Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
196


__ADS_3

Setelah selesai pulang dari rumah sakit, Simma pun mengajak Stuard untuk pergi taman. Ia sudah banyak berpikir, terlalu banyak kebetulan yang tak masuk akal, dan itu selalu berkaitan dengan kehadiran Stuard.


Dan saat ini, mereka duduk bersebelahan dikursi taman "Stu, aku tau ada yang kau sembunyikan dariku," ucap Simma, matanya menatap lurus kedepan.


Stuard tampak tenang, seolah sudah tau bahwa Simma akan mengajukan pertanyaan seperti ini.


"Semua mengalir seperti air, Simma. Aku tak memiliki jawaban dari pertanyaanmu," jawab Stuard. "Tapi aku bersumpah, aku bukan orang jahat," jawab Stuard lagi membuat Simma langsung menoleh.


"Lalu bagaimana kau tau aku sedang berada di sini, dari mana kau tau aku sedang mengandung?" tanya Simma. Ia mengganti pertanyaannya.


"Kau yakin, kau ingin mendengar jawabannya?" tanya Stuard memastikan. Seketika Simma menoleh ke arah Stuard, dan menatap lekat-lekat wajah Stuard.


"Tolong, Stu. Jangan membuatku takut padamu. Ceritakan apa yang mau sembunyikan dariku."


"Karena aku mendengar semua obrolanmu dan pria brengsek itu. Aku melihat saat kau mengelus perutmu, aku melihat kau yang hancur saat kau mengetahui semuanya," jawab Stuard, membuat Simma menutup mulut tak percaya.

__ADS_1


"Ja-jadi ...."


"Ya, aku mengikutimu saat kau keluar dari caffe, hingga aku tau kau menangis."


"A-apa, kau semenyedihkan itu?" tanya Simma dengan mata mengembun. Ia menatap stuard tanpa berkedip mencari kebohongan di mata Stuard. Namun, saat melihat irish mata milik Stuard, ada desiran halus yang menyapa hatinya.


Stuard menggeleng, ia kembali menatap kedepan.


"Kau tidak menyedihkan Simma dan aku mendekatimu bukan karena kasihan. Hanya saja, kisahmu sepertiku dan ibuku, ibuku di tinggalkan kekasihnya saat mengandung diriku, dan aku merasakan betul bagaimana sakitnya menjadi dirimu," jawab Stuard berbohong. Saat ini, ia hanya berusaha mendapat simpati terlebih dahulu dari Simma dan membuat Simma yakin padanya.


Sebab, Stuard tau, jika ia jujur tentang siapa dia sebanarnya, tentang tujuannya, Simma bisa takut padanya. Bahkan tak mau bertemu denganya.


"Simma, apa kau tak nyaman dengan kehadiranku?" tanya Stuard. Simma terdiam, sebelum mendengar penjelasan Stuard, Simma memang kerap terasa tak nyaman. Tapi, setelah mendengar semua tentang Stuard, perasaan Simma campur aduk.


Di sisi lain, ia takut Stuard akan seperti Josh, yang berujung menyakitinya dan di sisi lain, untuk pertama kalinya, ada orang yang perduli padanya selain Audrey. Apalagi, Stuard tau jika ia sedang mangandung. Dan selama sebulan ini, jika diingat-ingat, Stuard selalu ada saat dia membutuhkannya.

__ADS_1


"Simma!" panggil Stuard, saat Simma tak menjawab pertanyaanya.


"Stuard, aku takut," jawab Simma dengan suara pelan


"Kenapa kau takut?"


"Saat ini, kau satu-satunya lelaki yang dekat denganku. Kau tau semua yang aku alami dan aku takut, saat aku nyaman padamu dan aku bergantung mulai bergantung padamu. Kau akan meninggalkanku, sama seperti dia, yang mencapakkanku dan kedua bayiku," ucap Simma secara blak-blakan.


Mungkin wanita lain akan malu-malu untuk mengakui perasaannya atau apa yang di rasakan. Tapi tidak dengan Simma. Ia akan jujur jika ia merasa tak nyaman dan ada yang membuatnya mengganjal.


"Aku tak bisa menjanjikan apa pun padamu Simma. Aku lelaki miskin, aku tak bisa memberimu barang-barang mahal. Tapi, aku bisa menjamin kau dan kedua bayimu akan aman bersamaku. Aku akan menghadapi siapa saja yang mengusik kedua anakmu nanti. Tak perduli, mereka bukan darah dagingku tapi mereka akan menyandang namaku di belakang nama mereka," ucap Stuard, membuat mata Simma membulat.


Kenapa pembahasannya menjadi berat, padahal Simma hanya membahas tentang apa yang di rasakannya.


Sebenarnya ucapan Josh barusan di luar rencananya. Tapi, mendengar Simma mengatakan tentang perasaanya yang bisa saja nyaman dengannya, Stuard pun mengambil langkah cepat dengan mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


"Stu ...."


Scroll lagi iesss.


__ADS_2