
“Dimana tuan?” tanya Amelia, ketika masuk ke dalam rumah. Ia langsung bertanya pada pelayan saat pelayan melintas dihadapannya.
“Sepertinya, Tuan sedang berada di ruang kerjanya, Nyonya,” ucap Molly, Amelia pun mengangguk. Setelah itu, Amelia berjalan ke arah lift untuk naik ke ruangan Gabriel.
Saat sampai di ruangan Gabriel, Amelia langsung masuk ke dalam ruangan suaminya, membuat Gabriel terpekik kaget, karena Amelia masuk secara tiba-tiba.
“Gabriel!” panggil Amelia. Ia berjalan dengan menghentakkan kakinya. Lalu menatap Gabriel dengan tatapan kesal.
Gabriel menoleh ke arah Amelia, kemudian ia tersenyum menyapa istrinya. Ia tahu, Amelia sedang dalam mode kesal.
“Why baby?” tanya Gabriel. Nada suaranya terdengar halus dan sangat penuh cinta
Amelia menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia tidak ingin menunjukan emosinya di hadapan Gabriel,.karena ia takut Grisya tiba-tiba masuk.
Amelia maju ke arah Gabriel kemudian bersidekap, ia menatap Gabriel dengan tajam.
“Aku diberikan cuti lagi oleh komandanku dan itu pasti gara-gara kau kan?” ucap Amelia dengan dinginnya. wajahnya tampak datar, ia benar-benar kesal pada Gabriel.
Gabriel membalikan kursinya. Hingga kini, ia berhadapan dengan Amelia yang sedang berdiri. Lalu, ia tersenyum manis ke arah istrinya.
Melihat senyuman Gabriel, rasa kesal Amelia hilang begitu saja. Entahlah, sampai saat ini, pesona Gabriel begitu kuat padanya. Bahkan saat melihat senyuman di mata suaminya, ia selalu luluh.
Amelia mengerjap, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini bukan waktu yang tepat untuk terpesona dengan suaminya.
“Ternyata komandanmu baik sekali,” jawab Gabriel. Dia berpura-pura terkejut dengan apa yang Amelia ucapkan.
“Gabriel!” Nada Amelia terdengar penuh peringatan, membuat Gabriel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
“Bukan aku yang melakukannya, tapi ayah mertuamu yang melakukannya. Jadi, jika kau ingin marah, marah saja pada Daddyku,” ucap Gabriel dengan entengnya membuat mata Amelia membulat.
“Gabriel, kenapa kau harus menyuruhku cuti lagi. Aku sudah cuti selama 6 bulan, tugasku menumpuk. Aku harus menyelesaikan beberapa kasus dan menangkap beberapa tersangka,” Jawab Amelia lagi. Kali ini, nada suaranya mulai melemah, ia kembali luluh saat melihat sikap Gabriel yang manis.
Tiba -tiba Gabriel memberikan kedua tangannya ke hadapan Amelia. “Kalau begitu tangkap saja aku. Aku juga pernah menjadi tersangka dan saat itu kau gagal menangkapku,” jawab Gabriel membuat Amelia menghela nafas, suaminya benar-benar berubah menjadi seorang pelawak.
Karena menyadari tak ada gunanya berbicara dengan Gabriel, Amelia berbalik dan memutuskan untuk melihat putranya. Namun baru saja ia berbalik, langkahnya terhenti ketika Gabriel menarik tangannya. Hingga Amelia terjatuh di dalam pangkuannya.
“Gabriel!” pekik Amelia saat ia terududuk di pangkuan suaminya.
“Maaf, aku memang menyuruh Daddy, untuk menggunakan koneksinya agar kau bisa cuti kembali. Aku ingin mengajakmu berbulan madu.” Pada akhirnya, Gabriel jujur pada Amelia, membuat Amelia terperanjat kaget kemudian melihat ke arah Gabriel.
“Bulan madu?” ulang Amelia.
“Gabriel , kita bukan pengantin baru, Kenapa kita harus berbulan madu. Kita sudah mempunyai dua anak dan ...
“Aku ingin berbulan madu denganmu. Dan setelah bulan madu, aku harus pergi ke Italia, dan aku tak bisa mengajakmu.”
Mendengar ucapan Gabriel yang akan pergi, Amelia langsung menunduk. Matanya sudah memanas. Tiba-tiba, dadanya terasa sesak ketika membayangkan Gabriel akan pergi.
Sedangkan Gabriel mengulum senyumnya saat melihat ekspresi Amelia. Padahal, Ia tidak akan pergi ke Italia. Ia hanya sedang mengerjai istrinya, dan ingin melihat reaksi Amelia.
“Bagaimana, apakah kau mau berbulan madu?” tanya Gabriel. Amelia menggeleng.
“Kenapa kau tidak mau pergi?” tanya Gabriel lagi. Hatinya bersorak, ketika Amelia tetap tertunduk.
“Aku tidak mau berbulan madu, aku juga tidak mau kau pergi,” jawab Amelia dengan lirih Bahkan suaranya sangat pelan.
__ADS_1
Saat menjadi mafia senjata, Gabriel pernah tinggal di Italia, dan dunia mafia tak jauh dari wanita, alkohol dan yang lain-lain. Amelia takut, Gabriel akan tergoda dengan wanita lain, membayangkannya saja membuat Amelia tak bisa bernafas.
“Tapi aku harus pergi Amelia, ada perjalanan bis ....” ucapan Gabriel terputus, ketika Amelia memeluknya, membuat Gabriel bersorak kegirangan.
“Tak boleh, kau tak boleh pergi,” ucap Amelia lagi. Padahal, tadi ia kesal karena Gabriel ia harus kembali cuti.
Tapi, saat mendengar Gabriel akan pergi, Amelia di rasuki ketakutan yang luar biasa, hingga ia menyingkirkan gengsinya, dan memeluk Gabriel, serta memberanikan diri untuk melarang suaminya.
Saat Amelia memeluknya, diam-diam Gabriel tersenyum sumringah, fantasi liar sudah menari-nari di otaknya.
“Baik, aku takan pergi, tapi ....”
Mendengar ucapan suaminya, Amelia langsung melepaskan pelukannya. “Kenapa kau menangis?” tanya Gabriel saat melihat mata Amelia yang memerah. Bahkan, sudut matanya sudah berair.
“Gabriel, jangan pergi!” pinta Amelia dengan semburat malu-malu.
Gabriel tampak terdiam, seolah dia sedang berpikir, tentu saja ia hanya berpura-pura berpikir.
“Baik, aku akan Takan pergi. Tapi, aku ingin meminta hakku," ucap Gabriel, membuat mata Amelia membulat .....
Amelia ....
Ga komen besok up satu bab hahahahaha
Jangan lupa mampir ke kisah Gabby ya. udah masuk part-part menegangkan di sana.
Cus kepoin lapaknya di judul Dokter Meets Ceo
__ADS_1