
"Ariana, kau kenapa, Sayang?" tanya Nancy saat masuk kedalam kamar Ariana. Ia terkejut saat melihat Ariana sedang menangis
"Ariana ...." panggil Nancy lagi saat Ariana tak mau mengankat kepalanya.
"Nancy, apa anak cacat sepertiku tak pantas untuk bersekolah?" tanya Ariana dengan wajah sendu dan berderai air mata, tangisnya begitu pilu. Padahal, Ariana hanya mengatakan bahwa ia ingin sekolah. Tapi, kenapa hati Nancy begitu perih ketika mendengarnya.
Tak bisa menjawab ucapan Ariana. Nancy merangkul bahu Ariana dan mengusap lembut rambut gadis kecil itu.
"Aku ingin sekolah, Nancy. Aku ingin sekolah," lirihnya saat dalam pelukan Nancy. Isakannya semakin keras kala rasa sesak semakin menghimipit dadanya. Selama tinggal di paviliun, Ariana tak pernah menuntut apa-apa. Tapi kali ini, ia benar-benar ingin bersekolah.
"Kita hanya bisa berdoa, Sayang. Semoga kau diijinkan untuk sekolah," ucap Nancy lagi.
•••
"Briana, kenapa kau belum makan malam?" ucap Josh pada Briana yang sedang meringkuk. Briana tak menjawab ucapan Josh. Tubuhnya begitu lemas tak bertenaga.
"Briana!" panggil Josh lagi. Ia maju ke arah Briana, lalu memegang tangan Briana. Namun, secepat kilat, Briana menghempaskan tangan Josh.
"Bri!" panggil Josh saat Briana menghempaskan tangannya. Ia kembali menyentuh tangan Bri. "Ya Tuhan, kau demam Bri," ucap Josh saat menyentuh permukaan kulit tangan Bri.
Josh pun bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arah kotak p3k untuk menangambil termometer.
"Briana, ayo bangun kita pergi ke rumah sakit," ajak Josh saat suhu tubuh Briaa sangat tinggi. Ia membantu Briana untuk bangkit. Tapi, Briana menghempaskan tangan Josh dengan keras.
__ADS_1
"Briana!" nada bicara Josh naik satu oktav saat Briana menghempaskan tangannya. Josh menghela napas, lalu memilih keluar dari kamarnya. Briana sudah berubah sikap seminggu ini dan Josh tak ingin terpancing emosi karena perubahan sikap Briana.
Setelah terdengar suara pintu tertutup dan Briana tau bahwa suaminya sudah keluar. Tangis Briana luruh, ia memegang perutnya di mana ada satu nyawa tumbuh di rahimnya.
Ya, Briana sedang mengandung kembali. Tapi ia belum memberitau semuanya pada Josh. Bisa di bayangkan betapa hancurnya hati Ariana, saat nanti ia tau bahwa ia akan memiliki adik dan bagaimana jika sang adik mendapat perhatian dan kasih sayang dari suami dan juga ayahnya.
Tangis Briana semakin luruh, kala memikirkan hal-hal yang akan terjadi pada dirinya dan putrinya. Ia dalam poisisi yang sangat dilema.
Beberapa hari kemudian.
Ariana menunduk, ia meremas kedua tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat untuk pertama kalinya dia memberanikan diri berbicara pada Josh, sang ayah.
Ya, Keberanian Ariana di landasi karena keinginannya untuk bersekolah, hingga ia meminta Nanci mengantarkannya ke rumah utana untuk bertemu Josh. Rumah yang selama ini ingin sekali dia masuki
"Ada apa?" tanya Josh dengan dinginnya, hingga menusuk ke hati gadis kecil itu.
Setelah mengatakan itu, gadis kecil itu semakin meremas tangannya, rasanya ia tak sanggup untuk menatap Josh yang sedang menatap dingin padanya.
"Tidak boleh, kau tidak boleh sekolah."..
Nyessss.
Akhirnya pertahanan Ariana runtuh saat mendengar jawabab Josh. Air mata yang tadi di tahannya akhirnya keluar dengan sendirinya, jawaban sang ayah mampu meluluntahkan perasaannya.
__ADS_1
" Ba-baiklah, Uncle. Terimakasih atas waktumu," jawab Ariana, dengan hati yang remuk redam, Ariana pun bangkit dari duduknya, dan mulai berjalan dengan bahu bergetar karena tangisnya mulai luruh.
"Kau akan bersekolah," ucap Briana yang tiba-tiba datang ke ruangan Josh dan mendengar semuanya.
"Briana!" bentak Josh.
Tanpa memerdulilakan ucapan Josh, Briana mendekat ke arah putri, ie menekuk kakinya dan memeluk tubuh Ariana
"A-aunty ...." panggil Ariana terbata-bata. Ini pertama kalinya Briana memeluknya di depan sang ayah.
"Panggil aku mommy Sayang," ucap Briana, setelah melepaskan pelukannya.
"Bo-bolehlah aku me-nyebutmu Mommy?" tanya gadis kecil itu dengan polos dan berderai air mata.
"Briana!" bentak Josh lagi.
Seketika Briana menatap Josh dengan tatapan nyalang.
"Jangan pernah mengaturku lagi! Mulai sekarang, aku akan hidup dengan putriku." Geram Briana menagan amarah.
"Ada apa ini?" tanya Regard yang masuk ke ruangan kerja menantunya karena mendengar keributan.
Briana ....
__ADS_1
Satu bab dulu ya, mata otor lagi perih-perihnya, jadi ga bisa terlalu lama natap hape. Satu bab lagi menyusul ya
hate komen blok