Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
270


__ADS_3

"Paman bisakah anda menyetir lebih cepat?" pinta Simma saat berada di dalam taxi yang sedang di naikinya. Supir taxi itu menghela napas, lalu melihat Simma dari kaca depan.


"Apakan anda tak ingin mengobati luka anda terlebih dahulu ke rumah sakit?" tanya supir tersebut, membuat Simma tersadar. Ia langsung memegang keningnya, yang masih mengeluarkan darah.


Saat tau Stuard tak bisa hadir ke sekolah Gabby dan Gabriel, gangguan panik kembali menyerang Simma, ia langsung membawa mobil seorang diri.


Bayang-bayang kesedihan Gabby dan Gabriel karena Stuard tak datang menari-nari di otaknya. Ia menjalankan mobil dengan kecepatan penuh, pikirannya hanya secepatnya sampai di sekolah putra putrinya. Dan karena ia menyetir dengan panik, ia menabrak pembatas jalan, hingga kepalanya terbentur dan mengeluarkan darah segar.


Ia tak perduli dengan kondisinya, ia meninggalkan mobil dan juga polisi yang membantu mengevakuasinya, ia membiarkan polisi untuk mengurus mobilnya, sedangkan ia langsung menaiki taxi.


Gabby dan Gabriel sudah sangat terpukul dengan sikap Stuard, dan Simma tak bisa membayangkan, betapa hancurnya lagi perasaan kedua anak kembarnya saat Stuard tak bisa hadir.

__ADS_1


Simma tak memperdulikan rasa sakit di kepalanya. Di pikirannya adalah bertemu Gabby dan Gabriel secepatnya, memeluk mereka. Agar mereka tak terlalu kecewa.


"Paman, apa paman mempunyai tisyu?" tanya Simma, pada supir taxi tersebut. Supir itu pun mengangguk, lalu mengambil tisyu dan memberikannya pada Simma.


Sejenak, Si mma menyenderkan kepalanya ke jendela, ia mengelap darah di keningnya, kemudian memejamkan matanya, meresapi perih yang menjalar dalam dada.


Stu, sebenci itukah kau pada kedua anakku hingga kau memberi luka pada mereka bertubi-tubi.


Saat sampai di gerbang sekolah Gabby dan Gabriel, Simma langsung berlari. Kelas Gabby dan Gabriel kosong, hingga Simma langsung mencari-cari kedua anak kembarnya.


Tak lama terdengar suara riuh dari arah lapangan, Dengan cepat, Simma berlari ke arah lapangan tersebut.

__ADS_1


Napas Simma terasa memendek, rongga dadanya kembang kempis, oksigen terasa tercekat di tenggorokan hingga rasanya, ia kesulitan bernapas. Dadanya sesak kala melihat Gabby dan Gabriel terdiam di sisi lapangan, sedangkan semua siswa sudah masuk kedalam lapangan bersama ayah mereka.


"Gabby ... Gabriel!" panggil Simma ketika sudah dekat dengan Gabby dan Gabriel, membuat Gabby dan Gabriel langsung menoleh.


Sungguh, pemandangan di depannya begitu menyayat hati Simma. Ia melihat mata Gabby dan Gabriel sudah memerah, pertanda mereka baru saja menangis, atau sedang menangis.


"Mommy!" panggil Gabby dan Gabriel secara bersamaan. Kedua anak kembar itu langsung bangkit dari duduknya dan berhambur memeluk kaki Simma.


"Tak apa-apa, Sayang. Jangan menangis," ucap Simma saat Gabby dan Gabriel menangis di kakinya. Ia mengelus rambut kedua anak kembarnya seraya menahan tangisnya.


"Mommy ayo kita pulang," ajak Gabriel. Rasanya bocah kecil itu sudah tak sanggup, melihat situasi di sekolahnya, situasi ketika para teman-temannya sedang tertawa di lapangan bersama ayah mereka. Sedangkan mereka, hanya mampu terdiam, tanpa bisa merasakan keseruan yang sedang berlangsung.

__ADS_1


"Ayo, kita cari paman Arter terlebih dahulu," jawab Simma. Ia menuntun tangan Gabby dan Gabriel secara bersamaan, dan berjalan ke arah parkiran untuk mencari supir yang biasa mengantar Gabby dan Gabriel.


__ADS_2