
Audrey terbangun dari tidurnya saat merasakan elusan di pipinya, ia tersenyum saat Zidan sedang menatapnya sambil mengelus pipinya.
"Apa kau masih lelah, Sayang?" tanya Zidan
Mendengar ucapan Zidan, tiba-tiba Audrey teringat sesuatu. Ia menatap sang suami lekat-lekat. "Dad, apa semalam benar kau?" tanya Audrey dengan tatapan bingung, membuat Zidan juga bingung dengan pertanyaan istrinya.
"Maksudmu, Sayang?"
Audrey mengigit bibirnya saat mengingat tentang semalam, betapa buasnya Zidan di ranjang, setiap melihat irish mata suaminya. Audrey merasa bahwa ia merasa melihat Zidan yang berbeda.
Melihat reaksi istrinya, Zidan mengerti apa yang Audrey pikirkan. Ia meniup wajah Audrey menyadarkan Audrey dari pikiran nakalnya.
"Kau ingin mengatakan bahwa aku hebat di ranjang?" tebak Zidan, Audrey pun mengangguk pelan membuat Zidan terbahak.
"Apa kau pernah berpacaran Dad, selain bersama kak Gia?" tanya Audrey membuat Zidan membulatkan matanya karena Audrey tau masalahnya dengan Gia.
__ADS_1
"Kau tau masa laluku dan Gia?" tanya Zidan, Audrey pun mengangguk.
"Saat aku menjadi sekretarismu, kadang aku mendengar kau di gosipkan. Walaupun sudah beberapa tahun berlalu, mereka tetap mengingat bahwa kau, kak Gia dan kak Zayn pernah terlibat cinta segitiga," jawab Audrey membuat Zidan membulatkan matanya, ternyata dia menjadi bahan gosip para karyawannya.
"Mereka bahkan menyebutmu dengan sebutan sadboy," ucap Audrey lagi sambil tertawa membuat Zidan langsung mencubit hidung Audrey.
"Aku tak pernah berpacaran dengan siapa pun lagi. Kau tau bukan bagaimana hubunganku bersama Ane," jawab Zidan. "Aku hanya pernah melakukan hubungan badan dengan mu, kau yang pertama dan kau yang terakhir," ucap Zidan lagi, ia memandang Audrey dengan penuh cinta.
"Apa saat dulu, saat kita melakukannya aku sehebat ini?" tanya Zidan membuat pipi Audrey bersemu merah. "Mana aku ingat, itu kan sudah lama," dustanya. Padahal, ia ingat jelas bagaimana sentuhan Zidan yang membuatnya menggila
Zidan tersenyum, "Aku banyak berhutang budi padanya. Dia telah menjaga Kelly dengan baik Jadi, kita memang harus membawa Simma kemanapun kita pergi," jawab Zidan yang juga sepemikiran dengan Audrey. "Emm, aku juga lupa bilang padamu ... Aku sudah membeli penthouse, kau tak keberatan, kan, jika kita semua langsung pindah ke penthouse?" tanya Zidan lagi. Audrey tak ingin repot-repot bertanya kapan suaminya menyiapkannya, hingga Audrey pun langsung mengangguk setuju.
"Bisakah kita mandi bersama pagi ini?" tanya Zidan lagi dengan seringai menggoda, Audrey pun menagangguk dengan malu-malu.
Zidan pun menyingkap selimutnya, saat bangkit dari berbaringnya. Zidan langsung menatap tubuh polos Audrey dengan mata berbinar. Ia pun menggendong Audrey dan berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
•••
Dengan ragu, Simma menerima sapu tangan dari tangan lelaki tersebut, dan langsung mengelap air mata dengan sapu tangan. Karena malu terpergok oleh orang lain saat dia sedang menangis, Simma pun langsung bangkit dari duduknya.
"Ini Tuan!" ucap Simma. Ia mengembalikan sapu tangan ke hadapan lelaki itu, lelaki itu menggeleng, kemudian mendorong lembut tangan Sima.
"Sepertinya kau lebih membutuhkan ini," ucap lelaki itu. Ia tersenyum membuat Simma terpaku.,
"Bolehkah aku tau namamu?" tanya lelaki itu sambil mengulurkan tangannya pada Simma. Dengan ragu, Simma pun membalas jabatan tangan lelaki tersebut.
"Aku Simma," lirih Simma.
"Hai, Simma. Aku stuard," jawab lelaki itu. "Sepertinya kau tidak dalam kondisi yang baik? mau ku antar pulang?" tanya Stuar membuat Simma menggeleng dan langsung panik.
"Tidak terimakasih," jawab Simma, "Kalau begitu aku permisi." Tanpa mendengar jawaban Stuard, Simma pun meninggalkan Stuard. Simma mempunyai gangguan panik. Karena trauma masa lalunya, Simma selalu ketakutan jika ada orang asing yang mengajaknya untuk pergi
__ADS_1
Scroll lagi iessss.