
Jutaan panah seperti menghantam dadanya. Kejadian barusan begitu singkat. Namun, mampu membuat hati Ariana patah berkeping-keping.
Ariana berjalan keluar Mansion dengan hati yang remuk redam. Ia bersumpah, ia tak akan menginjakan lagi kakinya di Mansion Zayn.
Mansion Zayn dan Gia adalah tempat ternyaman untuknya singgah. Ia merasakan kasih sayang yang nyata dari keluarga Zayn. Tapi, hari ini semuanya berubah.
"Jangan menangis Ariana, jangan!" Ariana berucap pelan saat merasakan air mata akan jatuh dari pelupuk matanya.
Saat ia berjalan, terdengar suara derap langkah, membuat Ariana memejamkan matanya.
"Ariana!" panggil Josh. Namun, Ariana enggan menoleh. Ariana sungguh benci mendengar suara itu.
"Daddy tau kau tak bersalah," kata Josh, saat Ariana tak berbalik. Ariana tersenyum getir. "Harusnya kau membelaku saat tadi." Ingin Ariana berteriak pada sang ayah. Namun, ia hanya mampu mengatakannya dalam hati.
Ariana lebih memilih kembali berjalan dan memutuskan untuk pulang.
Josh menghela nafas, ia hanya bisa memandang punggung sang putri dengan tatapan nanar. Walaupun mereka hidup seatap, Ariana sama sekali tak pernah berbicara padanya dan pada Briana termasuk pada Carla, anak keduanya.
Dulu, Josh membatalkan untuk meliburkan Nancy. Ia Takan memecat Nancy, asal Ariana tinggal di rumah utama, dan Ariana menyetujuinya.
Josh pikir, hubungannya dan putrinya akan membaik seiring waktu. Tapi Josh salah, Ariana bahkan sama sekali tak mau bicara padanya.
Ariana akan keluar ketika jam makan, dan hanya pada jam makanlah ia dan istrinya bisa melihat Ariana. Segala cara sudah Josh dan Briana tempuh untuk membuat Ariana luluh.
Namun, hati Ariana seoalah sudah mati. Terlalu banyak kesakitan yang Ariana tanggung. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya tenang adalah Zayn. Bahkan, saat dulu mulai sekolah. Zayn rela mengantar jemput Ariana, Zayn menanamkan kepercayaan diri pada Ariana, agar Ariana tak merasa minder lagi.
Dan berkat itu, Ariana mampu menyelesaikan semua jenjang sekolah, tanpa kendala walaupun kerap merasa minder. Tapi, Zayn dan Gia selalu menguatkan.
__ADS_1
Tapi, hari ini. Walaupun menurut orang lain hanya hal sepele, tapi Ariana merasakan hatinya patah berkeping-keping ketika semua orang terlihat mencurigainya.
Keesokan harinya
Ariana mendudukan diri di kursi tepi kolam renang. Matanya menatap pada air di kolam yang tampak tenang. Sejak kemarin, kondisi hatinya masih sangat buruk.
"Kak, ayo main denganku!" ajak Carla dari arah belakang, membuat Ariana menghela nafas kasar. Ia sama sekali tak membenci adiknya, Ariana hanya membenci situasi yang teradi. Carla mendapat kasih sayang yang berlimpah sedari bayi, Carla mendapatkan semua yang Ariana tak dapatkan.
Kerap kali, Carla mendekati sang Kaka, berharap sang Kaka mau bermain dengannya. Namun, hati Ariana sudah tertutup.
Ariana bangkit dari duduknya, ia bahkan tak mau menoleh pada Carla.
Saat Ariana berjalan, Carla mengikuti langkah Ariana, ia memegang tangan Ariana, hingga Ariana refleks mendorong tubuh Carla, dan Carla jatuh ke kolam renang.
"Carla!" teriak Briana dari arah belakang. Briana yang sedang berjalan bersama Josh, membulatkan matanya saat Ariana mendorong tubuh Carla. Josh langsung berlari dan menyelamatkan Carla.
Briana mendekat ke arah Ariana, lalu Tampa sadar, tangannya terangkat dan menampar pipi putrinya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini, Hah!" teriak Briana tanpa sadar. "Selama ini kami sudah berusaha untuk memperbaiki kesalahan kami di masa lalu. Selama ini, kami selalu sabar memahami tingkahmu, Apa kau pikir kami bisa bersabar ketika kau berniat membunuh adikmu! apa kau pi ...." Briana menghentikan ucapannya saat mendengar Ariana tertawa. Tak lama, ia tersadar.
"A-ariana!" panggil Briana, sejuta sesal ia rasakan kala ia baru saja menampar putrinya.
"Apakah ini semua salahku? apa aku tak bisa memaafkan kalian juga salahku! Teriak Ariana. Lalu, setelah ia berteriak ia tertawa nyaring. Membuat rasa bersalah Briana semakin menjadi-jadi.
"A-ariana!" panggil Briana, "Ma-maafkan Mommy, Mommy tak ...."
"Apa kau pantas di sebut seorang ibu?" tanya Ariana. Kali ini ia memandang Briana dengan tatapan terluka. Kepingan masa lalu saat dia di buang kembali menubruk otaknya. Kepingan saat dia tak di perbolehkan memanggil Mommy pada Briana, saat dia selalu kesepian, saat dia tak ada yang membela ketika Regard memakinya dan mengejeknya anak cacat.
__ADS_1
"Ariana!" kali ini, Josh yang memanggil Ariana. Setelah menyelamatkan Carla, ia cukup terkejut karena Briana menampar Ariana. Ia juga cukup terkejut mendengar Ariana. Karena ini pertama kalinya Ariana mengeluarkan emosinya.
Mendengar Josh memanggilnya, Ariana langsung menatap Josh dengan tatapan benci yang kentara
"Kalian seperti iblis, membuatku harus terperangkap luka. Lalu kalian menyalahkanku karena aku tak bisa memaafkan kalian. Bukankah itu lucu?"
"Tapi Daddy melakukan itu karena ingin menyelamatkanmu?"
Ariana tersenyum getir, "Apakah tak ada cara lain menyelamatkanku selain kau membuangku dan mengatakan pada dunia bahwa aku sudah mati? apakah ...." Ariana menghentikan ucapannya karena suaranya tenggelam oleh tangisan.
"Mulai sekarang. Aku akan pergi meninggalkan tempat terkutuk ini. Aku berdoa, semoga kalian merasakan penderitaan yang aku rasakan!" Setelah mengatakan itu, Ariana langsung berbalik, meninggalkan Briana dan Josh yang terdiam mematung. Ini titik rendah Ariana. Untuk pertama kalinya, ia mengeluarkan emosinya.
Pergi dari rumah, adalah cara Ariana agar ia bisa tetap waras.
Flashback off
"Gabriel, kau sedang apa?" tanya Gabby pada saudara kembarnya.
Gabriel yang sedang menatap bingkai foto di tangannya, langsung menyembunyikan bingkai foto tersebut kebelakang tubuhnya.
Namun, tentu saja Gabby langsung menghampiri Gabriel dan mengambil bingkai yang di sembunyikan Gabriel
"Gabriel bukankah dia Ariana?" tanya Gabby
Gabrielll ....
Note.: IKUTIN ALURNYA GA BOLEH NEBAK-NEBAK 🤣🤣🤣 KALAU HATE KOMEN LANGSUNG BLOK 😎😂.
__ADS_1