kepalanya, kemudian matanya membulat saat ia menabrak seorang anak kecil yang memakai tongkat.
"Maaf aku tak sengaja," kata Gabriel, ia berjongkok untuk membantu gadis kecil yang mungkin seumuran dengannya.
__ADS_1
Gabriel membantu gadis kecil itu untuk bangkit, setelah itu, ia memberikan tongkat pada gadis kecil itu.
"Maaf, aku benar-benar tak sengaja." kata Gabriel, sedangkan gadis kecil di depannya itu menunduk dan tampak malu-malu, karena kondisinya.
"Aku Gabriel!" Gabriel menyodorkan tanganya pada gadis kecil di depannya. Hingga gadis kecil itu memberanikan diri mengangkat kepalanya.
"A-aku Ariana!" jawab gadis kecil itu.
"Gabriel! cepatt!" teriak Gabby membuat Gabriel mendengus.
"Sampai jumpa!" kata Gabriel pada Ariana. Ia meninggalkan Ariana kemudian mengambil bola. Tanpa Gabriel sadari, wanita kecil di yang baru di tabraknya ini, adalah adiknya.
l•••
"Ariana, ayo duduk di sana," ajak Nancy yang datang menghampiri Ariana. Ariana mengangguk, ia berjalan ke kursi yang di tuju oleh Nancy.
"Nancy apa aku anak yang merepotkan?" tanya Ariana saat mereka sudah duduk di kursi.
"Kenapa kau bertanya begitu, hmm?" tanya Nancy. Membuat Ariana kembali melihat kedepan dengan tatapan kosong.
"Nancy jika memang kau harus pergi, ijinkan aku ikut denganmu. Aku berjanji, aku tak akan merepotkanmu," kata Ariana, tangis sesegukan lolos dari bocah kecil itu. Beberapa bulan berlalu setelah tewanya Regard, banyak yang terjadi dengan hidup gadis malang itu. Tidak, situasi tidak menjadi lebih baik.
"Ariana dengarkan aku!" kata Nancy, ia memeluk gadis malang itu kemudian mengelus rambut Ariana.
"Ariana ini saatnya kau ...."
"Tidak, Nanci, tolong ajak aku bersamamu!" isak Ariana, yang memotong ucapan Nancy. Hingga Nancy semakin mengeratkan pelukannya. Seandainya bisa, ia ingin tetap tinggal di sisi Ariana. Tapi, tidak. Ia tak bisa karena .....
Udah siap termehek-mehek lagi 😭😭😂🤣🤣
__ADS_1
Tenang gengs, Ariana pasti bakal bahagia sebahagianya.
tinggalin komen di bab ini plis. di next bab ada bab promo jadi kalian bisa Scrool buat baca atau bisa juga stop Scrooll.. Buat yang ga mau scroll tinggalin komen aja di bawah ini ya.